Di Seberang Semesta
Across The Universe
Suatu malam aku buntu, baik ke depan, ke belakang, ke luar, atau ke belakang. Di samping kiri dan kanan dipenuhi hipokrit yang bermacam rupa. Dari yang sok irit padahal pelit, yang lurus padahal kerukit, sampai yang biasa tapi gengsi, jadi sok elit.
Maka terbaringlah aku di alas tidurku yang begitu muak ditiduri olehku. Entah apa yang terjadi, kudengar alas tidur bangsat itu mengoceh; “Hey bangsat! Aku sudah muak kau tiduri. Aku laki dan aku bukan homo! Setidaknya sekali saja bawa perempuan ke sini, terserah ukuran toketnya, tiduri atau tidurkan padaku! Apa yang salah denganmu?”
Aku tercengang,. Di mana ini? Suara apa ini? Terdengar alunan musik, R.E.M Losing my Religion.
“Hey Pecundang” kata kasur, lalu kubalas; “Fuck You! Sejak kapan kasur hidup dan berkelamin, bangsat!?” “oh.. kasur bangsat ini? Kau mau tahu siapa aku? Akulah dirimu! Akulah nafsumu! Akulah libidomu! Akulah dirimu yang begitu menginginkan itu! Akulah bagian dirimu yang berani membayangkan dan menginginkan itu, dan kamu adalah bagian dirimu yang takut! Pengecut!”
“Fuck You! Pilihan untuk tidak mengikuti kemaumanmu, itulah moralitas! Bangsat! I’m man, I’m not homo, I’m virgin, so what!? So, fuck off!”
“moralitas? Kenapa dengan moralitas? Bukankah Tuhan telah mati?” “Yes! Tuhan telah mati! Tapi aku bukan pembunuhnya!”
“so what!? Tuhan satu bukan?”
“Tuhan memang satu, tapi untuk semua! Satu untukku, satu untuk masing – masing dari mereka. Kalau mereka membunuh Tuhan mereka, Tuhan mereka mati, Tuhanku tidak!”
“What the fuck!? Dengar,. Dunia ini akan berakhir, hanya jika moralitas tidak ada! Jadi, buang jauh – jauh moralitas itu, dan lakukan kata – kataku! Bukankah kau ingin semuanya berakhir?”
“What the fuck! Itu maumu, bukan aku! I’ll find the lady and I’ll fuckin mary her! Di matahari, menyatu dan terbakar,.”
“Uh,. Go home Loser!!”
“Fuck off, Bastard!!”
Setelah itu aku terguncang hebat, melayang entah ke mana, semua gelap,. Tapi suara yang manis membelai telingaku,. Itu jelas petikan gitar – gitar yang begitu manis,. Aku mengenalnya; Across The Universe dibawakan Scorpions,.. tapi suara itu bukan, itu memang suaranya,. Lennon.. Jah Guru Deva.. Om..
Dan tiba – tiba aku sadar kalau aku terbang,. Tidak dengan sayap, tidak dengan bantuan malaikat,. Oh.. terbang oleh alunan suara tadi..
“apakah ini..?” gumamku.
“Ndeqn iye..” terdengar jawaban, entah dari mana suaranya, tapi suara itu begitu indah, suara paling indah yang pernah kudengar. “bukan.. ini bukan itu.. takkan pernah bisa sayang. Kau penuh kotoran, takkan pernah bisa.. tapi aku suka caramu ini, caramu berusaha menemuiku ini. Jalanmu ini, sesuatu yang unik, tak banyak orang yang melakukannya. Pernah ada yang menggunakan ini, tapi tetap saja yang kau tempuh ini unik. Kau meliuk – liuk jauh, kembali lagi, menjauh ke belakang, jauh di belakangtitik awal, menjauh.. tapi kau balik ke awal, kemudian mencari jalan yang lama, menemui keindahan di sini, tempatmu sekarang ini, tempat yang mengentarkanmu padaku, berterima kasihlah pada idolamu itu.. coba kau lihat jalan di belakangmu sayang..” lalu aku menoleh ke belakang., hanya menoleh, tak kubalik badanku, tak ingin kehilangan arah jalan lagi.
“Kau lihat? Yang paling ujung itu, yang putih itu, itulah jalan semua orang.” Kulihat jalan putih yang begitu lurus, pandangku mengikuti alur jalan itu, sampai akhirnya pandangku terhenti di sebelah kakiku, jalan itu hanya selangkah di sebelah kiriku, aku tersentak, takut, bergetar, kacau,.
“Sayang..” kataku. “Bolehkah aku melangkah dan berjalan di jalan indah ini?”
“silahkan sayang..”
Tapi kakiku tak bisa kugerakkan ke sana.
“mengapa tak kau pindah sayang?”
“e.. entah.. kakiku tak bisa melangkah ke sana..”
“yes.. you can! Tapi belum sayang,. Bukan sekarang.. mungkin beberapa langkah lagi kau berjalan di jalan unikmu itu dank au akan bisa ke jalan indah itu, memang jalan itulah jalan yang paling indah, da kalian memang harus melalui itu untuk menemuiku. Sekarang kau masih dekil, temukanlah air atau debu di jalan unikmu itu untuk membersihkan dirimu, entah kau akan terus melalui jalan itu, atau berbelok ke jalan biru atau hitam di persimpangan, semua terserah padamu sayang,. Aku sudah memberikan semua segala, kau yang pilih dan tentukan sayang,..”
“baiklah.. aku akan pergi menemukannya..”
“jangan terbur – buru sayang.. jangan pernah terburu – buru, terburu – buru bukanlah kamu sayang, bukan kalian! Terburu – buru adalah kalian yang dikelabui,. Sekarang mulailah berjalan lagi mendekatiku, carilah persimpangan menuju jalan indah itu, carilah dengan melalui jalan unik yang kau pilih dan lalui sekarang ini, mungkin kau akan bertemu orang – orang seperti dia itu.. carilah sayang.”
Buzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz…… sekejap saja aku terbangun, dan sadar. Aku hanya terbaring di pasir – pasir putih pantai yang indah, begitu riuh ombak – ombak menghampiri pantai kekasihnya. Ditelingaku masih terdengar alunan musik, This song send me to the other side, hm.. across the universe.