KONSPIRASI INFORMASI

Konspirasi Informasi

*
Manuel Castells menuangkan pandangannya tentang munculnya masyarakat, kultur, dan ekonomi yang baru dari sudut pandang yang juga baru terkait perkembangan teknologi informasi (Televisi, Komputer, Internet, dll). Dalam pandangannya, revolusi teknologi informasi ini mengakibatkan restrukturisasi fundamental dalam sistem kapitalis. Hal itu ialah apa yang disebut oleh Castells sebagai Kapitalisme Informasional yang kemudian memunculkan istilah Masyarakat Informasi. Kemunculan dua fenomena itu didasarkan pada Informasionalisme, yakni suatu mode perkembangan di mana sumber utama produktivitas terletak pada optimalisasi penggunaan faktor – faktor produksi berbasis pengetahuan dan informasi.
Melihat kondisi pada decade 1980-an yang menunjukkan kemunculan ekonomi informasional global baru yang menguntungkan, Castells melihat ekonomi di bidang ini bersifat informasional karena produktivitas dan daya saing (keuntungan) dari unit – agen – pihak yang menggeluti ekonomi  ini pada dasarnya sangat bergantung pada kapasitas mereka (para pelakunya/unit-agen) untuk menghasilkan, memproses, dan mengaplikasikan pengetahuan dan informasi dengan cara yang efisien.
Pendapat Castells tentang Kapitalisme Informasional dan Masyarakat Informasi dari hemat saya sangatlah tepat. Melihat fenomena di Indonesia yang mana semenjak runtuhnya orde baru, media – media mulai bermunculan lalu kemudian membesar dan beranak pinak. Sebut saja MNC Media yang berawal dari RCTI kini menggurita melebar ke jenis media yang beragam, dari televisi (RCTI, Global TV, MNCTV, dan beragam Channel di TV berbayar) melebar ke media cetak (Koran Sindo) hingga ke media online (Okezone.com). Selain MNC Media, masih ada Viva News, belum lagi dominasi Jawa Post group, Tempo Media group, Kompas, dan lainnya.
**
          Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi yang mengakibatkan munculnya masyarakat, kultur, dan ekonomi baru seperti yang diungkapkan Castells. Yang kemudian memunculkan Kapitalisme Informasional dan Masyarakat Informasi, dalam hemat saya bukan tidak mungkin melahirkan Konspirasi Informasi. Di era Global ini, kita mungkin akan setuju bahwa siapa yang menguasai media, ia yang akan punya pengaruh besar. Hal ini disebabkan oleh kemampuan media menyebar informasi secara luas dengan begitu cepat.
Ini bisa ditinjau lewat bagaimana Sub-Kultur – Sub-Kultur Amerika berhasil mencapai Popularitas yang luas dan kemudian memiliki pengaruh yang besar di masyarakat Global. Sebut saja Sub-Kultur Rock n’ roll yang mulai populer pada era Elvis Presley lewat rekaman – rekaman piringan hitam, yang kemudian mempengaruhi John Lennon di Liverpool, Inggris. John Lennon yang kemudian membentuk grup The Beatles pun tak kalah hebat, rekaman – rekaman musik mereka populer ke seluruh dunia. Berkat media, The Beatles pun menguasai skena musik dunia yang kemudian menyebabkan beralihnya ‘kiblat’ para penikmat musik dunia ke Britania Raya. Di kalangan pecinta musik, keberhasilan The Beatles yang disusul The Rolling Stones, The Animal, Cream, dan lainnya ini dikenal sebagai British Invasion. Di era ini, kepopuleran The Beatles didukung dan dimanfaatkan juga oleh para pegiat film yang kemudian membuat film yang dimainkan para personil The Beatles; A Hard Days Night. Beralihnya kiblat musik dunia ke Inggris dibuktikan juga oleh merantaunya Jimi Hendrix yang merupakan musisi Amerika ke London, inggris. Hal ini dikarenakan masih banyak pengkotak-kotakan musik di Amerika. Berbeda dengan di Inggris yang kala itu musik populernya telah mencampur baurkan beragam genre.
