Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2015

5 hal yang akan dilakukan John Lennon jika masih hidup

Gambar
5 hal yang akan dilakukan John Lennon jika masih hidup             Dewasa ini, nama John Lennon sudah demikian akrab dalam kajian – kajian soal musik, bahkan dalam kajian politik, terutama jika bicara pergerakan. Jauh setelah kematiannya, karyanya masih bertengger di daftar lagu – lagu terbaik sepanjang masa. Pemikiran – pemikirannya masih saja dilontarkan dalam pergerakan – pergerakan perdamaian anti perang. Yang terus memupuk kekaguman pada John Lennon adalah pemikirannya, baik yang dituangkan melalui karya (musik) maupun lewat aksi langsung. Seperti pemikiran banyak orang – orang besar lainnya, pemikiran John Lennon seperti anti basi, gak ada matinya! Coba kita telisik, dewasa ini, Marxisme yang merupakan pemikiran seorang Karl Marx mulai banyak diragukan, banyak orang yang menganggap pemikiran Marx sudah tak relevan lagi untuk didiskusikan di abad ini. Mungkin tidak relevan juga membandingkan Lennon dengan Marx yang sejarahnya l...

Rencana Menelusuri dan menyusun Falasafah Samawa

Rencana menelusuri dan menyusun Falsafah Samawa Pada suatu  ketika, saat hendak mencari referensi untuk mata kuliah Filsafat Komunikasi  di Internet, saya menemukan sebuah paper yang ditulis Ferry Hidayat berjudul Pengantar Menuju Filsafat Indonesia. [ http:www.academia.edu/3647863/Pengantar_Menuju_Filsafat_Indonesia ] Adalah M. Nasroen yang pertama kali mempelopori Kajian Filsafat Indonesia di dekade 60-an. Karya M. Nasroen dimasukkan dalam salah satu koleksi buku langka Perpustakaan Nasional RI. Dalam jurnal tersebut terdapat saran mengenai topik kajian Filsafat Indonesia, salah satunya filsafat etnik. Dalam topik filsafat etnik itu disebutkan beberapa sub-topik di antaranya Metafisika dalam Budaya Jawa, Metafisika dalam Budaya Bali, Metafisika dalam Budaya Lombok, dll. Karena dalam saran kajian itu tidak ada filsafat Sumbawa, saya jadi berkeinginan untuk menyusun sebuah literatur mengenai filsafat Sumbawa. Falsafah samawa itu tertuang dalam banyak sendi kehidupan masyaraka...

Semiotika SAMBAVA; Sebuah Manifesto Kebudayaan

Gambar
Review Album Sambava ini sengaja dijadikan postingan perdana Blog sebagai penanda Berbicara tentang musik tradisional, akarnya terlalu jauh memang untuk ditelusuri. Tapi jika kita ingin berbicara tentang musik tradisional yang coba dipadukan dengan music modern, terutama di Indonesia, kita bisa mulai dari gebrakan yang dilakukan Indonesian All Star yang terdiri dari Jack Lesmana dan kawan-kawannya di tahun 1967. Berkolaborasi dengan Tony Scott, musisi Jazz asal Amerika, Jack Lesmana dan grupnya bertolak ke Berlin untuk sebuah festival dan kemudian merekam album berjudul Djanger Bali.             Album Djanger Bali ini menyuguhkan musik jazz, namun kental akan musik tradisional Indonesia seperti Suling di lagu Gambang Suling dan Burung Kakak Tua, kemudian paduan jazz dan nembang ala jawa di lagu ilir-ilir. Album ini adalah sebuah pertemuan barat dan timur, an east meet west concept. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan, mungkin sul...