Senang Berkenalan Denganmu | Nice To Meet You
“
Sabar.
”
Kau hanya belum
bertemu orang – orang yang pantas kau berikan
kalimat ‘Senang Berkenalan Denganmu’, itu saja.
Bersabarlah
sedikit lagi.
Aku terperanjat, seperti adegan orang yang baru
saja mengalami mimpi buruk dalam sinetron – sinetron ajaib yang disiarkan
televisi. Sebuah mimpi memang baru saja kualami, membuat kutang dan bantalku,
juga sebentuk pada seprai pelapis kasur, basah. Segera aku beranjak dari tempat
tidur, menyalakan lampu kamar, lalu membasuh muka di kamar mandi. Kemudian
bingung, masih di pikirku mimpi yang baru saja kualami. Aku kembali ke kamar,
kuraih bungkus rokokku di meja panjang––lemari yang kutidurkan dekat tempat
tidur, tempat bertumpuk buku – buku, surat – surat dari teman di luar kota, dan
banyak barang yang entah kugunakan untuk apa. Masih dalam pikirku mimpi itu, kuraih
botol air minum––menyegarkan tenggorokanku. Kunyalakan lighter dan menyulut rokok, kuhisap dalam – dalam, dan kemudian
duduk. “Apa maksudnya?” pikirku bingung.
Belum habis sebatang rokok, ketika kulihat jam
dinding menunjukkan waktu pukul 9 lebih 10 menit malam. Aku bangkit, meraih
kunci, lalu pergi. Sepanjang perjalanan singkat menuju tempat nongkrong yang menyajikan kopi paling
nikmat di kota kecil yang memuakkan ini, yang terlintas di otakku hanya pikiran
yang menegaskan diriku untuk tidak lagi tidur di sore hari. Ini kali kedua aku
mengalami mimpi buruk aneh yang membingungkan, dan benar – benar tidak ingin
mengalami lagi! Mimpi pertama menempatkanku di sebuah ruang luas dan gelap, berusaha
meraih – raih, tapi di ruangan itu tak ada sesuatupun yang bisa diraih. Bagiku
mimpi itu lebih seram dari sekadar mimpi dikejar setan. Sialan!
Setiba di kedai, hanya ada tiga orang. Dua orang
adalah pasangan yang memang sering datang ke tempat itu, mereka tengah
bercengkrama––entah tentang apa, yang satu lagi si peracik kopi, tentu saja.
Tidak ada yang kukenali, selain peracik kopi. Syukurlah.. aku sedang tidak
nyaman bertemu orang – orang yang kukenal, yang akan begitu banyak, membual.
Aku langsung menuju bar.
“Hey Jon,.” sapa si peracik kopi setelah
melihatku mendekat ke bar. Aku menggerakkan kepala––mengangguk membalas
tegurannya, kemudian duduk, persis di ujung. Ia kembali menunduk, tampaknya ia
tengah membaca. “Apa yang kau baca?” tanyaku. Ia hanya menggoyang – goyangkan
tusuk gigi yang selalu ia mainkan di mulutnya.
“Ulasan Soundrenalin, Rolling Stone.” jawabnya
singkat, dengan tusuk gigi yang masih di mulutnya. Ia kemudian meletakkan
majalah yang ia baca, dibiarkan terbuka di halaman terakhir yang ia baca,
meraih tusuk gigi di mulutnya, ”Minum apa? Yang biasa?” akhirnya ia bertanya.
Aku mengangguk.
Aku ingin meraih majalah itu dan membacanya,
tapi sebenarnya aku tak benar – benar ingin, jadi kuurungkan hal itu, lagi pula
si barrista belum selesai membacanya.
Terlebih lagi, yang benar – benar kuinginkan adalah mengalihkan pikiranku dari
mimpi tadi, bukan membaca ulasan tentang festival yang jauh lebih keren dari
festival tahunan yang baru – baru ini digelar di kota kecil ini. Aku membakar
rokokku, menghisapnya dalam – dalam, dan terus berusaha membuat mimpi tadi
lenyap bersama asap rokok. Sialan! Waktu singkat yang dibutuhkan untuk meracik
kopi, kali ini terasa panjang sekali, benar – benar sialan!