Hingga saat ini, musik populer cenderung mengacu pada Industri musik Amerika dan Inggris. Inisiasi para pegiat musik di Amerika mendirikan Rock n’ roll Hall of Fame Museum dan Grammy Awards, adalah langkah cemerlang untuk mencondongkan kembali acuan musik dunia ke negeri Paman Sam. Belum lagi langkah media yang memang mengkhususkan diri ke soal musik, MTV. MTV berhasil mengorbitkan band – band lokal Seattle dengan jenis musik yang khas (Grunge) mencapai Popularitas Global di awal decade 1990-an lewat hits Smells Like Teen Spirit dari band Nirvana. Awal dekade ini sontak menjadi milik Nirvana dan band – band beraliran Grunge dari Seattle lainnya seperti Pearl Jam, Sonic Youth, Soundgarden, dll.
Lalu di manakah letak Konspirasi yang tadi dikemukakan?
Pertama, Media seperti MTV berhasil melebarkan sayap ke berbagai penjuru dunia, bahkan Indonesia. Dengan menjamurnya Channel MTV di berbagai negara, mereka kemudian memutar video – video klip dari band – band Amerika, dengan begitu hits – hits musisi dikenal, dan para penonton yang suka akan membeli rekaman – rekaman luar negeri, Label rekaman pun mendapat keuntungan baru dengan terbukanya pasar baru. Eksport – Import karya seni musik dan film adalah bentuk kerja sama bisnis yang bisa menguntungkan Kapitalis sekaligus menambahkan pendapatan Negara.
Langkah MTV ini pun masih tergolong baru. Jauh sebelum MTV muncul, majalah Rolling Stone sudah merebak ke berbagai penjuru dunia sejak era Generasi Bunga (Gelombang Protes Perang Vietnam) yang pada edisi perdananya menampilkan foto close – up John Lennon mengenakan helm tentara Amerika dan mengulas bagaimana Lennon menolak Perang Vietnam dengan Kampanye War Is Over serta lagu Imagine dan Give Peace a Chance.Indonesia juga tak lepas dari jaringan majalah ini, sejak tahun 2005 Rolling Stone Indonesia mulai terbit hingga sekarang. Pada awalnya, Rolling Stone hadir di amerika sebagai alternative berita bagi kalangan muda, yang mana pilihan bagi kaum saat itu tidak memiliki sumber berita yang focus kepada minat mereka. Namun kini, bukan tidak mungkin hal ini merupakan langkah untuk tetap melanggengkan popularitas musik Amerika. Tentu dengan cara mengorbitkan band – band baru serta melestarikan popularitas musisi – musisi yang sudah tiada. Tahun ini terbukti bagaimana Universal bekerja sama dengan HBO merealisasikan Film Dokumenter Kurt Cobain (RIP)  sekaligus merilis Album solo Kurt Cobain sebagai soundtrack. Hal ini menjadi topik utama di Rolling Stone, baik Amerika maupun Indonesia.
Kedua, Produsen kebutuhan sehari – hari seperti pakaian, sepatu, bahkan makanan pun ikut mendapat keuntungan lewat populernya ikon – ikon musik. Bagaimana Converse dan Flannel yang ikut populer bersama Grunge, kemudian hingga saat ini mendominasi pengaruh fashion anak – anak muda, bahkan ke desa – desa seperti Batu Alang. Kecurigaan akan Konspirasi ini bahkan terlihat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi #85 bulan mei 2012. Di mana Rolling Stone mengulas langkah KFC yang ikut berkecimpung ke dunia musik dengan merilis Album kompilasi hits – hits populer; KFC Music Hit List. Dengan mengaktualkan KFC Music Hit List kepada pembacanya, pembaca akan tergerak untuk membeli albumnya.
