Forever 27 Club; Chairil Anwar dan seorang lagi dari Indonesia

Forever 27 Club; Chairil Anwar dan seorang lagi dari Indonesia

            Ada nggak sih, member 27 club yang orang Indonesia? Pertanyaan itu pernah dijawab oleh Almarhum Denny Syakrie dalam sebuah artikel, yang memunculkan nama Sastrawan Chairil Anwar sebagai anggota 27 Club dari Indonesia. Bagi Denny Sakrie, sosok Chairil Anwar yang begitu kuat komitmennya terhadap seni, khususnya seni sastra, adalah sosok seorang Rock Star yang mbalelo, lugas, tegas, tak mau diatur, berontak,.. bukan sekedar Sastrawan. Menarik sekali ketika membaca ulasannya di à [ https://dennysakrie63.wordpress.com/2013/04/29/chairil-anwar-juga-anggota-club-27/ ]

Bicara music, rock star, termasuk 27 club, selalu menarik bagi saya. Dan karena banyak membaca, saya akhirnya menemukan satu lagi sosok dari Indonesia yang pantas tergabung dalam 27 club. Tapi lagi – lagi, seperti yang dialami Denny Syakrie, yang saya temukan bukan musisi sebenarnya. Tapi tetap saja, sikap dan pribadinya sangat rock star! Slengean, lugas, tegas, berpegang pada prinsip, berontak, tak mau diatur.. dan yang lebih penting, ia juga mengalami masa – masa Flower Generation di Indonesia. Tokoh ini meninggal sehari sebelum ulang tahunnya yang ke 27. Tahun kematiannya juga sama dengan tahun kematian Brian Jones, Founder The Rolling Stones yang juga meninggal di usia 27 tahun, yaitu tahun 1969.

Kelompok ini (27 club) memang banyak dipandang negatif oleh orang – orang, tapi, jika saja orang berani mengenal lebih dalam tentang tokoh – tokoh 27 club, ada banyak hikmah yang dapat diperas dari kehidupan mereka.

Sebagaimana diketahui, 27 club adalah kelompok yang kemudian muncul setelah banyak musisi – musisi dunia mati di usia 27 tahun. Seperti dilansir Rolling Stone, hal ini bermula dari tanggapan orang – orang pada kematian musisi terkenal, Robert Johnsonpada 16 agustus 1938. Kematian Robert Johnson disebut – sebut karena meminum whiski yang telah diracuni seseorang. “Robert Johnson adalah Penyanyi Blues terbaik yang pernah ada”. Begitulah tanggapan dari Eric Clapton.

            Yang lebih gempar adalah ketika “Flower Generation” merebak di barat, saat – saat itu, tokoh music banyak yang mati di usia 27 tahun. Pendiri The Rolling Stones, Brian Jones ditemukan tewas tenggelam di kolam renang pada tanggal 2 juli 1969 tengah malam. Kematian Jones mengundang empati kawan – kawannya. Personil The Who, Pete Townshend menulis sebuah puisi berjudul “a normal day for Bryan,a man who died everyday ” yang dimuat di majalah The Times. Jimi Hendrix dan Jim Morrison tak ketinggalan, musisi yang juga anggota 27 club ini turut menunjukkan empatinya pada Jones. Jimmy Hendrix mendedikasikan sebuah lagu bagi Bryan Jones ketika tampil di stasiun televisi Amerika. Jim Morrison membuat sebuah puisi berjudul “Ode to L.A. While Thinking of Brian Jones, Deceased”.

Pada Era Generasi Bunga, Gitaris terbaik versi Majalah Rolling Stone, Jimi Hendrix menemui ajalnya di St Marry Abbot’s Hospital. Dokter yang menanganinya mengatakan ia meninggal pada pukul 12:45 pm tanggal 18 september 1970, juga di usia 27 tahun. Wikipedia menyebut kematian Gitaris nyentrik ini diakibatkan Asphyxiation / sesak nafas.

