Letter to Joni Lemot

Letter to Joni Lemot

Dear Joni Lemot,.

Hey Jon,.
Apa kabar? Kau tak membalas suratku yang pertama; tentang kebosanan, yang kedua; tentang ketidak pedulian, yang ketiga; tentang bagaimana semestinya kita bersikap sebagai teman seseorang, yang kesekian dan kesekian; tentang ini dan itu, dan yang terakhir, yang kutulis tentang Kota dan masyarakatnya yang begitu membosankan ini. Kau tak juga membalasnya Jon.
Aku rindu kau, rindu kedaimu yang keren itu, kau tahu lah,. Eating out our favorite spot, kata si Kartika Jahja. Ya! lagu Days of War Night of Love dari Navicula itu kan ditulis oleh Kartika Jahja, Jon!
Hey,. besok kalau aku ke kedaimu, aku mau bernyanyi Jon, boleh kan? Kemarin aku menonton Inside Llewyn Davis, film yang terinspirasi dari kisah hidup seorang musisi folk, yang menurutku bahkan lebih keren dari Bob Dylan. Aku lupa namanya, Dave Von Risk, David Van Reich, atau apa.. aku lupa. oh ya, Dave Van Ronk. itu namanya. Hanya saja dalam film itu ia direkonstruksi menjadi Llewyn Davis. Oscar Issac yang memerankannya. Dia keren Jon, Oscar Issac itu. Kau harus tonton.
Dan aku mau menyanyikan lagu folk yang dinyanyikan oleh Llewyn Davis itu!
Dia menyanyikan lagu itu di Gaslight Café, keren! Judulnya Hang Me, oh Hang me.

Apa kedai begitu ramai, Jon? Sudah banyak yang tampil di sana? Sebab itu kau tak sempat membalas surat – suratku? Kau tahu, aku disibukkan dengan urusan kuliah Jon, sebab itu aku tak bisa ke tempatmu. Dan karena tak lagi ke tempatmu Jon, aku sangat – sangat sakau; suplai nikotin dan cafein berkurang.
Haha.. kau tahu lah,. All you need is do it kan?

Hey Jon,.
Siang ini aku menonton Dokumenter berjudul For No Good Reason, mengangkat kisah seorang Kartunis Inggris, Ralph Steadman yang pernah bekerja sama dengan Hunter S Thompson, sampai William S Borrouh. That’s awesome. Yah, menggugah kekaguman kita, fikiran kita, perasaan kita, dan tentu saja menginspirasi.
Saat aku menonton film itu, aku jadi terinspirasi untuk membuat buku, bercerita lewat tulisanku dan didukung gambar, mungkin juga pakai foto. Aku sedikit bisa menggambar, tentu saja, abstrak! Hahaha.. and I don’t have a fuckin camera. Shit!

Kau tahu Jon, saat aku menonton film itu, di rumah lagi ramai. Abangku datang dengan istri dan anaknya. Kau tahu, keponakanku menonton tv, memainkan lego, dan semuanya saja. Lalu abangku memanggilku. Aku hentikan filmnya, dan menyembelih ayam. Lalu kulanjutkan lagi menonton film.
Saat aku tengah asyik menonton, keponakanku menangis.
Tulisan ini Jon, kutulis setelah aku sadar bahwa tangisannya itu sudah terjadi selama lebih dari 27 menit., dan itu masih berlanjut saat aku mulai menyadari kalau hal itu bisa menjadi sebuah kisah yang unik, dan kemudian aku bertindak untuk segera menulisnya.