Mungkin berlebihan jika saya berasumsi seperti ini. Tapi, pertanyaannya kemudian kenapa musik seperti Djangger Bali, album yang digarap musisi Jazz Indonesia Jack Lesmana & Tony Scott dari Amerika yang memadukan musik Jazz dengan musik – musik tradisional yang apik itu tidak terlalu populer jika dibandingkan dengan rilisan Punk The Sex Pistols atau The Ramones? Memang musik soal selera. Tapi selera itu dibentuk oleh lingkungan, yang mana kekuatan media ada di situ yakni membentuk opini publik. Kemudian Dangdut, jika dibandingkan dengan Grunge, Dangdut sudah lebih dulu ada. Ia pun memiliki cirri khas yang sangat otentik. Tapi kenapa hingga saat ini belum bisa sepopuler Brit-Rock atau Brit-Pop milik inggris, Hip – Hop/Rap, Grunge, dan musik lain dari Amerika? Atau Jamaican Sound (Ska, RockSteady, Reggae) yang berhasil populer lewat Bob Marley? Nah, Fenomena terbaru seputar ini adalah bagaimana Korea berhasil mempopulerkan K-Pop lewat pasukan Boyband-Girlband mereka, lalu fenomena Gangnam Style dari Psy (juga dari Korea) yang berhasil populer lewat Internet. Lalu kapan musik khas Indonesia bakal mendunia? Langkah Rhoma Irama mencoba menyebarkan Dangdut di Amerika dengan melakukan tour ke negeri itu patut diapresiasi. Sayang hanya ditonton segelintir kalangan, yang memang sudah suka dangdut dari awal. Tapi pengaruh Rhoma Irama dan Dangdut di Amerika sudah mulai ada, hanya saja masih sekedar di kalangan Komunitas. Jika di Indonesia musik – musik seperti Grunge cenderung berputar di kalangan Bawah Tanah, sementara Dangdut merupakan musik populer. Di Amerika justru terbalik, Dangdut bergerak di kalangan bawah tanah, sementara Grunge Populer.
***
Konspirasi Informasi sepertinya benar terjadi di Kalangan yang disebut Manuel Castells sebagai Kapitalisme Informasional. Hal ini seperti yang dijelaskan di atas bahwa media – media mengorbitkan konten – konten hingga populer, untuk kemudian unsur – unsur dari konten yang sudah populer ini bisa dimanfaatkan pihak lain untuk mendapat keuntungan. Juga tak kalah penting adalah untuk menjadi acuan. Dengan Populer dan kuatnya pengaruh, hal itu akan menjadi acuan bagi konsumen global, seperti yang terjadi dengan musik Inggris, Amerika, dan Korea. Hal ini tidak hanya terjadi di sektor buudaya seperti musik saja, tapi juga politik. Bagaimana kita di Indonesia memakai system Demokrasi yang seperti Copy-Paste gaya Amerika; One Man One Vote. Bukankah Indonesia punya Demokrasi Pancasila? Sila Ke-4 Pancasila.

Lalu apakah Indonesia ingin memiliki pengaruh yang kuat secara Global? Jika iya, apakah dengan berkonspirasi mempopulerkan Dangdut? Atau mungkin sudah dilakukan? Batik yang diplot sebagai Warisan Budaya Dunia oleh Unesco, apakah ini sebuah konspirasi? Jika ini bukan bagian Konspirasi, mengapa tidak didaulat sejak lama? Dan mengapa hal itu baru dilakukan setelah isu pengakuan batik oleh Malaysia sebagai warisan budaya mereka yang isunya begitu gempar? Apakah Malaysia ikut di dalam Konspirasi ini? Wallahu’alam…

Paling Jungkir Balik

Filsafat Tidur

Forever 27 Club; Chairil Anwar dan seorang lagi dari Indonesia

Semiotika SAMBAVA; Sebuah Manifesto Kebudayaan