            Setelah kematian Jimi Hendrix, teman karibnya; seorang penyanyi wanita yang dikenal dengan nama Janis Joplin kemudian meninggal, juga pada usia 27 tahun. Kematian Vocalis & Songwriter band beraliran blues Big Brother and The Holding Company ini terjadi kurang dari sebulan setelah kematian Jimi Hendrix, tepatnya pada tanggal 4 oktober 1970. Ia disebut – sebut tewas karena Over Dosis Heroin. 1970, dunia music seperti dilanda musibah, selain kematian Jimi Hendrix dan Janis Joplin, di tahun ini juga The Beatles bubar jalan. Untungnya, bubarnya Beatles tak menghentikan kreatifitas personilnya. Tahun 1971, John Lennon merilis Album yang berisikan lagu yang hingga kini menjadi anthem perdamaian; Imagine. Paul McCartney juga tetap aktif bermusik dan membentuk band Wings. Tapi, meski begitu.. 3 bulan sebelum John Lennon merilis album Imagine, tepatnya tanggal 3 juli 1971, dunia kehilangan seorang musikus hebat, Frontman The Doors, Jim Morrison ditemukan tewas di bak mandi. Diduga kematiannya akibat serangan jantung. Banyak versi mengenai kematiannya, salah satunya akibat overdosis heroin.

            Kematian musikus – musikus hebat di usia 27 tahun itulah yang sering dijadikan lelucon oleh Kurt Cobain di masa remajanya, jauh sebelum ia melejit ke puncak dunia music bersama band-nya, Nirvana. Kurt pernah dengan santai berkata pada temannya; “aku bakal punya band, dan terkenal.. terus mati bunuh diri kayak Jimi Hendrix”. Dikisahkan oleh Charless R Cross, penulis biografi Kurt Cobain; Heavier Than Heaven bahwa Kurt saat itu belum tahu kebenaran akan penyebab kematian Jimi Hendrix. Yang terbaru adalah kematian Penyanyi dan Songwriter Amy Winehouse pada 23 juli 2011. Sebenarnya bukan yang terbaru, hanya saja dia adalah yang kondang, yang buat dunia jadi geger. Yang paling gres adalah kematian Penyanyi Pop juga Aktris Bosnia, Slađa Guduraš pada tanggal 10 desember 2014.

            Kematian Kurt Cobain masih kontroversi, ada banyak penggemarnya yang masih meyakini ia dibunuh, bukan bunuh diri. Tapi bukti – bukti memang menguatkan bahwa dirinya tewas akibat bunuh diri. Kematian Cobain lah yang kemudian membuat 27 club menjadi sebuah mitos yang besar. Hal itu sepertinya dikarenakan sosok Cobain yang membuktikan semua kelakarnya dulu; bahwa ia akan mati di usia muda (27 tahun). Charles R Cross pernah menulis “Jumlah musisi yang mati di usia 27 mencengangkan. Meskipun kematian itu acak (di segala usia), tapi ada lonjakan statistik untuk musisi yang meninggal di usia 27 tahun” Ia juga pernah menanggapi perihal semakin maraknya tanggapan publik soal 27 club. Karena banyak orang menganggap kematian orang – orang itu disengaja, Cross akhirnya berkomentar bahwa itu disebabkan besarnya pengaruh dari respon media (majalah, tv, dan internet) terhadap wawancara Ibu Kurt Cobain, Wendy Fradenburg Cobain O’connoryang berbunyi; “sekarang dia telah bergabung dengan club tolol itu (mengacu pada Hendrix, Janis, Jim Morrison yang mati di usia 27).”

            Kematian Kurt Cobain adalah hal yang semakin menguatkan teori dan pengelompokan musisi – musisi yang mati di usia 27 tahun ke dalam 27 club. Entah orang menilainya sebagai kebodohan, tapi bagi saya, secara logika, pengelompokan ini cukup memberi pelajaran; terutama dalam sikap. Mereka semua adalah orang – orang sukses, yang kesuksesannya didapat dengan semangat yang hebat, kerja keras, dan totalitas. Pengalaman membaca kisah hidup mereka memberi inspirasi, sungguh. Saya melihat bagaimana seorang Kurt Cobain total dalam bermusik, tidak setengah – setengah, dengan itulah ia berhasil mencapai sukses lewat musik. Dan pelajaran terpenting dari seorang Kurt Cobain adalah Empati! Supaya pejabat tidak korupsi lagi! Empati! Biar tak ada lagi kesenjangan! Empati! Agar “Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur” yang termaktub dalam Pembukaan UUD itu bisa diwujudkan.
Lihat Mengocehlah Joni Lemot - Kopi Empati untuk keterkaitan Empati & UUD 45

