Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Merasakan Kolaborasi Rasa | Sambava Art Space 1st Anniversary Review

Gambar
Merasakan Kolaborasi Rasa | Baper Abis ! 3agustus16 plackeinstein S urprised! adalah kata yang harus saya ucapkan ketika merasakan suguhan kesenian teman – teman dari Sambava Art Space pada malam perayaan 1 st anniversary mereka. Sejauh perjalanan saya merasakan suguhan kesenian (yang sama sekali tidak panjang) baru kali ini saya merasa harus mengeluarkan kata itu dari perbendaharaan kata. Bukan apa – apa, sebagai orang yang boleh dibilang cukup sering (untuk memperindah kadang - kadang ) nongkrong bareng pentolan – pentolan Sambava Art Space , saya pun sering ber diskusi kebudayaan (menjiplak perkataan Iqbal Sanggo) dengan mereka , dan lebih sering lagi mencuri dengar apa – apa yang mereka bicarakan, termasuk perihal perayaan anniversary kemarin. Meski sudah mendengar konsep dan bayangan pertunjukannya, toh saya tetap merasa surprised! Saya tak punya kapasitas dan tentu saja tak pantas untuk menilai, tapi sebagai penikmat saya fikir saya boleh merasa. Untuk itu, saya per...

Berbuka (tanpa lah) dengan Joni Lemot | Ngobrol tentang Puasa di Penghujung Ramadhan

"Berbukalah dengan yang manis" Maghrib tadi saya berbuka dengan Joni Lemot, sohib saya yang tampangnya manis, persis pemain bola Prancis, Antoine Griezmann. Tapi kalau anda berbuka dengan yang manis macam  Liv Tyler,. hati - hati,. apalagi berdua. Tau Joni Lemot? Itu loh,. yang dulu punya kedai kopi Goal Loam Fields Forever, yang sejak sibuk jadi TIMSES salah satu pasangan di pilkada lalu gak keurus. "Kematian seseorang, jadi jalan kelahiran orang baru. Begitu juga dengan Goal Loam Fields, Plack!! kan pasca Goal Loam Fields,  kedai - kedai pada menjamur di sini. Ane mah bukan orang serakah,. bagi ane udah cukup lah apa yang dikasih Tuhan, kan ane sebagai timses kemarin sukses, jadi ya kebagian 'jatah' tugas, Plack." komentar bang Joni saat saya tanya soal Goal Loam Fields. Obrolan kami jelang buka puasa panjang bin lebar,. meski gak bisa bahas rokok dan belahan dada, karena puasa. Yang menarik, pas bang Joni Lemot mengeluh soal malam Lailatul Qadar...

MENCURI ROTI DARI MULUT DEKADENSI

Gambar

Sastra, Politik, dan Media Massa di Sumbawa

Sastra, Politik, dan Media Massa Pada tahun 2013, Sapardi Djoko Damono dalam makalahnya di Jurnal Kalam #25 menyebutkan dua poin penting mengenai sastra dan media. Pertama; “ Perkembangan sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan penerbitan; sejak awal, dalam berbagai penerbitan disediakan ruang bagi sastra, khususnya puisi.” Dan yang kedua: “ Sejak awal perkembangannya, sastra Indonesia berkembang di Koran atau majalah. ” Ini menunjukkan betapa pentingnya peran media massa dalam perkembangan kesusastraan. Pertanyaannya kemudian, apakah hal ini juga terjadi di Sumbawa? Apakah media massa sudah berperan dalam perkembangan sastra kita? Judul di atas akan menunjukkan kaitan antara media massa dan sastra Sumbawa. Untuk memulainya, kiranya saya akan menunjukkan bahwa salah seorang sastrawan Sumbawa, Dinullah Rayes, karyanya terbentang di berbagai media seperti Kompas, Republika, Surabaya Post, Bali Post, dan banyak lagi. Saya sendiri berfikir bahwa hal itu mungkin...

Tentang Pengaruh | sebuah bab dari Ubiquitous

Pengaruh Tahun – tahun telah berlalu,. Zvonimir telah tumbuh dewasa, menjelma penggerutu ia. Suatu malam, di kedai kopi Zvonimir tengah memuaskan syarafnya dengan Kafein. Seorang pelanggan lain yang duduk di sebelah Zvonimir bercakap – cakap dengan pelayan yang meracik dan menyajikan kopi di kedai itu. “10 tahun sudah reformasi, masih banyak yang harus dirubah.” Kata si pelayan disambut anggukan si pelanggan yang duduk di sebelah Zvonimir. Pelanggan itu tampaknya enggan untuk berbincang. Zvonimir yang mendengar ucapan si pelayan itu kemudian menanggapi, “Memangnya apa yang sudah dirubah?” katanya setelah menyeruput kopi. pelayan dan pelanggan itu  menoleh ke arah Zvonimir yang kemudian melanjutkan perkataannya tanpa menatap mereka, tatapannya hanya pada cangkir kopi “Tak ada yang dirubah atau berubah,. Semua itu dibiarkan untuk berubah, dibiarkan untuk dirubah. Untuk apa? Agar mereka yang berada di panggung kekuasaan tetap nyaman,. tak ada yang memprotes.” Berjarak beb...

Respon terhadap tagar #KamiTidakTakut

Sesudah tagar #PrayForParis menjadi tren pasca serangan bom di Paris, tren tagar #PrayForJakarta meledak menyusul serangan bom yang meledak di Ibukota Indonesia, Jakarta. Secara cepat di sosial media tagar ini terus berkembang jadi tagar #KamiTidakTakut. Yang mengherankan bagi saya, aroma setiap ciutan dan koar - koar di media sosial yang dibumbui tagar #KamiTidakTakut itu baunya rada aneh, plus mencurigakan. Entahlah... Media seperti televisi juga turut mempopulerkan tagar yang konon merupakan bentuk dukungan terhadap korban dan proklamir respon terhadap seranga bom yang katanya dilakukan teroris. Masyarakat, sepertinya memang tidak takut, tapi kaget dan terkejut. Itulah respon awal yang tepat. tapi kemudian muncul tagar #KamiTidakTakut tentu saja ditujukan kepada terorisme. Boleh dikatakan seperti itu bukan,? bahwa Tagar #KamiTidakTakut dilontarkan kepada terorisme. yang jadi persoalan, bagi saya itu tadi... Aroma dari tagar ini mengandung aroma aneh.. Rasanya saya menc...