Akhirnya kopi tersaji di hadapanku, masih panas,
kuseruput sekali, tepat saat kuhembuskan asap rokok, sehingga asap rokok
bersatu dengan uap kopi panas, berhembus ke udara, begitu rupa. Kuperhatikan
lamat – lamat, dan kulakukan lagi, dan lagi. Sampai uap tak lagi mengepul dari
air kopi di cangkir putih itu. Sialan, tetap saja tak bisa pergi mimpi itu dari
pikiranku. Meski memperhatikan menyatunya asap rokok dan uap air kopi,
pikiranku masih saja tentang mimpi itu.
Beberapa saat kemudian, saat si barrista tengah melanjutkan bacaannya
tadi, kuputuskan untuk mencoba memahami maksud mimpi itu. Tapi aku malah merasa
bosan, terutama dengan musik yang diputar di laptopnya yang dicolok ke speaker,
dan suaranya memenuhi ruangan. Teriakan yang dibuat – buat Adam Levine di
bagian akhir lagu Lost Stars benar –
benar membuatku muak, bagiku itu membuat lagu itu tak sedap didengar. Aku lebih
suka versi Keira Knightley. Sebelum sampai bagian itu, kuputuskan untuk
menyelamatkan telingaku, dan membuang malu, bertanya ke si barrista,
“Itu Youtube?”
Ia
menoleh dan mengangkat alisnya, tanda bahwa ia tak memperhatikan pertanyaanku
tadi, ia fokus membaca.
“Itu Youtube?” kataku sekali lagi sambil menunjuk
laptopnya.
“Iya.”
Jawabnya, singkat.
“boleh
aku memilih lagu?”
“tentu, silahkan,.”
Aku bangkit, lalu seorang laki – laki dengan
jaket bertudung kepala menghampiri bar, laki – laki itu membuka tudung
kepalanya, bagian putih bola matanya, sepertiku, tidak putih bersih lagi,
kuning, kata orang. Miliknya, ada bercak kemerahan, membuatnya terlihat seram.
Laki – laki itu kemudian duduk di kursi sebelahku.
Si barrista
mengangkat kepalanya, “Eh, bos,.” katanya, laki – laki itu mengangguk.
“yang biasa?” tanya si barrista
sambil menggerak – gerakkan tangan memberi isyarat. Lagi, laki – laki itu hanya
mengangguk. Aku tidak memperhatikan adegan itu sama sekali, hanya berjalan ke
meja tempat laptop si barrista. Kuangkat
layar laptop yang dicondongkan ke bawah itu, lalu buru – buru mengklik video
yang tengah diputar, syukurlah lagu itu terhenti. Sial benar, di depan laptop
itu aku malah bingung harus memutar lagu apa, garis lurus di kolom pencarian
terus saja berkedip, dan saat si barrista
menggiling biji kopi, suaranya jadi begitu berisik, gara – gara tak ada
musik.
“Lagu apa yang kamu cari?”
Aku menoleh, dengan tampang bingung, kujawab “bingung..”
Tanganku menempel di bodi laptop, tapi jari –
jarinya terangkat ke atas––siap menghajar huruf apa saja yang diperintahkan
otak, tapi aku benar – benar dilanda kebingungan, dua bulan belakangan ini aku
begitu sering menyumpal telingaku dengan headset
dan memutar lagu – lagu barat favoritku untuk mengusir rasa bosan, sedih,
marah, dan muak yang menjangkit, aku jadi bingung. Sialan! Aku rasa aku ingin
mendengar suara keren Patti Smith, yang sampai nenek – nenek masih tetap keren,
dan terutama karena dia sering membawakan lagu – lagu seperti membaca puisi.
Baru nama Patti Smith yang kuketik, belum judul
lagunya, aku merasa rindu ibuku, meski tak sampai ingin menemui beliau, kuhapus
nama Patti Smith, lalu kuketik [Pink Floyd – Mother] dan menekan tombol Enter. Tepat di saat hasil pencarian
muncul, aku malah merasa tak ingin menghilangkan rasa takjub yang kurasa ketika
sebulan lalu, untuk pertama kalinya aku menonton film Roger Waters – The Wall yang kuunduh secara ilegal, tentu saja.