                Setelah membaca (dengan antusias) tulisan Denny Syakrie tentang Chairil Anwar yang ia masukkan ke dalam 27 Club, minat saya untuk menelusuri orang – orang Indonesia yang meninggal di usia 27 tahun, khususnya musisi terpecut. Sayang sampai sekarang belum ketemu. Di Wikipedia ada banyak musisi dari seluruh penjuru dunia yang digolongkan ke dalam 27 Club. Sayangnya, kisah hidup mereka tidak terjabarkan dengan jelas. Saya kemudian merasa perlu, kalau orang – orang yang akan dimasukkan ke kelompok 27 Club ini seharusnya diseleksi ketat dengan memperhatikan dedikasi dan sumbangsihnya kepada dunia mereka masing – masing. Kenapa? Agar tak ada lagi orang yang menganggap kelompok ini sebagai lelucon. Kelompok ini pantas menjadi pelajaran yang bagi orang banyak. Karena itulah, setelah menemukan orang Indonesia yang meninggal di usia 27 tahun, saya mencoba untuk membaca dan membaca kisahnya terlebih dahulu, dan ternyata orang ini adalah tokoh yang cukup berpengaruh di Indonesia. Tak sekedar berpengaruh, tapi pengaruh – pengaruhnya sangat positif.

Begitulah, menggolongkan seseorang ke dalam kelompok ini seharusnya tak boleh dilakukan sembarang. Tapi dengan menyeleksi. Agar kelompok ini tak lagi dianggap ‘lelucon ketololan’, perlu hal – hal tadi, menyeleksi setiap orang yang akan dikelompokkan. Orang – orang dalam 27 Club bukan sekedar Publik Figur, tapi lebih dari itu mereka punya karakter hebat yang patut dicontoh.

Ketika dulu Kurt Cobain jatuh cinta sama Punk, ia selalu ‘menenteng’ Punk sebagai ideologinya, sebagai prinsipnya, kemanapun ia pergi. Selalu menyuarakan jargon “Punk Rock is Freedom” yang ia racik. Ia jadi malu mengenakan kaos band rock jadul Sammy Hagar-nya di hadapan teman-temannya dalam komunitas punk. Meski doktrin – doktrin pemikiran Punk mengajarkan kebebasan, tapi tetap saja Punk memiliki semacam batasan, seperti misalnya Dress Code. Dan ada semacam fanatisme dalam punk. Baru kemudian setelah melewati fase itu, Kurt Cobain menembus batas itu, ia mengalami Rock n’ roll Metamorphosis, meski ia mengungkapkannya dengan kemarahan, bukan dengan respect dan calm. Kurtmenembus batas, menjadi orang bebas sepenuhnya.. ia mencampur adukkan semua pengaruh music yang dia serap, pop, rock, dan punk sekaligus dalam musiknya.. pengamat, dan banyak orang kemudian menggolongkan genre musik Nirvana sebagai Grunge, yang tak disukai oleh Kurt. Ia selalu merasa musiknya Punk Rock. Alah.. silahkan saja.. bagi saya itu semua Rock n’ roll..! saya jadi terlalu bersemangat menulis tentang orang – orang ini, bukannya ke point yang disebutkan di judul.. baiklah..

Rock n’ roll bukan sekedar music, bagi saya rock n’ roll lebih dari itu, rock n’ roll adalah kultur; pemikiran, sikap, serta nilai – nilai, yang positif tentunya. Kurt Cobain, dan semua orang di 27 club tadi memiliki hal itu. Termasuk Chairil Anwar yang direkomendasikan Denny Syakrie. Dan bagi saya, Soe Hok Gie pun demikian! Ya! Soe Hok Gie adalah orang Indonesia yang saya golongkan ke dalam 27 Club.

