1 tahun Presiden Jokowi ; Buat Promotor Musik Negeri dong Pak!



Buat Promotor Musik Negeri dong Pak!
Wawancara Imajiner dengan Presiden Jokowi
Spesial 1 tahun Pemerintahan Jokowi

Sebagaimana yang lu pada lihat, dengar, dan rasakan, pemerintahan pak Jokowi sudah 1 tahun berjalan. Sebagai salah satu rakyat Indonesia-negara yang beliau pimpin- saya pun turut merasakan setiap kebijakan, dan tindak – tanduk beliau di singgasana pemerintahannya.
Belakangan ini terkait naik-turunnya nilai tukar rupiah orang – orang pada ribut menganalisa pemerintahan Jokowi. Misalnya ada yang heran luar biasa dengan nilai rupiah yang hampir nyentuh 15rb/dollar AS. Terus, dikritik habis – habisan dah tuh kinerja Jokowi di perekonomian. Lantas, yang pihak pro nggak diam aja, mereka bela – belain, namanya juga pro!
Orang – orang yang pro ini, seolah dapat giliran bicara, saat nilai tukar rupiah mulai naik, mereka mengelu – elukan hal itu sebagai hasil positif dari kerja pak Jokowi dan jajarannya. Lantas pihak kontra pun nyindir; “saat rupiah turun nggak mau disalahkan,  giliran naik maju ke depan bilang kalau ini hasil kerja.” Di sini letak kelucuannya. Beberapa orang nyeletuk; “pas pilpres milih siapa, sekarang nagih ke siapa?” What!? Lucu kan celetukannya!? Gimana nggak lucu? Lah terserah ya, mau kita pilih siapa, yang jelas yang terpilih ya harus dengerin kita sebagai rakyat! Masak iya, kalau yang kita pilih nggak menang, terus kita nggak punya hak buat minta sesuatu yang baik buat kita sebagai rakyat, sebagai warga negara. Apa itu yang demokrasi kita ini hasilkan? Ketika hak pilih kita gunakan, terus pilihan kita kalah, hak kita sebagai warga Negara hilang. Kita jadi nggak boleh nuntut apa – apa dari yang menang, yang notabene-nya bukan pilihan kita. Waduh, kalau kayak gitu kan repot!
Nah, supaya nggak repot-lebih tepatnya saya nggak mau repot, kita ngobrol aja sama pak Jokowi. Kebetulan kemarin ketemu beliau di Strawberry Fields. Ini sepenggal obrolan kita.


*Selamat malam Pak Presiden, kenalkan saya Plackeinstein.

#Selamat malam. Salam kenal dek. Itu namanya Plackeinstein, ada hubungan apa sama Albert Einstein?

*Oh, nggak ada hubungan apa-apa pak, cuma ta’ sama-samain aja supaya lucu. Eisntein kan wong eropa pak, saya ya asli Indonesia bagian tengah.
-
*Bagaimana kabar bapak malam ini, sehat pak?

#Alhamdulillah sehat.

*Kemarin kan sempat ninjau lokasi kebakaran lahan pak, nggak terganggu kesehatan pernapasannya, pak?

#Alhamdulillah nggak dek, lah saya cuma sebentar di sana. Mungkin kalau lama ya bisa jadi terganggu, kayak korban – korban di sana. Kita do’akan saja semoga saudara-saudara di sana diberi kesehatan & keselamatan oleh Tuhan.

*Amin Allahumma aamiiin..
Hmm,, saya turut berduka cita pak atas kepergian neneknya.

#Terima kasih.. mohon dido’akan untuk kebaikan beliau di alam selanjutnya.

*Tentu,. Semoga setiap amal ibadahnya diterima Tuhan Yang Maha Kuasa.

#Aamiiin.. dari beliaulah saya banyak belajar kesederhanaan yang begitu lekat dengan citra saya sekarang.
Padahal gua gak nanya
-
*Nggak terasa, sudah setahun bapak memimpin Indonesia sebagai Presiden, apa yang bapak bisa ceritakan mengenai itu sekarang?

#Lah, adek ini wartawan mana toh? Tumben-tumbennya saya dapat pertanyaan gini, disuruh cerita toh saya, bukannya diburu pertanyaan-pertanyaan seputar ekonomi, soal ini itu.

*Saya bukan wartawan mana-mana pak, cuma rakyat biasa yang pengin jadi wartawan.

#Saya do’akan besok dilirik Kompas atau Tempo!