Sebab di kota kecil ini tak ada bioskop! Film rilisan 2014 itu, baru bulan lalu
kutonton. Sialan! Karena tak ingin menghilangkan rasa takjub itu, aku tak
memutar satupun video hasil pencarian lagu Mother
dari Pink Floyd itu. Kupikir
sebaiknya aku mendengar penampilan Patti Smith pada malam penutupan club CBGB
di New York sajalah. Tapi kemudian aku rasa aku rindu sesuatu yang ketimuran,
mungkin dangdut. Tapi karena di dalam mimpi yang masih bercokol di pikiranku
itu aku babak belur, aku jadi teringat Joni Balraaj, pemilik klub malam Bombay
Velvet yang mati babak belur dihajar dan ditembak. Dan saat itu juga tanganku
bergerak cepat menekan tombol – tombol huruf di kibor laptop si barrista.
Kuketik BOMBAY VELVET SOUNDTRACK di kolom
pencarian, dan menekan tombol Enter. Kemudian
mengklik salah satu playlist yang
memuat soundtrack film Bollywood dengan
setting waktu dan tempat kota Bombay pasca kemerdekaan India yang dibintangi
aktris cantik Anushka Sharma, yang lagi – lagi kutonton berkat situs unduh
gratis beberapa bulan yang lalu. Soundtrack film itu benar – benar mengejutkan.
Jazz! dengan vocal khas India. Aku tidak terlalu suka jazz, meski sudah
menonton The Legend of 1900 dan Wiplash, tetap saja tidak terlalu suka.
Tapi setelah menonton Bombay Velvet,
rasaku terhadap Jazz, dan India sedikit berubah. Sangat menarik!
Aku kemudian ke toilet, buang air kecil, lalu
kembali ke bar. Sambil merokok dan menikmati kopi, diiringi lagu Jazz India
yang membahana ke setiap sudut ruangan aku memikirkan tentang mimpi itu. Masih
tetap bingung. Lalu tepat saat playlist itu memutar lagu yang dinyanyikan Neeti
Mohan berjudul Naak Pe Gusha, aku
teringat adegannya. Adegan di mana Anushka Sharma yang memerankan tokoh Rosy
Noronha, seorang penyanyi di klub itu tengah menyanyikan lagu itu di bak mandi,
juga menarik ketika pada penampilannya di klub itu, ia menggoyangkan pinggulnya
sedemikian rupa tepat beriringan bunyi terompet. Aku ingat dengan jelas
penggalan lirik lagu itu––entah seberapa tepat, diartikan ke dalam bahasa
Indonesia;
“Sembunyikan kalau bisa, pamerkan
saja kalau mau,
kemarahan
itu, sayangku, tak ada gunanya!”
Si barrista sudah
masuk ke dalam, bercengkrama dengan rekannya, kurasa. Saat aku menikmati lagu
itu, dan di tengah bayangan tentang adegan dan liriknya, entah apa yang
merasuki, aku merasa bahwa bukan hanya kemarahan, kita memang sulit
menyembunyikan apa saja yang kita rasa, dan tak ada gunanya menyimpannya, lebih
baik dikeluarkan, di bagi. Sialan! Dan sesaat itu pula aku mencondongkan
badanku ke arah laki – laki bermata kuning dengan bercak merah yang duduk di
sebelahku.
