Sambava menjawab The Beatles

Sambava menjawab The Beatles

            Sejak dirilis akhir tahun 2014 yang lalu, album ini memng menarik minat banyak orang. Dan sejak mendapatkannya di penghujung Januari lalu, sontak lagu – lagu dalam album ini jadi konsumsi pendengaran saya. Hits – Hits seperti Guar Tangar, Sambava, dan Panyomo, seperti yang saya ungkapkan dalam review album ini berisikan sebuah Manivesto Kebudayaan. Tapi lewat lagu yang satu ini, siapa sangka, ternyata kelompok musik Sambava menjawab salah satu karya The Beatles, yang sama – sama kita kenal sebagai salah satu kelompok musik paling besar yang pernah ada.

            The Beatles menulis sebuah lagu yang berjudul Don’t Let Me Down, yang isinya merupakan ungkapan isi hati seorang lelaki yang merasa begitu beruntung dicintai seorang wanita. Itu terungkap lewat lirik nobody ever love me like she do, uh she do, yeah! She do. Maka si lelaki memohon pada si perempuan; Don’t let me down, Don’t let me down! Ya, dia memohon pada si perempuan untuk jangan pergi meninggalkannya.

            Apa yang diungkapkan The Beatles itu dijawab oleh Sambava. Entah lagu ini tercipta karena terinspirasi oleh lagu Don’t Let Me Down atau tidak, tapi lagu ini benar – benar menjawab Don’t Let Me Down! Lagu yang berdasarkan synopsis dalam albumnya ini bercerita tentang seorang perempuan yang cantik rupawan, setia, penyabar, ikhlas, penuh kasih sayang, dan memiliki ketangguhan moral. Itulah Kemang Lala.

            Lagu berdurasi 6 menit 33 detik ini memberi harapan bagi ribuan lelaki baik yang ada di bumi ini. Ya, mendengar lagu ini para lelaki akan tumbuh harapannya akan seorang wanita terbaik. Tau lah perempuan jaman segeneeeeeee…

          Sejak mendapatkan album ini di penghujung januari lalu, dan mulai mengkonsumsi Kemang Lala, saya merasa ada yang berbeda dari lagu yang satu ini. Ini bukan soal musikalitasnya. Saya sama sekali tak terusik dengan musiknya, musiknya sudah top, pas banget dengan liriknya yang begitu manis. Secara ajaib, lagu ini bisa memadukan kebahagiaan dan bayang – bayang getirnya cinta dengan manis! Plus besarnya harapan, dan keseluruhan tentang cinta, ya suka duka diolah sedemikian rupa dan terdengar begitu manis.

            Yang membuat saya heran, tak lain adalah kemampuan song writer-nya menembus dimensi gender. What can I say? Genius! Ia yang seorang lelaki, mampu memasuki dimensi feminim, berkata kusayang kupendi nonda jangka ya kupendi, seolah dirinya wanita! Kok bisa??? Dengan tanda tanya besar saya bertanya – tanya, mengapa ia bisa menghidupkan sosok perempuan dalam lagu itu sementara dirinya adalah lelaki? Setiap kali mendengar Kemang Lala, saya selalu terheran – heran dan berkomentar; Gile bener! Bujug Buneng!dan semua kata yang menggambarkan bahwa karya ini kagak ade nyang jabanin, kata orang betawi.

So, di mana letak keterkaitan Kemang Lala dengan Don’t Let Me Down? Secara utuh, Kemang Lala menjawab Don’t Let Me Down, ya, secara utuh. Musikalitas Don’t Let Me Down begitu maskulin, dengarkan saja secara seksama, that’s masculine. Dan kemang Lala, sangat – sangat Feminim! Itu jawaban! Musikalitasnya menjawab, begitupun isinya, liriknya.

Bait pertama kemang lala; Suar mo Bulan lis/ Cahya tu sarapang Intan/ Panto kati Mega hanya sebuah lead, sebuah syair manis pengantar menuju kemanisan yang tiada tara.

Sejak Pangarap ko sia (Harapanku Padamu) / Saling Sayang saling pendi rasa (saling mengasihi-menyanyangi) / Maras tu barema (indahnya kebersamaan kita) sampai bagian bridge; Tutu si tutu si nonda giyer ate ko sia (sungguh tak ada keraguan padamu) ku sayang ku pendi nonda jangka.. ya kupendi (Kukasihi Kusayangi tiada hingga) adalah alasan mengapa The Beatles berkata ; Nobody ever love me like she do! Setiap lelaki akan sepakat dengan Beatles bila dicintai sedemikian rupa, seperti cinta si Kemang Lala oleh perempuan.

Dan tentu saja, reff Kemang Lala menjawab harapan/permohonan The Beatles; Don’t Let Me Down yang diucapkan berkali – kali, yang menandakan besarnya harapan itu.

Lirik Ku sakantap ate ku ko sia (kumantapkan hatiku padamu) / panyayang no si suret baroba (rasa sayang takkan padam) / lako sia nyaman ku parasa (bersamamu kurasa nyaman) / mana si ling badua (meskipun kau mendua) / rela si ate ku nonda su’ (rela hatiku tiada su’ –su’ bermaksud rasa sakit, rasa benci, rasa dendam bila diduakan, rasa ganjil dalam hati-)dan Lamin jangi ya dalam palangan  / nan mo rua ya no tu basai (pabila nanti kita tak dapat bersatu) / ku sarela ko Nene’ koasa / pati ajar ate ku sabar kewa ku rela si (kuikhlaskan pada yang kuasa, kuajar hatiku untuk rela dan sabar menerima) adalah jawaban atas permohonan Don’t Let Me Down tadi.

Don’t let me down, don’t let me down! adalah sebuah harapan, sebuah permohonan! Permohonan yang besar itu dijawab oleh reff Kemang Lala tadi; Kumantapkan hatiku padamu/ rasa sayang takkan padam/ bersamamu kurasa nyaman/ meskipun kau mendua/ rela hatiku tiada su’

Dan atas kemegahan cinta si kemang lala, the beatles sampai bilang, nobody ever love me like she do!


Terlepas dari apa yang dimaksudkan Iqbal Sanggo (song writer Kemang Lala), karyanya benar – benar menjawab apa yang diungkapakan The Beatles dalam Don’t Let Me Down. Sebuah karya yang tak hanya menembus dimensi gender, tapi juga menembus dimensi ruang, waktu, pemikiran, dan budaya.

Paling Jungkir Balik

Filsafat Tidur

Forever 27 Club; Chairil Anwar dan seorang lagi dari Indonesia

Semiotika SAMBAVA; Sebuah Manifesto Kebudayaan