*Saya pinginnya Rolling Stone pak!
#oh,. adek ini suka musik toh?

*Bisa dibilang begitu pak!
Bapak kan suka musik, apa bapak juga konsumsi Rolling Stone?

#Rolling Stone itu kan Kitab-nya para penikmat musik, saya juga konsumsi, tapi sekarang-sekarang ini udah nggak terlalu sering, banyak urusan dek. Yang jadi konsumsi saya ya laporan-laporan tentang rakyat, tentang masalah-masalah di negeri kita ini.

*Hmm.. gitu ya pak. Bicara soal musik, kemarin Bon Jovi main di Senayan, bapak nonton nggak?

#Saya nggak nonton Bon Jovi kemarin.

*Apa karena bapak lebih cenderung suka musik metal?

#Salah satu alasan.

*Salah dua-nya apa pak?

#Salah dua-nya karena saya ini Presiden dek. Protokolernya rada ribet. Coba kalo saya masih di Solo atau di DKI, saya mungkin bakal nonton. Kayak dulu saya nonton OVJ di solo, itu seru.
Sekarang kan di RI 1, protokolernya takut ntar terjadi apa-apa, atau malah mengganggu konser, kan bisa-bisa pecinta musik jadi nggak suka saya.
Kita ini kan dinilai dek sama orang-orang, jadi kita harus mikirin penilaian orang. Coba kalau orang-orang nyerahin soal penilaian itu ke Tuhan aja, kan jadinya nggak ribet kayak kondisi peradaban manusia sekarang ini.

*Maksud bapak kecenderungan manusia untuk menilai sesamanya itu membuat peradaban jadi ribet, bagaimana ceritanya?

#Ya jelas toh dek. Sekarang saya Tanya, yang tentukan baik dan buruk itu siapa? Tuhan kan?

*Iya pak, Tuhan.

#Terus kok manusia ikut-ikutan Tuhan menilai baik & buruk,. Berarti manusia mau jadi Tuhan dong?

*Mungkin mau melampaui manusia pak.

#Yang lebih dari manusia, memangnya apa?

*Kalau menurut Nietzsche, Adimanusia pak.
Lagian pak, kita dikasih akal-pikiran kan buat berpikir, dan sebagai manusia yang dianugerahkan pikiran, hal – hal yang terjadi di dunia ya kita pikirkan. Dan dengan itu kita menilai.

#Ya cukup menilai diri sendiri saja lah.
Bukannya akal pikiran itu rawan dek?

*Rawan sama godaan dari syaiton maksudnya pak?

#Iya, bagaimana menurut dek Plackeinstein?

*Iya juga sih. Terus bagaimana soal menilai menjadikan peradaban manusia ribet pak?

#Ya ribet dek. Karena kecenderungan manusia menilai sesamanya, manusia jadi cenderung berlaku yang dibuat-buat, nggak natural, karena sadar bahwa manusia lain bakal menilai kelakuannya.

*Loh kok ribet gitu ya pak?

#Kan tadi saya bilang soal itu memang ribet!

*Terus menurut bapak, kalau soal menilai itu nggak dilakukan manusia, jadinya bagaimana?

#Situasi jadi nggak ribet dek, bakalan simple. Karena orang – orang bakal berlaku natural. Jadi kelihatan mana yang bener-bener baik dan pura-pura baik, mana yang beneran jahat dan pura-pura jahat.
Kalau orang – orang nggak menilai, ya nilainya bakal kelihatan secara natural. Tapi tetap jangan menilai, urusan menilai kita serahkan sama Tuhan saja.
Penilaian ya cukup adanya di sekolah, di kampus, di rumah sakit, di kantor polisi dan pengadilan, ya kayak gitu-gitu. Poinnya, biarkan yang berwenang yang menilai. Polisi itu kan punya wewenang, ya dibiarkan untuk menilai pelanggaran dan bukan.

*Kok malah tambah ribet?

#Lah kan memang dari awal saya bilang, kalau soal ini memang ribet, dek.

*Iya juga sih, berarti saya yang salah.

#Ya biar Tuhan aja yang nilai.
Nggak perlu kita, nggak perlu polisi, atau pengadilan.

*oke oke pak.
Oh ya pak, bagaimana kalau diri kita sendiri yang minta penilaian?

#Bakalan ribet lagi nih ngejelasinnya!
Dek Plackeinstein mau kita jalan di dalam keribetan lagi?

