Dorongan: Rombong Kopi Tidak Biasa Kita
ANDA mungkin tahu Dorongan Coffee sebagai rombong kopi, usaha dagang UMKM, atau tempat nongkrong biasa. Tapi bagi kami, mereka itu sama sekali tidak biasa—meski tidak pula luar biasa.
Dorongan adalah satu dari sedikit kolektif/kelompok/komunitas yang mengadakan pemutaran film-film dokumenter WatchDoc yang belakangan populer dan sedikit bikin geger. Ini sungguh bersungguh! Sangat sedikit kolektif yang mau berpayah-payah nglakoni pemutaran, nobar dan diskusi di Sumbawa. Amat sangat sedikit! Di antara yang amat sedikit itu, mereka tertera. Tidak dengan gagah, tapi dengan sederhana. Ketimbang orasi, lebih seperti puisi. Tapi mereka ndak bisa juga kita katakan elegan. Mereka lebih mirip vandal ketimbang mural. Tapi toh puisi tak melulu harus elegan. Begitu banyak puisi rasa vandal. Lagipula tak ada yang mengharap dorongan jadi elegan. Dan mereka sendiri hanya menjalani serangkaian tingkah dengan apa adanya—dengan niat di awal mengabaikan konsep kepemilikan.
Sudah 3 tahun sejak mereka pertama kali ‘mangkal’, dan rombong kopi mereka tetap begitu-begitu saja, tidak membesar, tidak pula mereka mengembangkan cabang-cabang. Itu bukan hal yang buruk, dan bukan pula berarti mereka mandeg. Tapi bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali. Dinamika tentu ada di mana-mana, termasuk di Dorongan.
Statisme di mana-mana sifatnya dipaksakan, sementara dinamisme lebih cair dan cenderung natural. Sebagai individu-individu yang katanya cinta alam, Dorongan lebih dinamis ketimbang statis. Mereka bukan tipe yang suka memaksa, dan cenderung tidak suka kuasa. Saat saya mampir mewawancarai si founder, Naufal Sayyid masih tetap gondrong seperti ketika pertama kali berjumpa, di kampus dulu. Dia kuliah di fakultas dan kampus yang sama dengan saya. Dia masih tetap anak manusia yang sederhana; bicara seperlunya—sesuai dosis dan pada tempatnya; lebih banyak mendengar; masih seperti dulu. Yang berubah dari Dorongan sejauh ini adalah lokasi mangkal, dan para personil-nya. Kalau dulu mereka mangkal di pinggir jalan depan SMAN 1 Sumbawa—setelah sebelumnya di pantai Jempol, kini mereka mangkal di pinggiran komplek Pamanto Daeng, ujung Jalan Kerangka Baja, samping Hotel Grand Samawa. Masih dengan rombong yang sama.
Personil Dorongan sudah banyak gonta-ganti. Ini bukan karena manajemen yang buruk. Tapi karena fleksibilitas mereka yang sangat cair. Kisah mereka sebagai rombong kopi yang tidak biasa ini bermula dari rumah kontrakan dan cibiran lingkungan kampus.
...
Pada mulanya ialah malas. Lalu malas lagi, untuk kemudian malas kembali. Saya akan membela ‘kemalasan’ lagi di sini—saya melakukannya juga dalam teks berjudul Cinta dan Kapitalisme dalam EP saya, Dunia Begitu Menyebalkan dan Kita Hidup di Dalamnya.
Pada mulanya ialah malas. Naufal, dan teman-teman sekontrakan-nya (mereka adalah mahasiswa rantau, yang rata-rata dapat beasiswa untuk kuliah di salah satu Universitas di Sumbawa), sering mendapat cibiran mahasiswa-mahasiswa lain di kampus. Dikatai ‘malas kuliah’, ‘malas berkegiatan di organ-organ kampus’, bahkan sampai disebut merugikan, sebagai beban keluarga, dsb. Pokoknya jauh dari citra mahasiswa favorit para dosen dan rektor. Mungkin mereka sekadar mengamalkan efisiensi waktu, bukan malas. Saya lebih memilih mereka melakukan itu ketimbang menilai mereka dengan kata ‘malas’ yang begitu menyebalkan kalau keluar dari capitalist dictionary. Kalau keluar dari dan sebagai diksi kapitalis, ‘malas’ itu sangat menyebalkan. Sebaliknya, jika keluar dari dan sebagai diksi anti-kapitalis, ‘malas’ begitu menyenangkan. Dari keseringan dikatai dengan diksi-diksi tak baik itu, muncul kegelisahan. “Itu bermula dari keresahan. Bagaimana kami dikatai macam-macam, itu membuat kami mikir; ‘masak iya kita akan begini terus’.” jelas Naufal soal bagaimana Dorongan dimulai pada awal tahun 2019 (sudah dikonsepkan di akhir 2018).
