Baraka bercerita Tentang Kita
Judul : Baraka
Dokumenter - Non Naratif
Sutradara : Ron Fricke
Durasi : 96 Menit
Tahun Produksi : 1992
Lama Produksi : 14 Bulan
Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=inyqkYs2WUk
Opini
Tentang Kita
Sari yang dapat diperas dari film ini adalah tentang kita. Film ini seolah berpuisi “di antara tangis meronta-ronta, tingkah laku, dan bujur kaku kita..” kemudian sepanjang 96 menit menyuguhkan apa – apa yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia di sekitar kita.
Diawali dengan pict perihal doktrin religius keyakinan/agama, yang menandakan masa-masa awal kehidupan manusia, kemudian dilanjutkan dengan ajaran-ajaran adat kearifan lokal, tradisi – tradisi budaya masyarakat yang begitu menyatu dengan alam. Sepanjang sejarah peradaban manusia, banyak bukti bahwa dalam memenuhi kebutuhannya, yang dilakukannya cenderung “membunuh” dirinya sendiri. Entah pendapat ini benar atau salah, itulah yang saya tangkap dari scene yang menunjukkan progress peradaban dari masyarakat cultural / masyarakat budaya ke masyarakat modern seperti perusakan lahan hutan, yang mana perusakan hutan berakibat bencana.
Film ini dalam beberapa hal, menunjukkan kritikan terhadap perilaku manusia, senada seperti yang dilakukan Iqbal Sanggo lewat musik. Lewat lirik “mana hujan barat siwa, lamin salah si panyomo, no kawan kenang bajarip / mana ai adal subuh, lamin balong si panyomo, tu kenang maning kawan si.” Yang bermakna “meskipun besar/banyak anugerah yang diberikan, pabila salah cara disyukuri, untuk membasuh muka saja tak cukup, sebaliknya jika benar cara mensyukuri, meski sekedar embun pagi, bahkan untuk mandi sekalipun akan cukup.” dalam lagu “Panyomo” Iqbal Sanggo mengkritik perilaku manusia dalam mengekspolitasi alam.
Sequence yang menggambarkan peradaban modern, mungkin sekedar menampilkan betapa cepatnya perubahan terjadi, terutama kemajuan teknologi. Namun, apabila ‘didalami’, kita akan menemukan bahwa dalam persaingan modern itu juga mengakibatkan perubahan kemunduran, jika di dalam masyarakat cultural, kesenjangan sosial hampir – hampir tak ada, maka di dalam masyarakat modern, kesenjangan itu terlihat sangat jelas. Munculnya istilah “slum”, yang pada beberapa scene dalam film ini ditunjukkan dengan ‘sangat jujur’ adalah salah satu tandanya.
Film ini, membuka mata kita tentang keberadaan kultur yang dahulunya hal itu adalah pegangan hidup manusia, namun dalam kekinian semakin terpinggirkan. Beberapa scene menunjukkan hal itu. Seperti keberadaan seorang biksu yang tengah berdo’a di tengah keramaian kota di peradaban modern. Hal itu menunjukkan ketermarjinalan budaya di peradaban modern. Budaya hanya sekedar tontonan yang diapresiasi sebagai objek, misalnya budaya diapresiasi lewat fotografi.
Kemajuan peradaban mengakibatkan kebutuhan ekonomi, pengkotak-kotakan masyarakat, kemudian kelahiran politik. Kelahiran politik memunculkan keinginan berkuasa, kekuasaan diperoleh dengan konforntasi, kekuasaan memunculkan pemberontakan dan revolusi, semua itu berujung pada ‘akhir’ dan kehancuran. Sejarah membuktikan banyak peperangan terjadi karena keinginan menguasai potensi ekonomi. Penguasaan dilakukan dengan konfrontasi, seperti keangkuhan Hitler dalam tragedi ‘Treblinka’ pembersihan kaum Yahudi, juga pembantaian-pembantain lainnya. Penguasaan tentu saja tidak diterima, lahirlah pemberontakan. Hal itu terlihat dalam film ini pada scene kamp – kamp pambantaian di kamboja.
Proses, bagaimanapun memiliki titik akhir dari setiap tahap, dan dalam tahapan tertentu, manusia yang sebelumnya begitu angkuh, akan sadar dan pada tahap selanjutnya akan kembali ke alam, kembali ke arah yang baik, back to holy. Ini yang coba direkonstruksi dalam film ini ketika pada sequence akhir menonjolkan adegan – adegan religius peradaban manusia.
Film ini patut dipuji dengan tepuk tangan meriah, decak kagum “ck ck ck”, dan memberi label ‘Luar Biasa’. Bagaimanapun, film ini jelas bercerita tentang apa yang telah didapat Sutradara dalam hidup, lalu kemudian dia sampaikan melalui film ini. Akan tetapi, hal itu tak serta merta membuatnya sempurna, sebab Manusia adalah Kita; Pemikiran-pemikirannya menangkap sabda semesta; akan selalu ada ketololan kita.