Di Balik Itu Semua; Begitu Indah! - Live Review : The Boys
Di Balik Itu Semua; Begitu Indah!
Live Review : The Boys
21 lagu dibawakan oleh The Boys malam ini. Dibuka oleh tembang berjudul The Man Who Can’t be Moved. Lagu dari miliknya The Script itu menjadi pembuka yang tepat untuk acara bertajuk MLD Spot – Accoustic Night di Taman kota Samawa.
Bagi yang duduk dengan pasangannya, lagu ini mungkin biasa saja. Tapi bagi laki – laki yang tentunya di dalam hatinya masih menyimpan rasa sama mantan, orang – orang yang nggak move on, ini lagu kena’ banget! Lantunan keyboard-nya manis, tangis, meski lagu sedih, beat drum yang menghentak, dan bunyi bass yang bulat sexy lagu ini membuat orang bakal ikut sedikit bergoyang. Tapi kalau mendengar penampilan The Boys di pembukaan itu, orang – orang yang nggak bisa move on dari mantannya, nggak cuma bilang How Can I Move On when I’ve been in love with you? Seperti dalam lagu, tapi juga bilang How Can I Move On, If This song so pretty like you? Ya, petikan gitar dari Anchen, plus raungan biola Jaka, mengemong perasaan untuk larut ke kenangan terdalam yang bisa kamu ingat! Biola yang paling special, seperti kucing mengeong! membuat lagu ini jadi bener – bener bangsat! So, How Can I Move on when I’ve been in love with you?
Tajuk acaranya kurang tepat. Karena penampilan The Boys sama sekali nggak acoustic. Mereka main seperti biasa, hanya saja sambil duduk. Apalagi saat mereka memainkan lagu dari Robin Williams, Feel. Oh, siapa yang nggak pengen ikut nyanyi? Musiknya menghentak, menggugah rasa,. Sesuai sekali. I really just wanna feel real love, feel the home that I live in. satu yang pasti, beberapa saat saya berfikir; dan bilang I just wanna feel, more music on my fuckin weekend! Karena sedikit sekali hiburan buat kita di Sumbawa ini, kita ingin sedikit lebih banyak musik, pingin terbang!
Dan malam ini, The Boys menerbangkan kita! Saat mereka membawakan lagu keenam; Terbang dari The Fly. Denting keyboard lagu ini manis sekali, betotan bass-nya pas, sound gitarnya dinamis, hentakan drumnya tegas, menerbangkan rasa penat dari otak. Yang paling manis adalah suara Biola, yang setelah kau diterbangkan, mengajak mendarat dengan lembut. Suara biola itu adalah proses landing yang manis sekali.
Rockin Jazzy! Saat mereka membawakan Malam Biru dari Sandy Sandoro sebagai lagu ke7.
So damn romantic! Roman Picisan yang paling manis yang pernah terdengar di Sumbawa. Haha. Denting keyboard berdansa dengan alunan Biola, sesuai dengan lirik Aku berdansa di ujung gelisah diiringi syahdu lembut lakumu yang dinyanyikan dengan suara parau si Vocalis. Manis. Dengan penutup tangisan biola, manis.
Baby I Love Your Way dari Big Mountain jadi semakin manis mereka bawakan, tak lain karena suara biola.
Di balik semua itu, ada keindahan yang begitu indah. Underneath It All dari No Doubt mereka bawakan sangat sangat manis. Meski di bagian rap-nya si vocalis tak bernyanyi, itu ditutupi dengan permainan biola yang sangat baik, manis. Meski tak semanis yang dinyanyikan Gwenn Stefani, tapi tetap saja begitu indah! Seperti judul lagu yang mereka bawakan setelahnya, begitu indah milik band Padi. Lagu ini, mereka bawakan dengan baik, mengundang untuk ikut bernyanyi, dan itu yang kulakukan, ikut bernyanyi. Persetan dengan mereka yang sibuk mengobrol, yang tidak bisa mendengar keindahan musik The Boys.
Sedikit mendinginkan suasana ketika mereka menyanyikan Join Kopi dari Blackout. Memaniskan suasana orang – orang yang memang lagi berjoin kopi di Taman itu.
Finaly, orang – orang yang duduk di depan panggung ikut nyanyi dan sedikit menggoyangkan badannya. Sekumpulan orang tua itu ikut bernyanyi dan bergoyang saat The Boys memainkan Three little Birds dari Bob Marley. Yeah, everythings gonna be alright! Mereka tetap bernyanyi saat lagu berikutnya dimainkan. Lagu yang sangat sangat tidak asing! No Woman No Cry! Kau tahu suara khas dari musik No Woman No Cry kan? tapi bayangkan kalau dimainkan dengan biola!? Dan lagu itu semakin manis saja malam itu!
Di sayidan dari Shaggy Dog, musiknya sudah pasti ketahuan ketika intro. Tapi malam itu, sama sekali nggak dikenali. Alunan biola menyembunyikannya! Belum pernah kudengar aransemen di sayidan seperti itu sebelumnya. Musik yang kompleks! Reggae yang sudah dikawinkan sama rock. Alunan biolanya begitu manis, tapi yang buat enak tuh, instrument lain nggak ikut-ikutan manis. Tapi gentle!
Penutup yang manis dari The Boys, mereka memainkan Menghitung Hari dari Krisdayanti dengan si pemandu acara, Wiwin. Aransemen reggae menunjukkan karakter tersembunyi dari lagu ini. Selama ini selalu dan selalu, lagu ini identik dengan sedih nan mellow. Tapi malam ini, The Boys mengeluarkan karakter centil dari lagu ini. Bagaimana nggak centil, kalau si penyanyi bilang Pergi saja cintamu pergi, bilang saja pada semua, biar semua tau adanya, diriku kini sendiri. Itu centil.. mengatakan kejombloan itu centil, menggoda orang untuk datang mendekati.