Sejak awal, Dorongan memang sudah tak biasa. Mereka tidak memakai sistem ownership. “Gua bicara ke anak-anak, satu satu gua samperin. Gua jelasin ide buat dagang bareng-bareng. Tapi gua tekankan soal bagaimana kita tak perlu ownership.” Mereka melakukan itu saat orang-orang banyak sedang berlomba-lomba melabeli diri sebagai owner ini owner itu. Mereka tidak berusaha menjadi kaya. “ada nilai yang lebih mendasar dari uang.” Saat saya menanyakan semua itu, bahwa apa yang mereka lakukan itu tidak sesuai jalan pikiran orang banyak di tengah zaman di mana bisnis dan keuntungan serta kekayaan sangat didamba, dengan santai Naufal menjawab; “Dorongan milik Allah. Biarlah orang-orang menjadi kaya. Kita yang penting tetap bisa bertahan dan menjalani apa yang jadi gairah kita.”
Dorongan memang tak biasa, bukan (?). Mereka membentuk Dorongan sebagai sarana dan wadah untuk bertahan dan menjalani hidup sekaligus. Tidak terpisah. Itu sesuatu yang unik di tengah masyarakat yang di dalamnya banyak orang menjalani hidup dan bertahan hidup secara terpisah.
Menjadi seperti demikian, tentu sangat sulit di era hipermodern di mana kapitalisme mengakar kuat dan berdiri kokoh. Memegang prinsip jadi sulit. Seperti terbakar sendiri. Mereka tidak mengaku sebagai anti-kapitalis, tetapi banyak praktik yang mereka lakukan, bagi saya memang punya kecenderungan demikian. Kesulitan itu pernah membuat mereka sekarat. Vakum beberapa saat. Ada hal-hal yang membuat beberapa personil harus meninggalkan Dorongan karena perbedaan-perbedaan tertentu. Tapi mereka bisa bertahan, dan kini terus menjalani keberadaan tidak biasa mereka.
Judul tulisan ini menunjukkan seolah Dorongan milik kita. Maksud saya memang demikian. Meski saya tak terlalu suka juga menggambarkannya seperti itu. Tapi itu lebih baik daripada mengklaim ia dimiliki oleh perorangan. Dimiliki bersama lebih baik. Saya melakukan itu, sebab mereka toh menolak ownership (kepemilikan pribadi) dan mengklaim bahwa Dorongan milik Allah.
Perubahan personil, menunjukkan luwesnya mereka. Mereka bukan hanya jadi tempat mahasiswa-mahasiswa nongkrong. Tapi juga jadi wadah dan sarana. Mereka menjadikan diri mereka sebagai tempat yang dapat dimanfaatkan untuk bertahan hidup, dan berkarya. Sistem kerja mereka unik—tanpa kontrak dan fleksibel. Seseorang bisa datang saat butuh, ikut jualan dan mendapat hasil. Tentu tidak banyak. Sebab mereka tak pernah mengklaim diri sebagai sarana untuk menjadi kaya. Dari perspektif ilmu ekonomi yang diajarkan kampus, yang tentu saja kapitalis, ini tentu sesuatu yang bodoh. Tapi bodo amat. Kapitalisme bukan satu-satunya cara memandang dan menjalani hidup. Sebagai seorang anti-kapitalis, saya suka gaya mereka. Tapi saya tetap harus bilang (secara subjektif) mereka masih sering berusaha menjadi keren, dan tak kunjung mengambil sikap soal kelas secara tegas. Namun saya bisa memahami itu. Itu sesuatu yang sulit dilakukan.
Apa yang menjadikan mereka tidak biasa, yang saya sebut di awal, bahwa mereka menjadi salah satu dari sedikit kolektif di Sumbawa yang menyelenggarakan nobar dan diskusi film-film dokumenter WatchDoc, saya kira perlu diceritakan kepada lebih banyak orang. Bagaimana mereka melakukan itu, adalah sesuatu yang unik. Mereka tidak menggarap Sexy Killer, mereka baru mulai kala itu. Tapi seri berikutnya, Kinipan (dan KPK: End Game) mereka garap nobar dan diskusinya.
Saya menanyakan pada mereka, apakah mereka melakukan itu karena memang berangkat dari kesadaran politis? Mereka menjawab bahwa kesadaran politis mereka tidak lebih dari kesadaran politis kebanyakan orang.