Gie, dan juga Chairil, memiliki pemikiran, sikap, serta nilai-nilai yang rock n’ roll banget! Seperti John Lennon, keduanya cakap memberi pesan – pesan positif kepada orang – orang lewat tulisan. Lirik – lirik puisi, atau tulisan lain mereka keluar dan menggema di penjuru Indonesia. Gie, dengan hidup singkatnya; mampu memberi pengaruh – pengaruh  positif bagi lingkungan sekitarnya. Modal saya mengenal sosok Gie hanya buku Orang – orang di Persimpangan Kiri Jalan, dan buku Soe Hok Gie; Sekali Lagi – Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya. Saya belum menonton film Gie yang menceritakan tentang sosoknya yang digarap Mira Lesmana (anak dari musisi jazz Jack Lesmana) dan Riri riza. Buku Catatan Seorang Demonstran yang merupakan tulisan di buku harian Soe Hok Gie yang diterbitkan, juga belum sempat say abaca.

Meski begitu, tidak mengurangi keyakinan saya untuk mengatakan Gie adalah orang Indonesia yang tepat untuk dikelompokkan ke dalam 27 Club. Sosoknya, digambarkan oleh Jakob Oetama sebagai “Gelisah atas nama Integritas”. Wartawan senior harian Kompas, Budiarto Shambazy (yang saya pernah ketemu sekali; #Curhat #Assuuu :D) menggambarkan sosok Gie sebagai “Pejuang yang Konsisten, Orang yang baik, bersih, dan berani..”. pernyataan Budiarto Shambazy ini nampaknya cendeerung ke arah sikap Politis Gie. Gie yang pada masa hidupnya selalu gelisah melihat keadaan yang ‘semrawut’, termasuk ketika ia menganggap Soekarno (yang dulunya ia kagumi) mulai keluar dari jalur kebenaran. Gie kemudian, bersama aktivis mahasiswa angkatan-66 menggalang kekuatan dan melakukan demonstrasi besar – besaran memprotes Presiden Soekarno. Yang dia protes bukanlah pribadi Soekarno, tapi setiap ketidak-adilan dan ketidak jujuran Soekarno & Orde Lama yang merugikan bangsa. Setelah Soekarno jatuh dari singgasana, Soeharto & Orde Baru melenggang mulus. Aktivis 66 banyak yang menikmati bulan madu bersama Orde Baru di awal kekuasaan Orde Baru. Alih – alih ikut dalam lingkaran itu, Gie memilih menjauh dari tarikan magnet kekuasaan dan tetap di jalurnya sendiri. Sebenarnya ia bisa saja berada di ‘zona nyaman’ lingkup kekuasaan Orde Baru, lah wong dia orang yang sangat vocal dan berpengaruh dalam menggerakkan orang – orang memprotes Soekarno. Tapi sekali lagi, sikapnya teguh pada pendirian, kritis, dan integrity.

Seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa Gie adalah sosok rock star yang slengean, lugas, tegas, dan sebagainya. Meski ia bukan musisi, tapi tetap saja, sikapnya ini bisa dikaitkan dengan sikap – sikap musisi – musisi 27 club lainnya. Jika anda pernah menonton film Across The Universe, dalam film musical yang juga menonjolkan music – music di era flower generation itu ada tokoh – tokoh yang digambarkan sebagai Jimi Hendrix, Janis Joplin, bahkan sampai Kurt Cobain.. bagaimana sikap musisi – musisi menolak peperangan dan ketidak – adilan, ini selaras dengan sikap dari Soe Hok Gie. Gie memang bukan musisi, tapi sekali lagi, sikapnya sangat rock n’ roll..! menggugat!

Dulu, Kurt Cobain pernah menulis (menanggapi seputar perang gurun/ invasi amerika ke Negara – Negara timur tengah) dalam suratnya untuk Eugene Kelly; “terima kasih buat kaum militer yang kolot, sekarang kita bisa membeli rekaman video, kartu, dan stiker bumper bertemakan perang gurun, hei.. mau nggak kita ngadain tur bareng, dan membakar bendera amerika di atas panggung.”
Tulisan Kurt Cobain itu, jelas menunjukkan kekecewaannya terhadap Amerika yang begitu superior menginvasi Negara – Negara lain dengan perang. Kurt menggugat, begitu juga Gie.. memprotes keras ketidak adilan Orde Lama.