“Kau
tahu?” kataku. Ia menoleh, tersenyum, tapi tidak berkata apa – apa, agak lama,
aku kemudian melanjutkan, “Aku baru bangun kurang lebih satu jam yang lalu
seteah tidur tidak lebih dari 5 jam. Aku baru tidur sore ini, hampir 50 jam
sebelumnya kulewati dengan melek, tanpa tidur sedetikpun. Dua hari – dua malam
kulewati dengan menonton lagi film – film yang sudah kutonton berkali – kali,
membaca lagi Heavier Than Heaven, dan
mendengar musik di dalam kamarku yang berantakan. Sejujurnya sudah sebulan,
sampai hari ini aku tidak terkena sinar matahari.” ocehku panjang. Laki – laki
itu hanya mengangguk – anggukkan kepalanya. Ia menyeruput kopinya, membakar
rokoknya yang baru, kemudian ia mengubah posisi duduknya, menghadapkan tubuhnya
ke arahku. Ia tak berkata apa – apa. Pandangan matanya, seperti berbicara
mengatakan; “lanjutkan.”
Aku
menghisap rokokku, dalam. Bersamaan dengan hembusan nafas panjang yang begitu
lelah, asap rokok nyembul di hadapan laki – laki itu. Ia tak bergeming, tak
berkata apa – apa, hanya menatap ke arahku, tepat ke arah wajahku, matanya yang
kuning dengan bercak merah terus bergerak mengikuti wajahku––mengincar mataku,
kurasa.
Aku melanjutkan kembali. “Aku benar
– benar kacau bung, selama sebulan lebih aku mengurung diri di rumah, sendiri,
hanya keluar untuk makan ke rumah famili, itu pun di malam hari. Benar – benar
sebulan tanpa matahari. Aku tak mau bertemu dengan orang – orang yang kukenal,
dengan teman dan semacamnya! Mungkin karena aku benar – benar sedih, sedikit
malu, dan tentu saja muak dengan orang – orang yang kukenal.” Laki – laki itu
hanya menanggapi setiap kalimatku dengan mengangguk – angguk.
“Apa tadi aku memberi tahumu kalau aku baru bangun
setelah tidur hanya 5 jam?”
Tanpa kata – kata, ia hanya
mengangguk. Aku kembali bercerita.
“Sebelum datang ke sini, aku tertidur di kamar
berantakan, dan terperanjat tiba – tiba. Aku bermimpi bertemu dengan ayahku.
Selama belasan tahun, aku tak pernah mimpi bertemu dengannya, tak pernah
memimpikannya. Aku juga tak terlalu mengenalnya, aku masih kecil ketika ia
meninggal. Di satu sisi aku senang dengan mimpi itu, aku jelas senang bermimpi
bertemu beliau. Tapi di sisi lain, mimpi itu mengerikan! Itu tidur paling basah
sepanjang hidupku! Aku mandi keringat, lebih dari keringat yang kudapat dari
nguli atau bermain sepakbola. Aku juga bingung dengan pesan yang beliau katakan
dalam mimpi itu, dan dalam mimpi itu penglihatanku kabur, tak begitu jelas
sebenarnya siapa yang menolongku dan mengatakan sesuatu yang benar – benar
membuatku bingung. Aku hanya merasa..” aku terdiam sejenak, menyadari sesuatu,
dan menutup kalimatku, “..ia ayahku.”
Tepat ketika aku berhenti sebelum menutup
kalimat itu, aku teringat––sekali lagi dengan adegan dalam film Bombay Velvet, aku teringat adegan di
mana Joni Balraaj melatih aksen inggrisnya, sebab ia akan bertemu orang penting
sekelas walikota. Joni berlagak seolah berkenalan dengan seseorang, menjabat
tangan, menyebutkan nama, dan berkata “nice
to meet you”. Saat itu, seketika aku memahami maksud pesan dalam mimpi itu.
Aku meraih cangkir, menyeruput kopi, mengangguk
– angguk, kemudian menatap laki – laki bermata kuning yang juga mengangguk –
angguk.
“Aku bermimpi, dan dalam mimpi itu aku berada di
tanah lapang yang sangat luas, sepanjang mata memandang hanya rumput yang
kuning kering, di sana aku digebuk, dipukuli, dihajar habis – habisan dengan
bogem, tongkat bisbol, gagang sapu, kaki kursi, dan sebagainya oleh lebih dari
30 orang, oleh teman – temanku, kenalan – kenalanku, laki – laki dan perempuan,
bahkan di antara mereka ada banci, homo, dan lesbian. Mereka memukuliku di
tengah tanah lapang itu sampai babak belur, penuh luka bersimbah darah, lelah,
napas sesak, sedikit lagi mati. Mereka berhenti menghajarku ketika dari
kejauhan ada seseorang yang berjalan mendekat, dengan cahaya terpancar, dia
berkata tegas sekali “Hey! Tinggalkan anak itu sendiri.” seketika setelah suara
itu memecah gaduhnya orang – orang, mereka berhenti. Melihatnya berjalan
mendekat, orang – orang yang tadi menghajarku pergi.