Semua itu dilakukan karena banyak pengaruh dari circle-circle mereka. Whatever, toh mereka melakukan apa yang pantas disebut sebagai usaha menularkan kesadaran sosial-politis kepada publik Sumbawa. Mereka melakukannya di ruang publik terbuka; tepatnya di taman Lembi, Samota. Ada alasan mereka melakukannya di ruang publik terbuka. Itu adalah ‘menyalakan dan memberi warna ruang-ruang publik.’ Kata Naufal, “biar ruang publik gak dipakai buat yang gitu-gitu aja dan gitu-gitu lagi.”
Saat melakukan nobar dan diskusi, alih-alih sambil jualan, mereka menggratiskan kopi dan snack kepada audiens. “Bisa aja sih gua sambil jualan. Tapi gua pikir, diskusi dan belajar sambil berbagi dengan sesama adalah lebih baik,” kata Naufal. Perkara berbagi, mereka pernah berbagi buku di desa Tepal, dalam kesadaran akan rendahnya tingkat mutu literasi dan minat baca di Sumbawa. Shit.. they’re really unusual.
Saya pikir, saat mereka mengadakan pameran karya salah satu kawan mereka, Abe’, itu yang paling unik yang mereka lakukan sejauh ini. Pengapresiasi seni, sangat sedikit di Sumbawa. Jangan heran seniman tidak bisa hidup dari seni itu sendiri. Dorongan sudah mengapresiasi seni sejak awal mereka mulai. Saat mereka masih berkios di pantai Jempol, cukup rutin musisi lokal diajak main di mini gig dan akustikan mereka. Lalu mereka ngadain pameran karya lukis si Abe’, saat itu masih mahasiswa (seniman wanna be ). Sadar bahwa ngadain pameran butuh banyak hal yang harus disiapkan dengan matang. Mereka ngamen di perempatan Bugis menuju Jembatan Kerangka Baja selama kurang lebih dua minggu. Setelah dapat sejumlah uang yang dibutuhkan. Mereka langsung gas, ngadain pameran—setelah sebelumnya sempat ngeneng tabe’ ke pentolan Sumbawa Visual Art, kolektif yang paling rajin ngadain pameran seni visual.
Tidak hanya pameran karya seni, saat itu mereka juga menghadirkan tiga sastrawan lewat ‘tubuh ke-3’, ada Eyang Sapardi Djoko Damono, Eyak Dinullah Rayes, dan Bang Aan Mansyur. Ceritanya, tubuh ke-3 adalah upaya menghadirkan mereka lewat sarana virtual; visual video ketiga sastrawan itu dan pembacaan puisi oleh orang lain. Itu sangat tak biasa. Dan saya merasa rugi karena tak bisa menghadirinya. Sial.
Rombong kopi ini patut anda sambangi. Mereka mengolah kopi lokal Sumbawa dari desa Punik, sebagai racikan dan sajian utama. Biji kopinya juga diroasting di Sumbawa. Well, itu sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap pos-pos kopi di Sumbawa. Local proud, kata mereka.
Sebagai pembela pengupi yang sering diejek para barista milennial, pengupi yang kalau ngopi dimulai dengan ritual menggunting bungkus, pengupi kelas bawah, saya sempat menanyakan ini pada baristanya Dorongan. Bagaimana pendapat dia soal ejekan terhadap pengupi kelas bawah. Jawaban yang saya dapat mengejutkan; “ngopi aja kok repot.” Menikmati kopi berbeda dengan usaha menjadi keren. Fuck that!
Saat malam mulai tua, interview ini terpotong-potong sebab mereka harus melayani pelanggan yang datang nongkrong.
Sebagai rombong kopi yang demikian tidak biasa, saya punya ekspektasi pada Dorongan, semoga mereka bisa melakukan hal-hal yang (dengan agak berat saya sebut) progresif. Tentu dalam kadar dan dosis mereka. Sebab itu saya menutup bincang kemarin dengan dua tanya:
“apa selanjutnya?”
Demi kafein yang dikandung kopi, saya tak bisa lebih terkejut lagi mendapat jawaban: “apapun itu, selama sesuai dengan kami, gas! Dorongan tak pernah punya perencanaan. Kalau cocok, oke. Gas terus.”
“Melihat sekitar, apa yang harus diapakan?”
“Kopi. Diapakan saja supaya baik. Supaya tak repot. Kopi di Sumbawa, diapakan saja supaya bisa dinikmati.”
Shit. They’re good. Really really unusual.
Kopi yang mereka sajikan juga nikmat untuk dinikmati. Sembari menghilangkan gerah—Sumbawa panas banget—dengan es kopi, kulayangkan harap semoga kopi—entah diapakan—bisa mengaktualisasi kesetaraan, bukan malah menebalkan ketidak setaraan. Semoga pula kita bisa mengaktualkan dunia di mana kita bisa menjalani hidup tanpa harus terpisah dari bertahan hidup.
17 juli 2022