            Di masa awal Orde Baru, banyak rekan – rekan aktivis Gie berebut masuk ke parlemen dan berebut untuk mendapatkan kredit mobil Holden. Di akhir hidupnya, sebelum melakukan perjalanan ekspedisi Gunung Semeru yang akhirnya ia menemui ajalnya di Gunung itu, Gie mengirimkan sebuah paket berisi kutang, pupur, dan gincu kepada kawan – kawannya di parlemen dan menuliskan “gunakan ini agar makin tampil cantik di parlemen. Untuk menguatkan pendapat saya bahwa sosok Gie pantas menjadi anggota 27 Club (yang sangat positif) saya akan mengangkat sebuah puisinya yang berjudul Kepada Pejuang – Pejuang Lama, yang ia tulis karena kegundahan hatinya serta kekecewaannya atas sikap kawan – kawan aktivisnya yang masuk ke parlemen, yang ia tulis pada 19 desember 1965;

Kepada Pejuang – Pejuang Lama

Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya.
Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya.
Dan datanglah kau manusia – manusia
Yang dahulu menolak, karena takut ataupun ragu.
Dan kita, para pejuang lama.
Yang telah membawa kapal ini keluar dari badai
Yang berani menempuh gelombang (padahal pelaut-pelaut lain takut)
(kau tentu masih ingat suara-suara di belakang… “mereka gila”)
Hai, kawan-kawan pejuang lama.
Angkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kita
Buku-buku kita, ataupun sisa-sisa makanan kita
Dan tinggalkan kenangan-kenangan dan kejujuran kita.
Mungkin kita ragu sebentar (ya, kita yang dahulu membina kapal tua ini di tengah gelombang, ya kita betah dan cinta padanya)
Tempat kita, petualang-petualang masa depan dan pemberontak-pemberontak rakyat
Di sana …
Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh gelombang baru.
Ayo, mari kita tinggalkan kapal ini
Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya
Biarlah mereka yang ingin mobil mendapatnya
Biarlah mereka yang ingin rumah mengambilnya.
Ayo,
Laut masih luas, dan bagi pemberontak-pemberontak tak ada tempat di kapal ini.
(dari buku Soe Hok Gie …Sekali Lagi)

            Sebenarnya saya hendak menutup tulisan ini di puisi Gie tadi, tapi ada hal menarik yang sayang untuk dilewatkan; bagaimana pandangan Gie soal kematian. Yang anehnya, saya rasa ada kemiripan dengan Kurt Cobain. Dalam Heavier Than Heaven, yang ditulis Charless R. Cross, dikisahkan bahwa Kurt Cobain pernah ditanya oleh seorang temannya perihal kehidupan masa depan, dan Kurt menjawab bahwa dia tak punya gambaran soal itu, ia tidak ingin tumbuh tua. Di sisi lain, Gie pernah menulis;
“Seorang Filsuf Yunani pernah menulis… nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa – rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

            Gie, yang meninggal pada tanggal 16 Desember 1979 (6 syawal 1390 Hijriah) di usia 27 tahun minus sehari ini, di saat – saat terkhirnya, bahkan menunjukkan sikap yang sangat berkaitan dengan tulisannya itu. Dikisahkan dalam Soe Hok Gie.. sekali lagi saat dia dan teman-temannya turun dari puncak semeru, yang saat itu mengepulkan awan panas, seorang temannya (Rudi Badil) mengaku melihatnya beristirahat di tepi medan pendakian. Saat Rudi Badil basa – basi menyapa Gie yang duduk setengah termenung, gie sempat bereaksi (tersenyum) dan berkata “nih gua titip ya, ambil dan bawa pulang batu Semeru, batu dari tanah tertinggi di Jawa. Simpan dan berikan ke cewek – cewek ya,.” pada Rudi. Pada temannya yang lain, Gie juga menitipkan Daun Cemara.

Aneh memang, dan itu yang membuat 27 club terus saja menjadi mitos besar.


            Pada akhirnya, saya sekali lagi ingin menekankan bahwa; Pemikiran, sikap, dan karakter Gie sangat baik dan positif. Begitu juga dengan rock star –rock star lain di 27 club. Oleh karena itu, pandangan negatif terhadap orang – orang itu, harus segera dihapuskan. Karena mereka juga pantas untuk menjadi teladan bagi setiap orang.

Paling Jungkir Balik

Filsafat Tidur

Semiotika SAMBAVA; Sebuah Manifesto Kebudayaan