Merasakan Kolaborasi Rasa | Sambava Art Space 1st Anniversary Review

Merasakan Kolaborasi Rasa | Baper Abis!
3agustus16
plackeinstein
Surprised! adalah kata yang harus saya ucapkan ketika merasakan suguhan kesenian teman – teman dari Sambava Art Space pada malam perayaan 1st anniversary mereka. Sejauh perjalanan saya merasakan suguhan kesenian (yang sama sekali tidak panjang) baru kali ini saya merasa harus mengeluarkan kata itu dari perbendaharaan kata. Bukan apa – apa, sebagai orang yang boleh dibilang cukup sering (untuk memperindah kadang - kadang) nongkrong bareng pentolan – pentolan Sambava Art Space, saya pun sering berdiskusi kebudayaan (menjiplak perkataan Iqbal Sanggo) dengan mereka, dan lebih sering lagi mencuri dengar apa – apa yang mereka bicarakan, termasuk perihal perayaan anniversary kemarin. Meski sudah mendengar konsep dan bayangan pertunjukannya, toh saya tetap merasa surprised!
Saya tak punya kapasitas dan tentu saja tak pantas untuk menilai, tapi sebagai penikmat saya fikir saya boleh merasa. Untuk itu, saya perlu curcol  bahwa selain surprised! saya juga merasakan sesuatu yang lain. Rasa yang terpendar – pendar ketika menyantap suguhan kemarin benar – benar membuat saya gelisah ketika menulis ini. Meskipun saya akan dituntut oleh penulisnya (Jimmy Page & Robert Plant) yang baru – baru ini memenangkan kasus dugaan plagiat atas lagu Stairway To Heaven, saya akan tetap menggunakan sepenggal lirik dari lagu itu untuk mengungkapkan apa yang saya rasa.
It’s makes me wonder! Really makes me wonder!

Apa yang lebih dari ketakjuban?
Merasakan kolaborasi rasa dengan rasa, melahirkan rasa.
Rasa – rasanya saya takjub! Bagaimana tidak? Begitu tiba, kita sudah disuguhi seni di booklet mini yang cakep. Bukan mau melebih – lebihkan (lebay), tapi menyederhanakan sesuatu yang kompleks dengan kata – kata untuk menjelaskan kepada orang lain bukanlah sesuatu yang mudah. Jadi, saya perlu mengapresiasinya, sebab saya rasa di masa ‘kini’ kita banyak mengabaikan hal – hal sederhana. Akibatnya kita cenderung menaruh perhatian, melulu kepada hal – hal besar. Menulis, sebagai bagian kebudayaan, patut diapresiasi. Bagi saya, menulis (ini) juga merupakan bentuk komitmen pada kebudayaan itu sendiri. Maka dari itu, sebelum lebih jauh bicara soal musik, dan seni lainnya dari suguhan Sambava Art Space kemarin, booklet mini setebal 6 lembar itu saya acungkan jempol.

Ampunilah jika sudah dan akan begitu banyak  kata “rasa” dalam tulisan ini, sebab saya sungguh – sungguh baper! Saat melihat bilik intip karya perupa Ganapatih sebelum acara, sebelum foto – foto dipajang dalam bilik, saya berfikir konsep pengintipan rasanya lebih keren daripada pameran. Dan ternyata saat foto telah terpajang, lengkap dengan pencahayaan dan judulnya, it’s make me wonder!

Bilik Intip foto - foto Vina yang diperintipkan | Gambar dari SAMBAVA Art Space facebook page


Entah apa yang dirasa orang – orang yang mengintip foto – foto hasil jepretan Vina Aprilia yang diperintipkan lewat bilik intip malam kemarin tanpa menggunakan rasa. Saya sendiri menikmati deretan foto – foto itu sesuai urutan seperti membaca sebuah buku cerita tentang joki cilik. Tentu saja itu sebuah cerita! Aku Jokinya menjelaskan tema keenam foto. Masih ada besok untukku? bagi saya menegaskan kesensitifitasan perempuan kecil yang dijelaskan kuratornya, Dani Auliya. Seolah – olah dia mampu masuk ke dunia para joki cilik yang bertarung di arena, jauh dari tempat mereka seharusnya. Kami Sahabat menegaskan kepekaan Vina sebagai pengintip fenomena lewat lensa, foto ini menjelaskan dunia anak, tanpa pretensi kebencian yang mungkin saja terbersit di arena, mereka tetap bersahabat di luar arena.

Luka Malu yang diposisikan di bilik intip ke-4 menjadi sebuah klimaks setelah tiga foto sebagai pengantar yang menanjak dengan perlahan. Klimaks rasa dari Luka Malu bagi saya hanya bisa dirasakan, saya tak punya kemampuan untuk menjelaskannya. Kehilangan kata – kata, Saya hanya takjub! Lagipula apa yang lebih dari ketakjuban? Saya seperti mendengar hit Hey You dari Pink Floyd, seolah – olah tatapan mata dalam foto itu tengah melantunkan lirik lagu Hey You! Out there in the cold, getting lonely, getting old, can you feel me?