Alvito, Keponakanku yang berumur 6 tahun, menangis karena ayam betinanya disembelih siang itu. Bisakah kamu bayangkan? Alvito menangis selama 40-an menit hanya untuk seekor ayam betina. Ya, ayam betina! yang tentu saja setiap hari dipelihara dan dirawat, entah dengan cinta atau tidak. I don’t know, apakah bocah – bocah mengerti cinta atau tidak. Tapi kalian tentu berfikir bahwa mereka, bocah – bocah yang terkadang bahkan tak peduli dengan ingus yang mengalir dari hidungnya mengerti tentang itu,. tentang cinta. Coba fikir, dan fikir kembali, kelakuan mereka, pada teman, pada orang – orang di sekitarnya, there’s no hate. Tak ada rasa benci.
Dan Alvito kecil memelihara ayamnya, entah apa dia mengerti tentang cinta, tapi itu, ia merawat ayamnya, memberinya makan di pagi hari dengan sisa – sisa nasi semalam. Kemudian membiarkannya bermain, mematuk – matuk apa saja yang ia anggap layak dimakan, kemudian saat sore, menjelang maghrib, Alvito menggiringnya untuk masuk ke kandang. Alvito melakukan semua itu, itu sebuah cinta! Kemudian kematiannya ayamnya ia tangisi selama 40-an menit tanpa henti, setiap Alvito coba diredakan oleh ibunya, ia membantah, ia tak mempedulikan rayuan ibunya untuk menghentikan tangisannya. Ia membantah, dengan nada marah sambil menangis, ia tersedu – sedu, di tengah isak tangisnya yang sedu, “kuda semele ayam saya” katanya berbahasa Samawa yang tidak tepat. “kenapa ayamku disembelih,.. huuuu.. huuuu..” sesalnya sambil memeluk bantal gulingku yang lebih besar dari dirinya.
“ajan sopo bae ya semele.. hu.. hu..” | “coba satu saja yang disembelih..”
Kau tahu? Ayam itu kami sembelih tanpa sepengetahuannya, ayam itu kami sembelih saat ia tengah asyik menonton serial kartun BoBoiBoy.
I Can’t Imagine !!!
Do You Can Imagine ?
“histerisnya,.. bagaimana kalau besok kamu sudah besar, terus punya pacar, dan pacarmu mati, bagaimana tangismu besok?” kataku menghampirinya. Tentu saja ia tidak mengerti kalimat itu, dan memang dia bahkan tidak memperhatikanku. Ia begitu mendalami kesedihannya, memeluk bantal guling dengan isak tangisnya. Kau tahu, kata – kataku tadi membuat Ibu Alvito, dan Bibiku yang tengah menyiapkan bumbu plecing untuk ayam itu tertawa, terkekeh – kekeh kecil dengan senyum.. Mereka yang dewasa sudah tentu mengerti akan besarnya cinta yang ada dalam diri bocah itu. “Ee.. anak’ke.. goyo yak’m tebilin mate isiq beraye’m lemaq lat..” kata Ibu Alvito dalam bahasa Sasak, yang berarti “duhai anakku, bagaimana jika kelak kau ditinggal mati oleh kekasihmu?” sambil tersenyum dan tawa kecil. Aku pun begitu, merasa hal itu sesuatu yang luar biasa. Tertawa kecil, kagum.
Tangisan Alvito masih terus berlanjut, sampai ayahnya yang tengah memperbaiki pagar menegurnya dengan nada memperingatkan; “Vito.. op dah nangis ee..”
Vito tak berhenti, masih terus menangis sedih. Sampai akhirnya ayahnya masuk ke dalam rumah, meninggalkan apa yang dikerjakan dan menghampirinya, merayunya untuk berhenti menangis, dan menggendongnya. Ia masih belum berhenti. Dan ayahnya berusaha untuk mengajaknya berdialog;
“eh.. eh.. lihat bapak ne.. besok kita beli kambing, patik (pelihara) kambing abang ya.. besar kambingnya..”
Dan si kecil Vito mulai focus pada percakapan itu, dengan sisa – sisa isaknya ia berucap dalam Samawa;
“kenang apa moh mangannya?” | “pakai apa kasih makan?”
Sambil tertawa kecil, ayahnya menjawab; “rumput toh, abang yang gembala ya..”
Dia dipanggil abang, karena dia anak pertama dan ia punya adik perempuan berumur 4 tahun. Panggilan itu tentu untuk mencontohkan adiknya untuk memanggilnya abang.
“pakai rumput ya.. apa gembala bapak?”
“gembala itu nati, alo iring ko dalam orong leng abang na!” yang artinya “abang yang menggembalai kambingnya, mengiringnya ke area persawahan.”
Setelah rayuan itu, rayuan untuk menggembala kambing itu barulah si kecil Vito berhenti menangis.

You know Jon, kejadian ini terjadi saat banyak anak – anak di Palestina, dan anak – anak di timur tengah sana kehilangan ibu, ayah, saudara, dan teman – temannya akibat senjata, dan ledakan bom punya Israel, ISIS, dan kelompok – kelompok radikal aneh yang membantai dan menyakiti orang atas nama agama, atas nama kebangsaan, atas nama Negara, dan atas ah.. Assssuuu!
I mean, I really don’t know what they feel..!
Bagaimana tangisan bocah – bocah di sana? I can’t Imagine!

Dan Jon, aku tak tahu mengapa aku menulis ini.
I just can’t imagine if Little Vito grow up, and meet somebody, a girl, a woman, and he fall in love with that girl, live together for a month, a year, and more. And if the girl die, what will happen with Vito?
Maksudku, bagaimana tangisnya jika seekor ayam saja bisa ia tangisi sedemikian ? Bagaimana tangisnya bila esok kekasihnya yang mati? Bagaimana? 
Tak bisa kubayangkan! Sungguh!

Dan Jon, kau tahu.. saat sore mulai tumbang, saat ayam sudah dipanggang dan dibumbui dengan bumbu plecing, uh.. bau pedas yang sedap itu mengundang selera. Dan  Tentu saja si kecil Vito, dengan adiknya, sepupunya, dan paman kecilnya, setelah puas bermain ingin makan, dan mereka diberi daging ayam yang digoreng tentunya dengan bumbu yang tak pedas untuk disantap.
Dan saat bocah – bocah kecil itu menyantap ayam goreng itu, bibiku berkata pada si kecil Vito; “abang ito.. itu yang abang tangisi tadi, dan sekarang abang makan.” Orang – orang dewasa kemudian tertawa, dan si kecil Vito hanya diam, mungkin tak mengerti maksudnya, dan lanjut mengunyah si ayam yang tadi ia tangisi.
Heu heu heu..

Hey Jon, saat aku berfikir, mencari kalimat yang tepat dan mungkin sedikit manis untuk mengakhiri tulisan ini, aku bingung,. Kuperhatikan layar laptop yang belum lunas, membaca ulang tulisan singkat ini, kemudian berfikir lagi sambil memperhatikan tombol – tombol di keyboard.
Aku mendapatkannya, ya, kalimat untuk mengakhiri ini.
Kalimat itu adalah;
Ingin kucopot huruf “F” dari tombol Sift di keyboard laptopku, sebagai simbol untuk kata Fuck, yang tentunya akan kuberikan pada setiap orang di dunia ini yang tak mengerti cinta, yang mempermainkan cinta, yang menyia-nyiakan cinta, yang ah.. tak bisa memberi cinta pada orang yang mencintainya, dan juga untuk diriku sendiri, yang sama sekali tak mengerti cinta.
Fuck You and Fuck Me.

Siang sampai Sore
 Room of Crack


Plackeinstein

Paling Jungkir Balik

Filsafat Tidur

Forever 27 Club; Chairil Anwar dan seorang lagi dari Indonesia

Semiotika SAMBAVA; Sebuah Manifesto Kebudayaan