Filsafat Tidur
Filsafat Tidur
Ini filsafat, sebuah pemikiran mendalam, tapi perkara tidur. Tidur dalam arti sebenarnya, bukan sekedar tiduran membaringkan badan, tapi tidur lelap memasuki alam bawah sadar. Mendalam tapi ringan. Jika anda membacanya setengah – setengah, lebih baik tak usah dibaca sama sekali.
Sekali lagi, ini Filsafat, sebuah pemikiran mendalam tentang suatu hal yang cukup ringan. Saat manusia dalam keadaan tidur, boleh pula dikatakan saat memasuki alam bawah sadar, atau sekalian saja dalam keadaan tidak sadar, kita melepaskan semua beban, baik itu fisik maupun mental. Keadaan tanpa beban inilah yang paling nyaman kita rasakan. Percaya atau tidak, faktanya memang begitu.
Pada saat bekerja, tanpa merasa terbebani, itu membuat manusia merasa nyaman, dan keadaan nyaman itu membuat kita manusia bekerja efektif. Analis sepakbola sering berkata; saat seseorang bermain tanpa beban, kepercayaan dirinya meningkat, dan dia mampu mengeksplorasi kemampuannya yang terbaik. Bukan begitu? “Suarez bermain tanpa beban meskipun begitu banyak supporter yang berharap pada dia, dia begitu bebas berekspresi di lapangan, hasilnya dia bisa membawa Uruguay juara Copa America” begitu biasanya para pakar bola menganalisis permainan sepakbola.
Nah, dalam keadaan tidur, saat memasuki alam bawah sadar nan tanpa beban, atau bahkan tak sadar, manusia bisa melakukan hal – hal yang di saat dirinya sadar, tak bisa dilakukannya. Percaya? Coba kita telisik.
Saat kita (manusia) dalam keadaan sadar, hidup itu terasa sulit, begitu banyak beban yang kita rasakan. Katakan saja anak – anak, bagi pasangan suami – istri, (terkadang) adalah beban. Meski mereka (orang tua) bahagia dengan kehadirannya, tapi tak menutupi keadaan terbebani bagi orang tua. Memenuhi kebutuhannya begitu sulit. Para orang tua harus memenuhi kebutuhan makan, main, pendidikan, dan sebagainya. Sudah kewajiban orang tua memenuhinya. Kewajiban adalah sesuatu yang dibebankan kepada seseorang untuk dipenuhi.
Kita lihat contoh yang lain. Dalam kehidupannya, manusia hamper selalu didatangi masalah – masalah, dari yang terkecil seperti masalah cek – cok dengan pasangan, sampai masalah masyarakat yang menjadi beban fikiran seorang pemimpin dari masyarakat itu. Masalah – masalah yang menghampiri kita itu adalah beban, bukankah kita terbebani dengan itu? Atau setidaknya fikiran kita.
Itu di saat manusia dalam keadaan sadar, terbebani. Jika dalam keadaan tidur, tidak sama sekali. Presiden Jokowi, yang bebannya begitu besar, bayangkan! Memikirkan rakyat yang jumlahnya berjuta – juta, pastilah fikirannya terbebani, diberikan amanat yang begitu besar. Tapi saat tidur, beban itu hilang. Tidur pulas.. beberapa orang juga bisa ileran dan mendengkur tanpa beban dalam keadaan tidur, mungkin Pak Jokowi juga. (tertawa). Jadi, Living is easy with eyes closed.. Hidup itu mudah dengan mata terpejam (tidur) !!!
Maka dari itu, saya himbau untuk hidup tanpa sadar, meskipun disuruh sadar sama guru. Karena dengan keadaan tak sadar akan beban yang ada pada diri kita, kita bisa mengeksplor kemampuan kita sebaik mungkin. (tertawa)
Hidup memang mudah dengan mata terpejam (tidur). Beneran! Ini sudah saya buktikan di laboratorium (kamar tidur) saya. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, bahwa (sekali lagi) Living is easy with eyes close, dengan keadaan tak sadar, beban hilang, dan dengan keadaan tanpa beban, kita bisa mengeksplor diri kita sebaik mungkin. Tapi sungguh !!! dengan beban yang ada, yang nyangkut selalu di fikiran kita, tidur itu sulit.
Tidur, keadaan di mana kita merasakan hidup itu mudah, sangat sulit dicapai bagi mereka yang terbebani, bagi mereka yang punya banyak beban fikiran. Coba buka mata, lihat sekitar kita.. teman – teman kita yang lagi punya masalah, entah itu masalah apa, lebih – lebih masalah sama pasangannya. Bagi mereka, meski mereka sadar bahwa tidur itu adalah keadaan tanpa beban, keadaan yang nyaman, tapi bagi mereka, perjalanan menuju tidur itu lebih terjal dari sekedar terjalnya trek pendakian tambora, rinjani, atau mahameru.
Bagi orang – orang yang punya beban fikiran yang cukup berat, tidur itu tak semudah membalik telapak tangan yang jelas lebih mudah dari menulis tulisan ini. Lihat saja pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dari awal –sampai– akhir masa jabatannya, ukuran kantung matanya semakin besar saja (tanpa maksud melecehkan). Sepertinya, itu disebabkan kurangnya jam tidur beliau. Bayangkan saja, selama 10 tahun mikirin Indonesia yang penduduknya berjuta – juta, Indonesia yang korupsinya tak kunjung hilang, Indonesia yang gembong narkobanya tak kenal kapok, Indonesia yang acara televisinya tak bermutu-tak mendidik, Indonesia yang sepakbolanya punya dua kompetisi tertinggi, Indonesia yang industry musiknya masih banyak pembajakan, Indonesia yang ah..
Anda juga mungkin mengalami hal ini, merasa bahwa tidur adalah tempat dan keadaan ternyaman, tapi mau tidur pun sulit, begitu juga dengan saya.
