Sastra, Politik, dan Media Massa di Sumbawa
Sastra, Politik, dan
Media Massa
Pada tahun 2013, Sapardi Djoko Damono
dalam makalahnya di Jurnal Kalam #25 menyebutkan
dua poin penting mengenai sastra dan media. Pertama; “Perkembangan sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan
perkembangan penerbitan; sejak awal, dalam berbagai penerbitan disediakan ruang
bagi sastra, khususnya puisi.” Dan yang kedua: “Sejak awal perkembangannya, sastra Indonesia berkembang di Koran atau
majalah.” Ini menunjukkan betapa pentingnya peran media massa dalam perkembangan
kesusastraan. Pertanyaannya kemudian, apakah hal ini juga terjadi di Sumbawa?
Apakah media massa sudah berperan dalam perkembangan sastra kita?
Judul di atas akan menunjukkan kaitan
antara media massa dan sastra Sumbawa. Untuk memulainya, kiranya saya akan
menunjukkan bahwa salah seorang sastrawan Sumbawa, Dinullah Rayes, karyanya
terbentang di berbagai media seperti Kompas,
Republika, Surabaya Post, Bali Post, dan banyak lagi. Saya sendiri berfikir
bahwa hal itu mungkin dikarenakan pada masa itu media massa di Sumbawa masih
belum berkembang. Namun, setelah membaca antologi puisi Dari Orkestra Cinta Hingga Pesta Cahaya yang merupakan bunga rampai
prosa dan puisi Din Rayes beserta penyair – penyair Sumbawa lainnya tak
ditemukan pula karya dalam bunga rampai tersebut yang pernah dimuat oleh media
lokal Sumbawa. Fakta tersebut menunjukkan bahwa media massa masih belum cukup
memiliki peran dalam perkembangan sastra Sumbawa. Tak heran jika perkembangan
sastra Sumbawa memang masih belum cukup baik. Pengamatan terakhir yang saya
lakukan pada sebuah media, saya menemukan bahwa memang tidak ada rubrik khusus
untuk karya sastra di media massa tersebut. Sementara pada media yang lain
rubrik sastra ‘timbul tenggelam’.
Lalu apa kaitan semua itu dengan
politik? Media massa dan Politik tentu sudah sangat terkait, begitupun karya
sastra. Banyak karya sastra yang merepresentasikan fakta sosial politik yang
terjadi di lingkungan sekitar. Hal ini bisa dilihat dalam karya – karya Sujiwo
Tejo yang sering dimuat di Kompas,
atau karya besar Pramoedya Ananta Toer. Pada masa Orde Baru, karya – karya
Pramoedya dicekal karena secara politis dianggap berseberangan dengan penguasa.
Semua keadaan di atas kemudian berimbas
pada kurang beragamnya dialektika politik yang diterima masyarakat pembaca
media. Selama ini audiens dari media dicekoki informasi – informasi politik
yang selalu bersumber dari pelaku dan pengamat politik. Sementara pandangan
seniman dan sastrawan terhadap politik sangat sedikit terpublikasi.
Apakah ini merupakan tindakan politik
dari media? Sebagaimana kita tahu bahwa Media massa seringkali kenetralannya
dipertanyakan masyarakat umum pada masa – masa penting perpolitikan. Jadi,
apakah kurang apresiastifnya media terhadap kesusastraan yang dibuktikan dengan
sedikitnya ruang untuk sastra dalam media – media Sumbawa merupakan tindakan
politis? Mungkin saja tidak. Kemudian apakah para sastrawan atau masyarakat
yang memiliki minat sastra tidak berfikir dan merasakan dinamika politik? Lebih
mungkin lagi untuk tidak. Karena itu, besar kemungkinan sastrawan atau
masyarakat yang memiliki minat berkarya dalam hal sastra untuk menuangkan
pandangan politiknya lewat sastra. Karya sastra tidak sekedar bentuk ekspresi,
ia juga memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Oleh sebab itu
perlu media yang dapat menyebarkan pesan ekspresi tersebut. di sinilah peran
media massa. Yang mana kemudian dapat menyemarakkan dialektika politik.
Kesimpulan dari semua ini adalah
bahwa media massa Sumbawa perlu memberi ruang pada kesusastraan Sumbawa, sebab
hal ini dapat membuka peluang dialektika politik yang lebih kaya dan beragam.
Dengan adanya dukungan dari media massa, selain dialektika politik yang menjadi
lebih beragam, tentu saja dapat menjadi pendukung utama bagi perkembangan
kesusastraan Sumbawa yang rasanya masih lesu. Media massa pun dalam hal ini
tentu dapat keuntungan. Media massa tentu mendapat pembaca – pembaca baru yang
berminat pada kesusastraan.