Mengeluhkan Album Solo KURT COBAIN
Mengeluhkan Album Solo
KURT COBAIN
MONTAGE OF HECK ; THE HOME RECORDINGS
“Hey! Wait! I’ve got a new complaint!!!”
Alasan saya membuka tulisan ini dengan penggalan lirik lagu Heart Shaped Box milik Nirvana, bukan karena saya tidak punya diksi yang memadai untuk menulis. Melainkan semata - mata saya punya keluhan baru yang muncul karena mendengar berita bakal dilirisnya album solo dari mendiang Kurt Cobain.
Keluhan Pertama;
Busset dah! Orang yang telah lama mati (kata Ebiet G Ade) bisa ngerilis Album musik! Yang masih sehat wal ’afiat malah tak kunjung produktif. Giliran produktif, tapi semangat karya-nya gak ada. Tau sendiri kan band – band mainstream di industri musik sekarang ini seperti apa, there’s no spirit.
Keluhan Kedua;
Duit lagi buat Courtney Love! Ya jelas toh, sebagai janda-nya Kurt Cobain, royalti atas karya – karya Cobain jelas masuk ke kantongnya, kalau tidak ya anaknya yang cakep, dan beberapa persen jelas buat label yang merilis.
Sebenarnya ini sih bukan masalah yang patut dikeluhkan, dan jujur saya tidak mengeluhkan perihal jatah royalti buat Courtney Love, toh saya ini senang pake banget mendengar suara Courtney Love yang serak – serak sexy. Suaranya ‘yang paling sexy’ ialah saat ia membawakan lagu Suami-nya, You Know You’re Right yang diutak atik abis di acara MTV Unplugged. Mengalahkan yang katanya ‘Makhluk Tuhan Paling Sexy’!
Kok malah membahas Courtney Love!?
Kembali ke titik masalah; Courtney Love tidak masalah, meski beberapa orang memandang hak Courtney Love atas royalti karya Kurt Cobain menjadi sebuah masalah. Padahal masalahnya ada di mereka; ‘salah kaprah’ menggilai Kurt Cobain!
Masalah yang saya keluhkan adalah label! Memang ya, Kapitalis tidak pernah kehabisan akal buat nyari untung. Padahal tahun 2013 yang lalu In Utero sudah dirilis ulang sebagai perayaan 20 tahun rilisnya album penuh ke-3 Nirvana.
Merasa masih kurang (mungkin), Lagu – lagu Kurt Cobain yang berupa rekaman iseng yang ia rekam di rumah, dipoles lagi dengan kualitas rekaman tinggi.
Seperti dilansir situs Rolling Stone Indonesia, Album bertajuk Montage of Heck: The Home Recordings ini dibuat dengan dua edisi, Reguler (13 track) dan Spesial (31 track). Edisi Spesial album inilah yang menjadi Soundtrack Film Dokumenter Cobain: Montage of Heck kemarin.
Edisi Reguler hanya memuat lagu penuh milik Kurt Cobain. Sementara Edisi Spesial juga memuat karya lain seperti rekaman demo, spoken word, hingga lagu penuh. Album ini bakal dirilis tanggal 13 November ini melalui bendera label Universal Music dalam bentuk CD, Kaset, hingga Digital.
Bisa dibayangkan kan keuntungan dari album ini nantinya bagi label? Kalau bicara hak, ya mereka berhak. Tapi mari memandang masalah ini di luar perkara hak-kewajiban.
Logikanya, kalau bagi mereka (label) hal ini (album yang notabene-nya rekaman rumahan era 90-an) tak bakal memberikan keuntungan bagi mereka, tak akan mungkin mereka mau menggarap project ini. Dan karena mereka sudah repot melakukan ‘permak abis!’ pada track – track itu, bukan tidak mungkin mereka bakal pasang harga yang cukup tinggi, sebab mereka jelas cari untung. Kan bukan lembaga non-provit!
Kalau memang niat mereka tulus ingin memberikan pelepas dahaga bagi fans Kurt Cobain, kenapa tidak dilakukan di tahun 2000-an awal, saat Charles R Cross merilis Buku Biografi dari Kurt Cobain, Heavier Than Heaven !?
Dalam rentang tahun 2000 – 2010, mereka tak kunjung melakukannya. Kenapa? Padahal Buku Biografi Cobain yang ditulis Charless R Cross itu Best Seller di Amrik sana. Dan dalam buku itu jelas termuat segala hal tentang Cobain, jangankan cuma info tentang rekaman – rekaman pribadi Cobain, isi otak sampai isi kolornya saja ada!
Kenapa? Oh, pihak label baru tahu setelah ada rencana tentang proyek film Montage of Heck… Bullshit!
Montage of Heck bagi saya cuma visualisasi dari Heavier Than Heaven ! Sepertinya Brett Morgen (Film Director Montage of Heck) risetnya cuma di sekitar Heavier Than Heaven, plus ngandelin akses video – video pribadi Kurt Cobain dari dokumentasi keluarganya. Apalagi dia menggandeng Frances (anak Kurt) sebagai tim dalam Film itu. Pendapat saya masih mending, Buzz Osborne, pentolan The Melvins yang merupakan kawan Kurt Cobain bahkan men-cap Montage of Heck sebagai Bullshit! [Rolling Stone Indonesia - website]
Film ini bagi saya tidak bisa menangkap apa yang tidak ditangkap Charless R Cross dan dituangkan ke dalam Heavier Than Heaven. Secara visual mungkin oke, tapi secara konten; no! terlebih film ini jenis documenter, kalah telak dengan film PJ20 – Dokumenter 20 tahun perjalanan Pearl Jam, yang berhasil menampilkan Pearl Jam dengan fantastis. PJ20 bahkan berhasil menampilkan Kurt Cobain dari sudut pandang berbeda yang khas!
