Rencana Menelusuri dan menyusun Falasafah Samawa
Rencana menelusuri dan menyusun Falsafah Samawa
Pada suatu ketika, saat hendak mencari referensi untuk mata kuliah Filsafat Komunikasi di Internet, saya menemukan sebuah paper yang ditulis Ferry Hidayat berjudul Pengantar Menuju Filsafat Indonesia. [http:www.academia.edu/3647863/Pengantar_Menuju_Filsafat_Indonesia] Adalah M. Nasroen yang pertama kali mempelopori Kajian Filsafat Indonesia di dekade 60-an. Karya M. Nasroen dimasukkan dalam salah satu koleksi buku langka Perpustakaan Nasional RI. Dalam jurnal tersebut terdapat saran mengenai topik kajian Filsafat Indonesia, salah satunya filsafat etnik. Dalam topik filsafat etnik itu disebutkan beberapa sub-topik di antaranya Metafisika dalam Budaya Jawa, Metafisika dalam Budaya Bali, Metafisika dalam Budaya Lombok, dll. Karena dalam saran kajian itu tidak ada filsafat Sumbawa, saya jadi berkeinginan untuk menyusun sebuah literatur mengenai filsafat Sumbawa.
Falsafah samawa itu tertuang dalam banyak sendi kehidupan masyarakat samawa sejak dulu. Untuk menyusunnya menjadi sebuah literature bermutu, mungkin perlu metode penelitian sosial, antropologi budaya, dan penelitian – penelitian yang harus menggali detil – detil sejarah tana samawa. Sesuatu yang sulit dilakukan seorang diri dan oleh seorang yang masih miskin pengalaman seperti saya. Falsafah samawa itu penting, terutama untuk tau dan tana samawa. Agar kita semakin mengenal identitas dan semakin otentik. Ciri khas falsafah samawa tertuang dalam tata cara bermasyarakat,tata kepemerintahan zaman kerajaan, dalam kesenian – keseniannya, dsb.
Apa yang terkandung dalam lawas – lawas samawa, dalam tradisi ngumang, dalam ritual – ritual adat perkawinan, dan ritual – ritual adat lainnya. Banyak hal yang perlu disusun secara rapi untuk menjadikannya sebagai sebuah literatur yang bagus. Yang dengan literature itu, bukan tidak mungkin akan menjadi kajian utama studi muatan lokal dalam pendidikan kita di samawa. Bisa diaplikasikan di pendidikan menengah, maupun pendidikan dasar, dengan catatan pembagian yang baik dalam kajiannya. Ini perlu ditelusuri sebagai upaya penemuan kembali identitas samawa yang semakin mengabur di tengah arus globalisasi.