Ahli asal - asalan di sekitar kita

Ahli asal – asalan di sekitar kita
            
Pada sebuah momen wawancara yang saya lakukan dengan salah seorang budayawan (tak perlu disebutkan namanya) tentang sejarah kebudayaan Sumbawa, tepatnya saat pembukaan festifal moyo 2014, saya benar – benar mendapat sebuah inspirasi, meskipun inspirasi itu datang belakangan. Wawancara itu sendiri, yang niatnya akan dijadikan konten majalah kampus, gagal terbit. Inspirasi itu akan saya tuang di tulisan ini.
            
Saya merasa ada kecenderungan tindakan asal – asalan dari para ahli kita, sebut saja budayawan, yang mestinya paham soal budaya, tapi malah terkesan asal – asalan tanpa totalitas, totalitas dalam mendalami bidangnya tentunya. Jika seorang ahli tidak benar – benar paham secara mendalam dalam bidangnya, bagaimana dengan masyarakat awam?
            
Saat itu, saya bertanya mengenai kebudayaan Sumbawa, mulai dari sejarah, perkembangan, sampai kemudian usaha – usaha yang dilakukan untuk melestarikan. Saya mendapat penjelasan dari beliau tentang kebudayaan Sumbawa yang dipengaruhi Bugis, dalam hal ini kerajaan Goa – Tallo pada abad ke-16. Yang menjadi permasalahan adalah, ketika saya membaca buku Fakta – Fakta Tentang Samawa  karangan Manggaukang Raba (2002) saya menemukan pada bab Sejarah Tana Samawa bahwa pengaruh Jawa di Tana Samawa sudah dimulai sejak Kerajaan Dewa Awan Kuning, tepatnya sejak Dewa Batara Sukin melakukan hubungan dengan Raja Majapahit tahun 1331 – 1364. Masih dalam buku Manggaukang Raba, disebutkan bahwa petinggi Kerajaan Samawa pernah berangkat ke pusat Kerajaan Majapahit, disambut oleh Raja Majapahit didampingi oleh Patih Gajah Mada. Dikatakan bahwa Majapahit menanamkan pengaruhnya selama 3 abad sampai abad ke-16. Pengaruh – pengaruh majapahit antara lain seperti tata cara bercocok tanam yang menetap, yaitu pembuatan sawah dan ladang. Pengaruh kebudayaan hindu (Majapahit kerajaan Hindu) dapat dilihat dari situs Batu Gong. Sementara pengaruh Goa-Tallo baru masuk pada abad ke-16.

Memang benar, sejarah mencatat bahwa pengaruh terbesar pada Samawa adalah dari Kerajaan Goa-Tallo. Dan saya tidak tahu mana yang benar antara data tertulis yang saya baca atau data yang saya dapatkan dari wawancara. Tapi, saya cenderung meyakini data yang saya baca. Itulah sebabnya saya menulis artikel ini. Yang saya ingin sampaikan adalah; jika seorang budayawan memberikan data kepada kita para generasi muda dengan data yang (maaf) kurang tepat, apa jadinya kami para generasi muda?

Kemudian saya bertanya – tanya, apa kiranya tujuan adanya instansi pemerintah yang namanya mengandung kata Kebudayaan ? bukankah Festival Moyo diadakan salah satunya bertujuan melestarikan budaya? Untuk siapa pelestarian itu? Bukankah untuk generasi muda? Tapi kita generasi muda malah disuguhkan data yang membingungkan. Untung saja wawancara itu tidak pernah terbit, jadi kerancuan data hanya saya yang dapat, tidak lebih banyak. Inilah yang saya maksudkan dengan adanya kecenderungan asal – asalan tanpa totalitas dari para ahli kita. Dari kasus di atas (Budayawan), saya kemudian menarik hipotesa bahwa Budayawan kita (Sumbawa) adalah Budayawan Praktik, tanpa kualitas ilmiah di bidangnya. Hipotesa ini memang sebuah Penstereotipan. Tidak semuanya Budayawan kita seperti itu.

Jika ditelisik lagi, saya membaca banyak kasus seperti tadi di bidang – bidang lain, misalnya di dunia pendidikan. Pendidikan adalah unsur penting untuk kemajuan bangsa, terutama pendidikan dasar. Mestinya, para professor, doctor, tidak cuma ditempatkan di perguruan tinggi, tapi juga di SD, karena dasar yang akan membentuk bagaimana nantinya. Kalau di SD diajar sama sarjana thok, nanti Matematika cuma diajarkan tentang kepastian, padahal matematika tentang kesepakatan, tentang bahasa! Lagipula, tak jarang kita temui yang punya gelar Sarjana Pendidikan, tapi Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) masih Copy-Paste dari Internet.

Dunia Pendidikan kita, terutama pendidikan dasar dan menengah, dalam beberapa tahun belakangan ini diramaikan tak hanya oleh isu Ujian Nasional, tapi juga soal Guru Honorer yang sibuk dengan peningkatan status, Honorer, Sertifikasi, dan lain sebagainya yang berujung pada harapan menjadi PNS. Para guru, lebih sibuk mengurus berkas – berkas pengajuan peningkatan status mereka daripada mengajar anak – anak muridnya di kelas. Lagi – lagi tanpa totalitas. Silahkan anda mencari di buku, internet, atau mungkin bertanya pada orang yang anda anggap pandai tentang definisi guru. Asalkan anda tidak bertanya pada rumput yang bergoyang, jawaban yang akan anda dapatkan adalah orang yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain, bukan orang yang mengurus berkas pengangkatan status kepegawaian.