Aku masih meringkuk, kesakitan bukan main,
begitu banyak nyeri, napasku begitu sesak, terengah – engah, begitu lelah.
Orang itu membalikkan badanku, mataku bengkak, penglihatanku kabur, dan tak
dapat melihat jelas siapa orang itu. Awalnya aku menyangka ialah yang
memerintahkan semua orang itu untuk menghajarku, kemudian ia akan membunuhku
setelah puas melihat penderitaanku. Tapi kemudian ia menenangkanku. Ia
menunduk, memegang erat bahuku, pada saat itulah aku mencoba membuka mataku
yang sedari tadi terus kupejamkan. Aku tak dapat melihat, mataku bengkak,
penglihatanku kabur, “Siapa orang ini?” pikirku dalam mimpi itu. Ia melepaskan
tangannya dari bahuku. Lalu ia berkata “Sabar. Kau hanya belum bertemu orang –
orang yang pantas kau berikan kalimat ‘senang berkenalan denganmu’ itu saja.
Bersabarlah sedikit lagi.” Dan pada saat itulah aku tersadar dari mimpi itu,
terperanjat, penuh keringat. Kemudian mimpi itu membayangiku sampai di sini, di
tempat ini, menikmati secangkir kopi, dan mendengar lagu soundtrack dari film
yang benar – benar membantuku memahami mimpi itu, dan bercerita kepadamu.” Aku
menghela nafas panjang. Meraih cangkirku, kemudian merokok lagi. Laki – laki
itu tersenyum dan menepuk – nepuk pundakku. Agak lama, si barrista muncul, si laki – laki bermata kuning dengan bercak merah
itu bangkit dan masuk ke belakang, ke toilet, kurasa. Aku bangkit dari kursi,
merogoh saku dan memberi selembar uang kepada si barrista. Selagi barrista itu
mengambil uang kembalian, ia bertanya,
“Kamu kenal dengan orang itu Jon?”
“Tidak.” aku menggeleng, dan duduk lagi lanjut
merokok.
“kamu ngomong apa sama dia?”
“hanya bercerita tentang mimpi aneh yang baru
kualami tadi.”
“kamu tahu kalau dia pepe[1]?”
Aku hanya ternganga,.. si barrista tertawa kecil. Dalam pikiranku terngiang bahwa biasanya
orang pepe juga torok[2].
Aku tanya apa orang itu juga torok kepada
si barrista, dan dia mengangguk, lalu
sambil tertawa kecil karena lucu, menyodorkan uang kembalian padaku. Sayang sekali, padahal aku berniat untuk
duduk lebih lama, berkenalan, dan bercengkrama dengan laki – laki itu, kurasa
dia pantas untuk diberi kalimat senang berkenalan denganmu. Sebab selama aku bercerita tadi, aku
merasa ia pendengar yang baik, sayang sekali ia tak bisa mendengar.
Laki – laki itu kembali dari toilet, kemudian
duduk kembali menikmati rokok dan kopinya. Kopiku sendiri sudah kuhabiskan, aku
masih merokok sambil memandangi laki – laki itu. “Sayang sekali” kataku, laki –
laki itu tak bereaksi, si barrista tersenyum
geli melihatku. Aku menoleh ke arah si barrista,
mematikan rokokku di asbak, bangkit, dan menepuk bahu laki – laki itu. Ia agak
kaget. Lalu aku meletakkan tanganku di dadaku––sedikit menepuk, ia
memperhatikan, aku mengangkat jempol, menunjuk dirinya, dan berkata;
“I am Joni. Nice to meet you!”
2016