*Iya juga ya, ntar setelah penjelasan bapak, saya malah bertanya-tanya dan merasa lebih ribet…

#Nah itu tau, karena memang ribet dek.
Kita obrolin yang lain saja lah..

*oke pak.
Nah perihal sepakbola kemarin, kok PSSI dibekukan pak?

#Itu supaya PSSI lebih baik lagi. Ntar kalau PSSI sudah baik, kita urus lagi sama FIFA, terus bisa jalan normal lagi. Kelihatan kan jelas, jangankan PSSI, FIFA aja nggak beres dek. Setelah PSSI dibekukan, kemudian disanksi oleh FIFA, eh FIFA-nya juga bermunculan ketidak beresannya. Kenapa nggak ada yang melihat kalau perbaikan FIFA itu sebagai dampak keberanian kita di Indonesia memperbaiki PSSI?

*Itu Narsistik pak, memuji diri sendiri.

#Saya cuma ngetes dek Plackeinstein saja. Ternyata dek Plackeinstein masih menilai.
Bukannya menyerahkan penilaian itu ke Tuhan dan pihak yang berwenang lainnya.

*Kalau soal wewenang, kan setiap warga Negara juga berhak pak.

#Tuh kan ribet lagi, dek.

*Sorry, sorry pak.
Kita balik aja ke sepakbola.
Setelah Piala Presiden, bapak janji bakal gelar turnamen lagi, terus yang muncul Piala Sudirman buat sepakbola.
Bagaimana tanggapan bapak soal tanggapan para pengamat mengenai turnamen sepakbola?

#Ya, pengamat menanggapi ya sesuai kapasitasnya sebagai pengamat. Sekarang begini, PSSI kan lagi diperbaiki, dan dalam perbaikan itu posisi PSSI disanksi oleh FIFA, yang membuat PSSI dilarang menggelar kompetisi. Saya tahu kalau turnamen bukan solusi permanen, itu jelas. Tapi ya untuk sementara, ya digelar turnamen supaya para pelaku sepakbola nggak jadi pengangguran yang mana pengangguran kan selalu jadi masalah buat semua Negara di dunia ini. Daripada tidak sama sekali, mendingan kan ya gelar turnamen. Saya tahu kompetisi regular bisa menempa pemain jadi lebih baik yang bisa berimbas kepada prestasi tim nasional yang sangat dirindukan. Intinya, mari optimis bahwa PSSI ke depannya bakal lebih baik, dan dapat segera menggelar kompetisi yang lebih baik, agar para pemain bisa jadi lebih baik, dan prestasi timnas jadi lebih baik.

*Amin,. Mudah-mudahan ya pak.

-
*Perihal 1 tahun pemerintahan bapak, sejauh ini bagaimana bapak melihatnya, dan bagaimana ke depannya?

#Yang paling penting kita terus bekerja, target – target yang kita buat harus terus diusahakan untuk dicapai. Soal pencapaian, biar dinilai sama pengamat saja, supaya saya nggak dikira menilai diri sendiri, apalagi kalau saya nilainya bagus-bagus, entar menimbulkan komentar – komentar lagi.

*Bicara soal target, di sisi ekonomi kemarin rupiah goyah, melemah sampai titik 14rb lebih, apa itu target juga?

#Ya jelas bukan lah.. itu imbas dari galaunya perekonomian dunia juga dek. Alhamdulillah kita bisa atasi.

*Oh ya pak, kemarin itu pak JK minta supaya regulasi - regulasi tidak menghalang & menghambat investor, gimana tanggapan bapak?

#Kalau soal itu, jelas penting. Investor kan diperlukan untuk memajukan perekonomian kita. Ya regulasi jangan sampai menghalang & menghambat lah, supaya perekonomian bisa dirangsang untuk maju.

*Apa nggak takut dibilang pro kapitalis pak, yang mana memang cenderung lebih banyak merugikan daripada menguntungkan.

#Yang menilai itu Tuhan.
Biar aja dinilai pro kapitalis, tapi kan demi kesejahteraan rakyat, dan demi kepentingan Negara dek.

-
*Kita balik saja soal musik pak.
Menilik para pendahulu bapak, misalnya almarhum Bung Karno yang jelas sekali ingin mengaktualkan musik Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan, dulu kan pernah melarang musik – musik barat. Rock n’ roll dibilang ngak ngik ngok.. terus almarhum Gus Dur konon suka musik klasik.. pak SBY yang memang musisi, pak SBY nyiptain beberapa lagu, terus dalam beberapa kesempatan pak SBY juga pernah nyanyiin lagunya Jamrud. Belaiu juga meresmikan hari musik nasional yang sudah diwacanakan di era bu Mega. Gimana bapak melihat musik kita?

