Rocktober Review
Rocktober Review
Rocktober will over! Bulan Oktober sudah di penghujung dan akan segera berakhir. November di depan sudah menanti.
Kita bisa berharap hujan bakal turun bulan depan, selain supaya kita semua nggak menggerutu karena gerah, tentu juga agar asap dari pembakaran hutan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab di Sumatera dan Kalimantan sana bisa teratasi, agar teman – teman kita di sana kembali bisa bernafas lega yang beneran, bukan sekedar istilah. Buat yang masih galau gempita kehidupan asmaranya, bulan depan anda bisa menikmati kegalauan dengan tema yang tepat. Silahkan bergalau-ria dengan mendengar November Rain dari Guns n’ Roses yang kondang itu.
Nah, sebelum kita beranjak ke November, mari kita meninjau ulang apa saja yang terjadi di Oktober kemarin, khususnya di dunia musik.
Oktober dimulai dengan hawa – hawa Festival Moyo di September yang menampilkan dua Kelompok Musik yang memadukan musik Tradisional dan Modern, Sambava dan Losonk. Dan juga hawa – hawa Sopo Ate Saling Beme Compilation, album kompilasi yang dirilis Sumbawa Indie Movement dan Antagonist Record.
Baru saja Oktober berumur 3 hari, sebuah pagelaran musik disuguhkan untuk publik Sumbawa. Pagelaran bertajuk Class Music Parade II yang disponsori salah satu produsen rokok ini berhasil menyedot massa yang cukup banyak. Band – Band seperti Dedemit, D’junkissme Blues, Abeman, Chylzea, dan banyak lagi memberi suguhan musik yang menghibur publik.
Secara Kuantitas, Class Music Parade II sudah mantap, mereka hadir dengan banyak performer dari beragam genre. Tapi secara kualitas, mantap belum dicapai. Karena memang cukup banyak band - band baru yang tampil. Meski beberapa dari band – band baru itu digawangi oleh muka – muka lama, tetap saja kekompakan belum terlihat mantap.
Mari kita singkirkan persoalan mantap dan tak mantap. Pagelaran seperti ini tetap harus didukung, sebab tak bisa dipungkiri, kesudian sponsor menggelar pagelaran musik menjadi factor penting dalam musik Sumbawa. Bayangkan kalau sponsor tak ada, pemusik mau main di mana? Sebagai incubator, event – event seperti ini penting bagi proses berkembangnya musik Sumbawa.
Anak Singkong yang dibawakan Abeman dengan Reggae Version malam itu seperti menjadi intisari, tentu dalam segi selera musik para penonton. Itupun dari kacamata saya. Bagaimana ketika Dedemit tampil dengan musik cadas mereka, hanya segelintir penonton yang menikmatinya. Seperti yang tertuang dalam lirik Anak Singkong; Aku suka Singkong, Kau suka Keju. Aku suka Jaipong, Kau suka Disco. Selera memang tak bisa dipaksakan. Ada yang antusias ketika performer yang tampil membawakan musik bergenre Pop, ada yang antusias dengan Reggae, ada yang antusias dengan Rock, ada pula yang antusias dengan Blues.
Menyinggung Blues, selama ini memang jarang terdengar di blantika musik Sumbawa. Tapi di tahun 2015 ini, sebuah band muncul dengan mengusung genre ini. Ialah D’junkissme Blues, band yang digawangi Donie, musisi yang boleh dibilang sudah cukup lama bergelut di musik Sumbawa. Mendengar melodi – melodi Blues, penonton tersihir.
Video Performance D'junkissme Blues - Dok.Pribadi (Donie D'junkissme)
Mari sama – sama berharap, semoga besok – besok Sumbawa bisa menggelar event Sumbawa Berisik, seperti Bandung Berisik; pagelaran musik cadas nan ganas yang rutin digelar di Bandung, kiblatnya musik underground cadas Indonesia. Sebab pada Class Music Parade II kemarin, Dedemit berhasil membuat Kota Sumbawa menjadi berisik seberisik – berisiknya!
Yang patut disayangkan pada event kemarin adalah absent-nya band- band seperti Drug Stone, KDCD, The Boys dan Boom To Rock di daftar performer. Selebihnya, Class Music Parade II sudah berhasil menyuguhkan hiburan musik yang cukup mantap!
Absen-nya Drug Stone di Class Music Parade II dibayar oleh penampilan mereka di YesArt! – Where The Creativity Begin! Yang digelar UKM Seni Universitas Teknologi Sumbawa; YesArt! pada tanggal 11 oktober. Mereka tampil powerfull membawakan hits mereka Cause All is Here in Samawa dan Smoke on The Water dari Deep Purple. Acara yang dikonsepsikan sebagai ajang mencari bakat – bakat musik di lingkungan kampus UTS itu cukup menarik. Dan penampilan Drug Stone di sana adalah puncak pelepasan penat para mahasiswa yang melulu disibukkan urusan kuliah. Penampilan mereka seperti sebuah oase bagi beberapa mahasiswa. Terbukti dengan adanya beberapa mahasiswa yang ber-slam dance dan head-bang saat Drug Stone tampil.
![]() |
| Penampilan Drug Stone di YesArt! UTS - Dok.Pribadi (from Darliansyah Drugstone's facebook account) |
YesArt! sendiri terbilang sukses mengaktualkan bakat – bakat musik dan mental – mental pede para peserta. Tinggal menunggu hasil dari penyaluran bakat mereka di YesArt! saja, apakah mereka bisa menjadi lebih baik.
Asumsi saya, dan juga pendapat beberapa musisi Sumbawa dalam beberapa interview yang saya lakukan. Kehadiran Club/Café/Pub/Gigs yang bisa menjadi tempat untuk tampil adalah salah satu masalah bagi para musisi lokal sumbawa. Tahun ini, muncul spot tongkrongan yang patut ‘dicurigai’ dapat menjadi wadah itu. Ialah Dog Town Rock Bar, spot yang saat launching dulu dengan mantap menyuguhkan suguhan musik. Nah pada bulan Oktober ini, Dog Town Rock Bar dalam beberapa weekend, menyuguhkan penampilan Unplugged dari para musisi lokal Sumbawa. Pertanyaannya kemudian, akankah kehadiran Dog Town Rock Bar bisa membangkitkan musik Sumbawa?
Dengan nama yang jelas sangat berkaitan dengan musik, dan owner yang juga insan musik Sumbawa, mari berharap Dog Town Rock Bar ke depannya bisa menggelar acara musik yang lebih besar, lebih rutin, dan lebih mantap.
Jika ada event musik yang luput dari Rocktober Review ini, itu murni karena kudet-nya gua semata! So, mari berharap akan ada banyak pagelaran musik di November nanti.
Selamat menyambut November !