Ketakjuban saya, rasa yang terpendar – pendar, takkan terwujud tanpa kolaborasi rasa antara Vina dan Danny sebagai Kuratornya, dan tentu saja instalasi bilik intipnya. Kolaborasinya telak menohok tren pop ‘fotografi kekinian’ yang show up banget!

Sedikit bingung ketika mengintip Tatapan Juara di bilik intip kelima, tapi jika mengacu pada lagu tadi, foto ini seolah bagian solo guitar-nya. Saya kemudian terkejut dan dalam hati berucap “Br#ngs#k! Foto macam apa ini?!” ketika mengintip foto terakhir berjudul Asal Tuan Senang. Perasaan yang sudah diaduk oleh Luka Malu langsung dibanting oleh foto terakhir ini, benar – benar seperti mendengar Hey You, tapi ditambah dengan gaya – gaya puisi satir! Senyum tuan menunggang hadiah dan tampang si joki.. asli satir!

Masuk ke dalam, ketakjuban semakin menjadi – jadi ketika tembang Damar Kurung dari Sambava dikolaborasikan dengan teater yang dramatis dari Ecenk Teater Ekstreme. Meski fokus terbelah antara penampilan mereka dengan video klip yang diputar di latar belakang panggung, saya sendiri puas sebab gerakan – gerakan yang disuguhkan dalam live perform tidak mentok persis dengan klip. Langkah yang tepat, saya rasa. Klipnya sendiri tak perlu diragukan ke-kece-annya!

Penampilan JT + Ecenk Teater + Video Klip Damar Kurung


Ketika Guar Tangar dimainkan, saya sangat terkejut. Itu adalah kali pertama saya melihat live perform dari Rian, yang mengisi vocal di trek ini. Nuansa rock-nya bahkan jadi double gara – gara aksi panggungnya. Sebagai penikmat, saya jelas punya ekspektasi perihal lagu dan musik, sebab album Sambava terbilang cukup sering saya konsumsi. Ekspektasi itu terbayar, bahkan lebih! Kurang apa? Tembang manis, Kemang Lala dimainkan dengan dua penyanyi utama, keduanya penyanyi perempuan mereka. Dua perempuan menyanyikan tembang Kemang Lala, bagaimana mungkin saya tidak tersenyum dan berkata “br#ngs#k!” lalu melototin dan menikmatinya!?

Wal kultur. Demi Kebudayaan. Saya takjub dengan keseluruhan 1st anniversary Sambava Art Space kemarin. Tapi sedikit kecewa ketika tembang Panyomo yang diplot sebagai penutup terasa kurang diperhatikan, juga atas absennya puisi sebagai bagian dari seni sastra yang sangat bisa dipertunjukkan (mengingat di booklet jelas tertera pertunjukan sastra sebagai salah satu ibadah kreatif yang sudah dilakukan). Tapi mana mungkin setitik celah itu bisa merusak tampang manis mereka (Sambava Art Space) malam itu.

Sebagai sebuah wadah yang dihasratkan menjadi ruang brainstorming yang lebar dan lega, saya rasa mereka sudah melakukannya dengan sangat hebat. Kolaborasi rasa malam itu tak hanya di seputar apa yang sudah saya ulas di awal tadi, malam itu dipertontonkan pula hasil olahan rasa DNA (Danny n’ Ali) Simulacra atas media kain yang didesign sedemikian rupa menjadi busana fashion yang cakep punya. Model – model yang memeragakan busana – busana mereka malam itu dipermak oleh Rizki Ananda, seorang Make – Up Artist yang masih belia.

Sebagai penutup, saya berharap Sambava Art Space akan terus meluas dan melapang sebagai sebuah ruang, sehingga semakin banyak unsur seni dan kebudayaan yang masuk dan bernaung padanya. Dan tentu saja saya berharap orang – orang yang sudah ada di dalamnya, mengutip kata Puto Iq agar terus bisa eksis melakukan “Ibadah Kreatif” dan terus menjaga “kerelaan” mereka dalam “menyusahkan diri” demi kebudayaan. Ya.. Wal Kultur dah pokoknya. Seperti kata Pink Floyd (lagi), “Together we stand, Divided we Fall!
Akhirnya, saya hanya bisa mengungkapkan betapa teramat sangat berterima kasihnya saya atas komitmen dan kerelan mereka, atas suguhan rasa dari mereka di tengah kehausan akan suguhan serupa. Terima kasih juga atas kopi – kopi racikan teman – teman OASE Sumbawa yang akhirnya muncul di tengah ketiadaan racikan serupa. Benar – benar seperti sebuah OASE di padang pasir.

Paling Jungkir Balik

Filsafat Tidur

Forever 27 Club; Chairil Anwar dan seorang lagi dari Indonesia

Semiotika SAMBAVA; Sebuah Manifesto Kebudayaan