#Musik kita bagus. Luar biasa. Sekarang angklung di banyak Negara mulai dimainkan, Burgerkill main di eropa. Artinya musik kita mulai mengaktualkan diri ke dunia internasional. Dek Plackeinstein tau kan udah banyak musisi kita yang mulai melebarkan sayap ke luar negeri.

*Tapi menurut saya pak, musik yang mana yang kita harus aktualkan itu masalahnya. Kalau musik yang dimainkan itu musik – musik rock, pop, metal, ya wajar – wajar saja menurut saya kalau diterima di belahan dunia barat, sebab ya memang musik – musik itu dari sana.
Kenapa kita nggak dukung gerakan bang Haji Rhoma yang mulai melebarkan sayap mencoba curi perhatian amerika.

#Tepat sekali dek! Dangdut is the music of my Country memang harus diaktualkan ke dunia barat. Supaya musik ini bisa diterima, dan diapresiasi oleh seluruh dunia. Pendapat dek Plackeinstein..

*Plack aja pak biar nggak ribet.

#Oh, ok! Pendapat dek plack ini menarik! Seperti reggae yang sekarang akhirnya bisa sampai ke semua orang di seluruh dunia seperti keinginan Bob Marley, Dangdut harus didukung untuk menginvasi telinga orang – orang. Sebab inilah musik populer yang beneran asli Indonesia. Semangat dangdut juga semangat yang baik, hanya saja belakangan ini, semangat dangdut mulai bergeser. Tidak seperti ketika bang Rhoma muda dulu. Harus ada Rhoma – Rhoma yang baru!
Sepertinya ini bisa jadi pembahasan di kementerian kebudayaan.
Bagaimana menurut dek Plack sendiri.?

*Waduh pak, saya ini bukan pengamat musik lho..

#Tapi kan dek Plack punya pikiran soal itu, masak iya toh nggak pernah diselami pikirannya..?

*Ya pernah sih pak..

#Nah, coba saja ceritakan ke saya, kan tugas saya juga menyerap aspirasi rakyat,.

*Oke pak. Balik dulu ke poin tadi ya pak, soal bagaimana musisi – musisi kita mulai didengaar di belahan dunia barat. Ini hal positif yang perlu didukung, musik kan soal selera ya pak, ya kita nggak bisa paksa orang buat suka dangdut. Tapi kalo bicara soal kebudayaan, kenapa tidak dicoba toh untuk mencintai budaya nasional kita. Lah wong batik, sejak diperebutkan sama Malaysia, orang – orang jadi gencar menerima batik sebagai identitas nasional. Ya posisikan aja diri kita masing – masing di posisi pada kasus batik itu untuk menerima dangdut sebagai bagian dari identitas kita sebagai orang Indonesia. Kan project pop udah kapan hari proklamirkan dangdut is the music of my country.
Yang selalu saya tanyakan, kenapa musisi – musisi barat, terutama amerika dan inggris bisa besar jadi sebesar-besarnya. Seluruh dunia kenal Elvis Presley, The Beatles, dan nggak sekedar dikenal, musik mereka dicintai. Sebesar-besarnya Rhoma Irama, Slank, atau Iwan Fals, atau para legenda musik kita yang lain, toh mentok-mentok nggak besar-besar amat dibandingkan Nirvana, Parl Jam, apalagi Elvis atau Beatles. Besar-besarnya musisi kita, Cuma di negeri sendiri aja. Nggak bisa mendominasi pasar dunia.
Coba bayangin pak, Nirvana yang baru muncul akhir 80-an, udah diinduksi ke Rock n roll Hall of Fame Museum pak! Lah Rhoma Irama, Benyamin S, udah jauh hari main musik, belum juga dilirik buat diinduk.

#Wah, ternyata ini menarik dek Plack.
Sepertiny saya harus mencari solusi yang baik buat industry musik kita. Masalah – masalah lama seperti pembajakan, dan pelestarian musik dan semangat positifnya, dan banyak lainnya.
Selain musik tradisional yang perlu dilestarikan, musik populer juga perlu diperhatikan. Bagaimana kiranya langkah yang tepat?

