Respon terhadap tagar #KamiTidakTakut
Sesudah tagar #PrayForParis menjadi tren pasca serangan bom di Paris, tren tagar #PrayForJakarta meledak menyusul serangan bom yang meledak di Ibukota Indonesia, Jakarta. Secara cepat di sosial media tagar ini terus berkembang jadi tagar #KamiTidakTakut.
Yang mengherankan bagi saya, aroma setiap ciutan dan koar - koar di media sosial yang dibumbui tagar #KamiTidakTakut itu baunya rada aneh, plus mencurigakan. Entahlah...
Media seperti televisi juga turut mempopulerkan tagar yang konon merupakan bentuk dukungan terhadap korban dan proklamir respon terhadap seranga bom yang katanya dilakukan teroris.
Masyarakat, sepertinya memang tidak takut, tapi kaget dan terkejut. Itulah respon awal yang tepat. tapi kemudian muncul tagar #KamiTidakTakut tentu saja ditujukan kepada terorisme.
Boleh dikatakan seperti itu bukan,? bahwa Tagar #KamiTidakTakut dilontarkan kepada terorisme.
yang jadi persoalan, bagi saya itu tadi... Aroma dari tagar ini mengandung aroma aneh..
Boleh dikatakan seperti itu bukan,? bahwa Tagar #KamiTidakTakut dilontarkan kepada terorisme.
yang jadi persoalan, bagi saya itu tadi... Aroma dari tagar ini mengandung aroma aneh..
Rasanya saya mencium aroma olok - olok kepada terorisme.. Masyarakat menganggap serangan itu dilakukan segelintir orang - orang bodoh yang mudah dipengaruhi doktrin radikal.
Jadi kebodohan kelompok itu diolok - olok, disalahkan, dan seperti menantang, koar - koar #KamiTidakTakut.
Jadi kebodohan kelompok itu diolok - olok, disalahkan, dan seperti menantang, koar - koar #KamiTidakTakut.
Apa benar tidak takut?
Saya malah takut, tapi takutnya beda..
Takut kalau Teroris malah tertantang dengan #KamiTidakTakut, nyerang lagi dah.
Saya malah takut, tapi takutnya beda..
Takut kalau Teroris malah tertantang dengan #KamiTidakTakut, nyerang lagi dah.
Memang benar Masyarakat Tidak Takut, meski ada ledakan Bom, yang jualan tetap jualan, artinya Tidak Takut.. tapi tunggu dulu.. bukankah mereka tetap berjualan, yang narik angkot tetap narik, dan yang bekerja tetap bekerja bukan karena tidak takut? melainkan karena harus mencari rezeki, karena takut setoran kurang, dan takut lapar, dan sebagainya.
Intinya, mereka go on justru karena takut,. meski pada hal lain..
Intinya, mereka go on justru karena takut,. meski pada hal lain..
Yang paling saya takutkan adalah masyarakat menjadi semakin dan semakin buruk, semakin mudah menertawakan, semakin suka menggolong-golongkan, sehingga melahirkan orag - orang yang mereka anggap bodoh yang doyan meneror.
Dari manakah Pelaku teror itu muncul?
Dari langit? Tidak kan?!
Dari langit? Tidak kan?!
Pelaku Teror adalah anggota masyarakat yang cukup bodoh untuk mau terhasut doktrin - doktrin radikal.
Jadi pertanyaannya kemudian, Masyarakat macam apa yang melahirkan manusia yang cukup bodoh yang mudah dipengaruhi seperti pelaku teror?
Apa sudah beres sistem di masyarakat kita?
Apa sudah beres sistem bermasyarakat kita?
Apa sudah beres sistem bermasyarakat kita?
Pertanyaan ini juga cocok buat kita yang ada di Sumbawa.
Bukankah Dekadensi telah dan tengah terjadi di masyarakat?
Jangan Heran kalau masyarakat Sumbawa sekarang melahirkan Pemadat Junkie 'obat batuk'. Melahirkan kreativitas ambigu yang digunakan sebagai senjata berburu selangkangan.
Bukankah Dekadensi telah dan tengah terjadi di masyarakat?
Jangan Heran kalau masyarakat Sumbawa sekarang melahirkan Pemadat Junkie 'obat batuk'. Melahirkan kreativitas ambigu yang digunakan sebagai senjata berburu selangkangan.
Entahlah.... lalalala