Semiotika SAMBAVA; Sebuah Manifesto Kebudayaan

Review Album Sambava ini sengaja dijadikan postingan perdana Blog sebagai penanda

Berbicara tentang musik tradisional, akarnya terlalu jauh memang untuk ditelusuri. Tapi jika kita ingin berbicara tentang musik tradisional yang coba dipadukan dengan music modern, terutama di Indonesia, kita bisa mulai dari gebrakan yang dilakukan Indonesian All Star yang terdiri dari Jack Lesmana dan kawan-kawannya di tahun 1967. Berkolaborasi dengan Tony Scott, musisi Jazz asal Amerika, Jack Lesmana dan grupnya bertolak ke Berlin untuk sebuah festival dan kemudian merekam album berjudul Djanger Bali.

            Album Djanger Bali ini menyuguhkan musik jazz, namun kental akan musik tradisional Indonesia seperti Suling di lagu Gambang Suling dan Burung Kakak Tua, kemudian paduan jazz dan nembang ala jawa di lagu ilir-ilir. Album ini adalah sebuah pertemuan barat dan timur, an east meet west concept. Apa yang sebenarnya ingin disampaikan, mungkin sulit ditebak. Yang menarik adalah keberadaan musik tradisionalnya. Apalagi di era sekarang, hal ini cukup menarik untuk dibahas.

            Meski Indonesia dianugerahi keragaman instrumen musik tradisional, tidak terlalu banyak musisi yang berani membawa elemen musik tradisional ke ranah yang lebih modern dan ngepop, konon ini dikarenakan sulitnya membaurkan tangga nada pentatonik dari instrument tradisional dengan kord – kord diatonik.

            Baru – baru ini di Sumbawa, sebuah album musik yang juga berkonsep east meet west dirilis, ialah Iqbal Sanggo,dkk yang menjadi pelakunya. Album itu sendiri diberi judul SAMBAVA.
Album ini berbicara tentang cinta, pengalaman, dan yang terpenting adalah kebudayaan. Karya yang secara musikal tak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya ini menarik ditilik tak hanya dari segi musikalitasnya saja, tapi juga dari kaca mata semiotika (terutama bagi penulis).

            Semiotika mengkaji tanda – tanda yang ada dalam masyarakat, tanda tak hanya simbol – simbol visual, di samping itu, bahasa juga merupakan sistem tanda. Apa kaitannya dengan album musik sudah jelas, lirik yang didendangkan dalam lagu adalah bahasa. Apa yang hendak disampaikan melalui album ini? Itulah yang menarik.

            Salam pembuka album ini adalah Sambava sebuah lagu yang berjudul sama dengan judul albumnya, berbicara tentang tana samawa yang konon gaungnya begitu harum, saya sendiri sempat berfikir hal ini adalah pernyataan atau pertanyaan? Tapi song writer-nya langsung menyanggah bahwa ini adalah pernyataan. Masih dalam lagu ini, Iqbal Sanggo sendiri menyatakan bahwa lagu ini adalah pernyataan tentang balongnya samawa (balong berarti baik), sekaligus didalamnya terdapat kritikan juga ajakan. Kritikan tersirat dalam pernyataan tentang balong tadi, bahwa memang tau samawa (orang Sumbawa) seperti tak punya integritas, “kita mengaku baik, tapi pada kenyataannya baik itu cukup jauh dari kita”. Tak berhenti di situ, sekalian saja pernyataan, kritik dan ajakan tersebut ada dalam satu paket. Sebuah karya 3 in 1 nampaknya. Memang sulit, tapi setelah ditelaah, pernyataan tadi yang juga merupakan kritikan, adalah sebuah ajakan untuk menjadi baik, karena memang setelah sebuah pernyataan, mengapa tidak untuk sekalian saja berlaku baik. Ajakan ini ditandai oleh beat yang menghentak dalam lagunya. Tapi sekali lagi, ini tak sekedar musik, ada pesan yang disampaikan.