Pengangkatan status memang penting, tapi setelah mengajar. Mengajarlah dulu, baru mengurus berkas. Para guru memang mengajar, tapi sekali lagi tanpa totalitas. Mereka masuk ke kelas melaksanakan tugasnya seperti biasa; mengajar. Setelah memberikan materi pelajaran dan memberikan tugas, guru akan selesai tanpa memikirkan apakah siswa telah menerima pelajaran dengan benar, apakah siswa telah memahami materi pelajaran. Kemudian saya bertanya; apakah sebenarnya definisi pendidikan?

Satu lagi yang tak kalah penting untuk menunjukkan betapa asal – asalannya ahli di sekitar kita. Ahli kan tidak musti punya gelar pendidikan, sebaliknya yang punya gelar pendidikan mustinya ahli dong di bidangnya.. masak sudah belajar tapi tidak ahli. Sarjana – sarjana kita, bahkan Professor Doktor – Professor Doktor kita banyak yang mengecewakan. Sujiwo Tejo dalam buku Dalang Galau Ngetwit dengan telak menyindir Prof Dok di Indonesia. “Harusnya disertasi adalah karya awal atau inisiasi Doktor untuk penelitian – penelitian selanjutnya. Tapi tak jarang di Indonesia disertasi adalah karya terakhir Doktor.” Masih dalam buku yang sama, Sujiwo Tejo menyindir para Profesor yang justru buah pemikirannya tak ada, digambarkan oleh Tejo karya si Profesor berupa Paper/Makalah begitu bagus dan lengkap di bagian kutipan dan daftar pustaka, sementara pemikirannya sendiri tidak ada. Profesor dan Doktor yang bicara di Media, pendapatnya seharusnya berdasarkan penelitian termutakhirnya, bukan berdasar akal sehat! Sebab, kalau sekedar bicara akal sehat, kami para awam pun bisa. Kalau para Prof Dok di Indonesia saja sudah diragukan, apalagi di Sumbawa ini. Jangankan penelitian, menanggapi permasalahan terkini melalui tulisan di media saja para Profesor Doktor di Sumbawa ini jarang. Seharusnya lebih sering, sebab konten – konten di media adalah salah satu dari sekian banyak cara efektif melakukan edukasi kepada masyarakat.

Ada satu hal menarik lagi di sekitaran dunia pendidikan. Apa para Profesor tak pernah berfikir tentang kurikulum muatan lokal yang diajarkan di pendidikan dasar dan menengah? Berdasarkan pengalaman saya belajar di pendidikan dasar dan menengah di Sumbawa, saya tak mendapatkan pelajaran yang mendalam dari muatan lokal. Padahal, melalui pelajaran muatan lokal kita bisa mengedukasi siswa tentang seni dan kebudayaan lokal, dan yang terpenting ialah kearifan budaya lokal. Dengan menerapkan hal itu sejak dini, kita bisa berharap adik – adik kita mengenal identitas dirinya.

Lagi – lagi dari sebuah buku berjudul finding rumi yang saya dapat di tahun 2013, saya mendapat fakta betapa ahli – ahli kita (di Sumbawa) kurang cermat. Dalam buku itu tertuang sebuah pernyataan seorang tokoh dari Turki yang menyindir si penulis yang berasal dari Indonesia yang sibuk menerangkan tentang bagaimana pemikiran – pemikiran Indonesia yang banyak terpengaruh oleh filsuf dari luar, dengan santai si tokoh Turki bilang “mana pemikir Indonesia?”. Penelusuran saya kemudian menemukan bahwa Indonesia sebenarnya punya ciri yang khas, yang tidak barat, tidak arab dan tidak timur. Salah satunya yaitu pemikiran tentang demokrasi, demokrasi kita itu khas, demokrasi pancasila! Musyawarah mufakat! Ada juga filsafat jawa yang tergambar secara abstrak dalam lakon wayangnya, dalam alunan musik gongnya, dan sebagainya. Indonesia yang Plural, sebenarnya memiliki banyak ajaran pemikiran yang khas di masing – masing daerah. Hanya saja selama ini tak terbaca, dan karena tak terbaca, tak pernah pula disusun secara jelas dan tegas bahwa pemikiran – pemikiran khas itu ada.

Di Jawa sana, sudah ada usaha untuk melakukan hal itu seperti yang tertuang dalam Jurnal Ferry Hidayat berjudul Pengantar Menuju Filsafat Indonesia. [http:www.academia.edu/3647863/Pengantar_Menuju_Filsafat_Indonesia] Adalah M. Nasroen yang pertama kali mempelopori Kajian Filsafat Indonesia di dekade 60-an. Karya M. Nasroen dimasukkan dalam salah satu koleksi buku langka Perpustakaan Nasional RI. Dalam jurnal tersebut terdapat saran mengenai topik kajian Filsafat Indonesia, salah satunya filsafat etnik. Dalam topik filsafat etnik itu disebutkan beberapa sub-topik di antaranya Metafisika dalam Budaya Jawa, Metafisika dalam Budaya Bali, Metafisika dalam Budaya Lombok, dll. Karena dalam saran kajian itu tidak ada filsafat Sumbawa, saya jadi berkeinginan untuk menyusun sebuah literatur mengenai filsafat Sumbawa. Yang jadi persoalan, kemana Profesor dan Doktor kita di Sumbawa? Apa yang mereka lakukan, sampai tak kefikiran untuk membuat hal itu?

Akhir dari pernyataan saya ini adalah; jika para ahli tidak total mendalami bidangnya, kemudian dengan ketidak totalannya itu suatu waktu, entah lewat wawancara seperti yang saya alami, atau pada sebuah seminar mungkin, ia akan memberikan pembelajaran bagi generasi muda yang katanya adalah masa depan bangsa, dan apabila yang diwariskan hanyalah contoh yang tidak sedikit malah terkesan, maaf.. tak pantas, akan jadi apa bangsa kita esok lusa?