Letter to Patti Smith
Dear Patti Smith,
Kalau kufikir, aku tak mengerti tentang apa yang kurasa,. Ini begitu memuakkan.
Generasi membodohi Generasi.
Sayangnya, aku tak bodoh.
Maksudku, aku kini memahami pembodohan itu.
Ya, pembodohan yang dilakukan generasi kemarin terhadapku, dan generasiku.
Oh.. Grandma Patti,
Yang disuguhkan pada kami, sebuah pembodohan yang lucu,. Sebuah Konspirasi yang akhirnya kuketahui.
Mereka menyuguhkan kami,
Keinginan mereka.
Keinginan agar kami menjadi,
Yang mereka inginkan.
Kebebasan memilih?
Bullshit!
Pilihan yang ada, yang tersedia, terbatas adanya!
Jadi apa bebas namanya, kalau terbatas?
Mengapa harus memilih, kalau yang tersedia dalam pilihan bukanlah pilihan yang aku inginkan?
Tak ada pilihanku
dalam pilihan yang tersedia.
Aku bodoh telah memilihnya,
pemimpin itu kemarin.
Tak ada pilihanku
dalam pilihan yang tersedia,
Jadi aku tak menonton televisi.
Aku ingin mengungkapkan ini pada orang – orang, Grandma,.
Semua pilihan yang tersedia di hadapanmu adalah hasil konspirasi mereka;
Generasi yang menginginkan kita dari generasi yang berbeda untuk menjadi generasi seperti yang mereka inginkan.
Kita harus menjadi apa yang benar – benar kita inginkan! Bukan menjadi yang mereka inginkan.
Pilihlah pilihan yang ada jika di antara pilihan yang disediakan itu ada pilihan yang kau inginkan.
Jika tak ada, jangan memilih,.
Sebab jika kau pilih yang bukan pilihanmu, melainkan terpaksa memilih pilihan yang ada, yang tersedia, yang disediakan oleh konspirasi mereka itu, kau akan menjadi apa yang mereka inginkan.
Bukankah begitu Grandma?
Oh.. semua pembodohan ini begitu memuakkan!!! Aku ingin mendengarmu membaca puisi di tengah suguhan Punk Rock, Grandma..
Hey, Grandma Patti..
Aku tak tahu tanggapan orang -para penyair- ketika kau membawa puisi ke dalam Punk. Tapi bukankah saat itu beberapa orang di dalam Punk tak menyukainya!?
Tapi yang kau lakukan; memilih pilihanmu sendiri. Meski itu tak ada di antara pilihan yang tersedia, kau memilih untuk membawa pilihanmu ke dalam itu.
Seperapa nikmatnya menjadi bebas seperti itu, Grandma?
Seberapa nikmatnya menjadi bebas seperti itu, dan diterima dengan kebebasan yg gila itu?
Menjadi bebas dan diterima,.
oh.. Perasaan diterima,.
Sejujurnya, aku ingin bebas!
Aku pernah melakukannya, menjadi bebas, mengikuti keinginanku, memilih pilihan yang kuinginkan, tapi orang – orang tak menerimanya dengan baik,. Oh.. Perasaan diterima.. meski hanya oleh seseorang.
Hey, Grandma Patti..
Aku punya pilihan, dan akan kujelaskan padamu tentang itu.
Orang – orang mungkin akan menganggapku gila,.
Kau tahu, dulu aku bertemu seseorang, lelaki, yang tentunya asyik! So, we are friend now! And, at the time, when I meet him, he have a girlfriend!
You know what!? Girlfriend-nya itu sedikit mirip kamu Mbah..!
Bisa kau tebak kan,. dan aku dalam kekaguman..
Kami berteman baik mbah.. termasuk dengan yang sedikit mirip kamu itu.
Dan sekarang,. ini bagian gilanya mbah..
Sekarang, saat kutahu mereka tak lagi bersama; Fuck Me Mbah.. I Want Her !
Ini bukan kali pertama mbah.. ini untuk yang kedua kalinya aku merasakan keinginan gila seperti ini; menginginkan seseorang yang nyatanya bekas pacar teman sendiri.
Aku merasakan kebingungan yang besar,. Setelah sebelumnya mengalami kebosanan yang memuakkan tentang pertemanan.
Aku bingung..!
Kalau aku memilih untuk mengatakan bahwa aku menginginkan Perempuan yang sedikit mirip kamu itu, akankah orang – orang menerima itu? Sementara jika kuabaikan keinginan itu, yang berarti aku mengkhawatirkan pandangan orang – orang, aku bukan orang yang merdeka!
Generasi sebelum aku telah membentuk kultur yang diwariskan kepadaku dan generasiku, yang mana kultur itu memandang jika kulakukan keinginanku, I am an asshole!
What The Hell is going on, Grandma Patti?
Oh,.. Grandma Patti,.
Mana yang lebih penting perasaan atau pikiran?
Karena kufikir aku gila,. Tapi,. apa gila namanya jika mengikuti perasaan? Mengikuti apa yang kita rasa! Aku setuju dengan Rumi, Sembahyang karena cinta; rasa! you know Rumi? He wrote great poetics! You must read!
Mari kembali lagi,
Kalau difikir-fikir, mengikuti perasaan, memang gila, Grandma. Karena dalam rasa, terutama cinta, tak ada logika,. Kita setuju tentang itu. Nah, sementara logika adalah bagian dari akal, artinya; jika mengikuti rasa, berarti meninggalkan akal, sementara hilangnya akal adalah gila.
Pantaslah setiap pecinta adalah gila..
Jadi mana yang lebih penting; Perasaan ataukah Fikiran?
Kalau grandma bilang; “lakukan yang kau yakini”
jadinya begini; katakanlah bahwa aku yakin dengan fikiran bahwa keinginan memiliki itu bakal menimbulkan banyak penolakan, pandangan negative orang, dan karena itu aku tak mengungkapkan keinginan itu. Artinya aku bukan orang yang merdeka.
Dan bila aku yakin dengan perasaan, yakin dengan keinginanku akan cewek yang sedikit mirip Grandma Patti itu, dan melakukan, ya memilih untuk mengungkapkannya,. Seperti yang tadi kujelaskan; penerimaan orang – orang,.. oh perasaan diterima,. Grandma !!!
setidaknya dari dia sendiri, orang yang sedikit mirip kamu itu!
Entahlah…………!
Itulah poinnya, grandma!
aku berada di tengah ‘Entahlah’ yang sangat besar!
Please tell me!
So, salam buat Debbie Harry, haha,.
Perasaan diterima, Grandma!