            Sebuah Manivesto Kebudayaan lewat album musik? Ya, mengapa tidak! Baru sebuah lagu saja ditelaah, telah mengajarkan kita tentang bagaimana bersikap. Dalam lagu Panyomo, yang secara harfiah diartikan sebagai cara bersyukur kata Iqbal Sanggo, berisi keprihatinan atas eksploitasi alam yang tak berfikir panjang, asal pakai tanpa berfikir ke depan. Lewat lirik mana hujan barat siwa, lamin sala si panyomo, no kawan kenang bajarip / mana ai adal subuh, lamin balong si panyomo, tu kenang maning kawan si begitu jelas kritikan tentang cara kita bersikap atas anugerah tuhan berupa alam yang kaya yang dieksploitasi tanpa memikirkan untuk kehidupan generasi mendatang. Nafas aktifis dari Iqbal Sanggo masih terasa, bahkan dalam karya seninya. Lirik tadi kira – kira bermaksud begini; meskipun besar/banyak anugerah yang diberikan, pabila salah cara disyukuri, untuk membasuh muka saja tak cukup, sebaliknya jika benar cara mensyukuri, meski sekedar embun pagi, bahkan untuk mandi sekalipun akan cukup. Sekali lagi, ini tak hanya kritikan, sekaligus juga sebuah ajakan untuk sadar akan bagaimana kita bersikap terhadap anugerah tuhan.

            Mungkin anda masih belum yakin bahwa ini sebuah manivesto, dua masih kurang barangkali. Yang ketiga, akan saya suguhkan pada anda sebuah kesadaran dari grup ini akan eksistensi suatu kaum, dalam hal ini tau dan tana samawa, atau sekalian saja Indonesia. Eksistensi suatu kaum / kelompok akan hancur tanpa regenerasi, atau jika terlambat sadar akan sulit untuk dibangun kembali. Mari kita tinjau dari hal kecil seperti tim sepakbola. Regenerasi yang dilakukan tim sepakbola tak lain untuk menjaga eksistensinya, bagaimana Barcelona, melakukan regenarasi lewat La Masia, atau Liverpool lewat Mellwood. Mereka menjaga eksistensi lewat regenerasi. Mencari bakat – bakat muda untuk kemudian diasah dan dapat menjaga eksistensi tim di masa depan. Lewat lagu Guar Tangar, Iqbal Sanggo dkk. Mengajarkan pada pemuda sebagai generasi yang akan menjaga eksistensi kaumnya di masa mendatang tentang bagaimana semestinya bersikap. Pemuda, seharusnya belajar dan belajar untuk kebaikannya, juga kaumnya di masa depan. Dan dalam proses panjang itu, meski diterjang banyak rintangan anda sebagai pemuda harusnya menanamkan dalam dirinya sikap pantang menyerah untuk menggapai ilmu pengetahuan yang menghampar-hampar, demi eksistensi samawa di masa mendatang. Itulah yang tersirat dalam lirik Ajar ate gama na, luk si guar tangar!
Satu nomor menarik berjudul Damar Kurung menyoroti realita sosial yang unik dan sering terjadi di sekitar kita. Damar Kurung sendiri berarti Cahaya yang tak bersinar, atau Bersinar tapi tak menyinari. Orang – orang memiliki potensi, tapi tak sadar akan potensinya, tak sadar bahwa potensi tersebut dapat bermanfaat bagi sekitarnya, itulah Damar Kurung.

Anda bisa hanyut terbawa suasana romantika oleh tembang seperti Kemang Lala dan No Bosan. Silahkan bergoyang dan tertawa mendengar kisah Jones (Jomblo Ngenes) dalam lagu Bulung yang bercerita tentang kerinduan seorang laki – laki akan kehadiran seorang kekasih hati. Terakhir, jika saja Rolling Stone Indonesia melakukan review pada album ini, saya rasa mereka akan memberikan rating 3,5 dalam skala 1 – 5.

Paling Jungkir Balik

Filsafat Tidur

Forever 27 Club; Chairil Anwar dan seorang lagi dari Indonesia