*Ini sekadar pendapat saya ya pak, yang jelas saya bukan pengamat musik.
Saya sangat setuju dengan bapak soal pelestarian musik dan semangatnya!
Musik – musik yang memiliki semangat positif sekarang ini tengah berada di titik nadir. Kita lihat bagaimana industri dipenuhi musik – musik yang semangatnya tidak jelas, entah apa. Tapi kita tentu bisa lihat kan, apa semangat yang ada dalam musik – musik Rhoma Irama, Iwan Fals, Slank, RAS Muhamad, dan banyak lainnya. Ada semangat positif di dalam musik mereka. Sekarang, mari kita lihat semangat apa yang ada dalam musik – musik dangdut yang mendominasi industry sekarang seperti lagu Buaya Buntung, Hamil Duluan, atau apalah – apalah.. semangatnya nggak ada! Bandingkan dengan semangat yang ada di lagu Judi dari Rhoma Irama. Jauh berbeda kan? Seni ya seni, bebas aja sih mengekspresikan seni, tapi kan lebih baik lagi, lebih indah lagi kalau di dalam seni itu ada semangat positif.

#Setuju!

*Saya lanjut ya pak.
Ya kita nggak bisa ngelarang dan ngelawan industri yang udah kadung begitu jadinya. Tapi kita bisa buat sesuatu hal yang baru. Menurut saya, gimana kalau bapak buat Promotor Musik Negeri aja pak!

#Maksudnya apa tuh dek?

*Ya kayak sekolah, ada yang swasta, ada yang negeri. Televisi ada TVRI yang punya pemerintah. Atau mungkin bisa berbentuk BUMN, biar ada profitnya buat Negara.

#Wah ide menarik itu.

*Tapi ya jangan malah ikut arus swasta, yang cenderung bener – bener nyari untung, ideology ditanggalkan. Yang ada malah jadi pembodohan ntar pak. Rakyat disuguhin musik Hamil Duluan, ya ntar pada hamil duluan juga. Mbok ya disuguhin musik begadang jangan begadang kalau tiada artinya, supaya anak – anak sekolah nggak kebanyakan begadang malam, sebab gara – gara sering begadang malam,  pelajar jadi males sekolah pak!
Ya dengan sering – sering disuguhin lagu begadangnya bang Haji kan mereka bisa jadi nggak suka begadang.

Intinya sih pak, buat lembaga Negara yang khusus ngurus soal musik. Dari mulai mulai rekamannya, terus distribusi produknya, sampai ke soal tournya.

Yang paling utama sih biar bisa ngurus tournya, supaya orang – orang seperti saya ini yang tinggal jauh dari pusat industry bisa nikmatin paket – paket rock n roll, paling tidak sebulan sekali. He he.. Promotor Musik Negeri yang ngadain konser – konser buat daerah – daerah yang jarang banget disambangi musisi – musisi keren.
Sebenarnya sih karena saya pingin banget tonton Slank, Iwan Fals, GodBless, dan lain – lain yang keren – keren itu pak.

Terus yang lebih penting lagi soal semangat pak, yang bernaung di label ini ya diseleksi ketat kayak seleksinya Akabri. Supaya musisi yang bernaung di lembaga ini musisi yang benar-benar punya semangat positif dalam bermusik.

Kan industry musik ini industry yang seksi pak, duit cukup banyak berputar di sini.

Bayangin pak kalau dari lembaga ini bisa muncul John Lennon yang baru, terus bisa besar ke seluruh dunia, coba tengok pak, sudah berapa tahun John Lennon meninggal, tapi masih menghasilkan duit aja dia.

Bisa jadi pak lewat lembaga ini muncul musisi dangdut yang punya semangat positif dalam bermusik, terus bisa besar dan suatu saat bisa diinduk ke rock n roll hall of fame museum. Wuidih.. kan keren pak, di sana bersanding sama Elvis, John Lennon, Bob Marley, Kurt Cobain, dan musisi besar lainnya.

#Gagasan ini menarik, dek. Sepertinya perlu segera membahasnya dengan jajaran saya.

*Ok pak terima kasih atas waktunya.

Pak Jokowi pun berangkat dengan Paspamres mengawalnya.

Demikan penggalan wawancara dengan Pak Jokowi kemarin, entah pak Jokowi cabut karena gagasan saya menarik, atau mungkin justru nyeleneh. Seperti kata beliau tadi, biar Tuhan saja yang menilai.

Paling Jungkir Balik

Filsafat Tidur

Forever 27 Club; Chairil Anwar dan seorang lagi dari Indonesia

Semiotika SAMBAVA; Sebuah Manifesto Kebudayaan