Kembali ke perkara kenapa label tidak merilis rekaman – rekaman amatir Cobain sedari dulu – kenapa baru sekarang ? Karena mereka sadar bahwa fans – fans Kurt Cobain – Nirvana yang dulu, pada masa – masa itu (2000 – 2010) masih pada muda dan belum mapan. Hitung – hitungan biaya, mereka jadi bimbang buat merilisnya, takut malah merugi. Lagipula, kerinduan akan Nirvana terobati dengan Foo Fighters. Sekarang, fans – fans Cobain – Nirvana yang dulu jelas udah pada mapan, jadi kalau dirilis pasti bakal laku.
Sepertinya, rilis ulang album In Utero pada peringatan 20 tahun In Utero adalah percobaan. Kalau tidak, kenapa tak ada 20 tahun Bleach, atau 20 tahun Nevermind, yang mana sangat jelas bahwa Nevermind adalah album yang menjadi tonggak kepopuleran Nirvana (bahkan Grunge) ?
Ditambah lagi dengan kembali menggaungnya nama Nirvana dengan momentum kolaborasi dengan Paul McCartney, yang pada sebuah acara amal 12-12-12 membawakan lagu baru berjudul Cut Me Some Slack.
(maaf saya tak tahu apakah lagu ini sempat digarap di dapur rekaman atau tidak)
Format Paul McCartney-Krist Novoselic-Dave Grohl itu mengingatkan kembali orang – orang akan Nirvana yang dulu (dengan Cobain).
Nirvana kembali mengemuka secara luas dengan momentum diinduksi-nya band ini ke Rock n’ Roll Hall of Fame Museum di tahun 2013 bersama dengan band Kiss, dan lainnya.
Nirvana tampil di Rock n’ Roll Hall of Fame Museum dengan beberapa musisi sebagai pengganti Kurt Cobain. Uniknya, 4 orang yang menggantikan posisi Kurt Cobain seluruhnya perempuan; Joan Jett, Kim Gordon, St. Vincents, dan Lorde.
Momentum – momentum itu kembali mengingatkan orang akan Nirvana – Cobain. Sebab memang, Foo Fighters dan Nirvana adalah sesuatu yang berbeda. Kerinduan akan Nirvana-khususnya Kurt Cobain kembali dirasakan orang – orang, dan inilah yang dimanfaatkan label untuk mendapatkan keuntungan; merilis album solo Kurt Cobain.
Tracklist Montage of Heck; The Home Recordings
1. The Yodel Song
2. Been a Son
3. The Happy Guitar
4. Clean Up Before She Come
5. Reverb Experiment
6. You Can’t Change Me / Burn My Britches / Something in The Way
7. Scoff
8. Desire
9. And I Love Her
10. Sappy
11. Letters to Frances
12. Frances Farmer Will Have Her Revenge In Seatlle
13. She Only Lies
NME melansir bahwa Dua track dari album ini bakal dibuat dalam format piringan hitam tujuh inci dan akan rilis awal Desember nanti. Dua track itu adalah Sappy dan And I Love Her, hits milik The Beatles yang di-cover oleh Cobain. Tuh kan, jual dua nama besar sekaligus!
Dari kedua keluhan tadi muncullah lagi keluhan baru
Keluhan Terakhir;
Kenapa harus merilis album Kurt Cobain kalau toh nantinya format fisiknya tidak dipasarkan di Sumbawa? Paling mentok dipasarkan di Jakarta, atau kota metropolitan lain di Indonesia. Kalau lu pada mau beli, rogoh kocek lebih dalam buat ongkir (ongkos kirim), dan yang paling utama siapkan kocek yang benar – benar dalam buat album ini. Sebab yang dijual adalah nama besar Kurt Cobain, bukan karya. Logika saja, Kurt Cobain jelas tahu mana karya-nya yang layak ia bawa untuk digarap bersama produsernya di studio, dan mana karya yang iseng – iseng ia kerjakan sebagai pengisi waktu senggang-nya di tengah guyuran hujan yang membuatnya terperangkap dalam rumah di Seattle sana. Bagaimana?
Lagipula, berdasarkan asumsi saya, target pasar album ini bukanlah penggemar Kurt Cobain yang kenal dia lewat CD Nevermind, CD MTV Unplugged yang merupakan koleksi paman/kakak, lewat Game Guitar Hero, atau lewat Internet.
Sederhananya, targetnya adalah fans – fans lama Nirvana, bukan fans baru seperti saya. Sebatas asumsi sih.
Untuk menutup tulisan ini, alangkah baiknya apabila anda sekalian tidak terlalu banyak mengeluh, sebab setiap keluhan berpotensi menimbulkan keluhan – keluhan lain yang bisa berakibat pada keluhan yang tiada henti.
Kayak yang saya alami ini, awalnya 2 keluhan, jadi muncul lagi. [plack2015]