Rock To Freedom - Review SASB V
ROCK TO FREEDOM
Review Sopo Ate Saleng Beme V (2015)
Setelah nyembur ke Gigs kemarin, sebenarnya ada rasa ragu untuk mereview event musik tahunan yang diinisiasi oleh Sumbawa Indie Music Movement ini. Pasalnya ada cukup banyak perasaan “aneh”yang saya pribadi rasakan. Tapi karena saya sudah berkomitmen untuk menulis musik, ya mau tidak mau saya harus menuliskannya. Apapun itu! Peduli setan lah ya orang mau ngomong apa, toh setan aja tidak peduli saya nak tulis apa.
Sopo Ate Saleng Beme Chapter V tahun 2015 ini bertemakan Rock to Freedom. Acara dibuka sejak sore hari, sejak Dita & Ontenk yang bertindak sebagai MC mulai ngoceh di atas panggung. Sedikit catatan, meminjam istilah “anak-anak sekarang”, penampilan Dita bisa dibilang “boleh lah”buat debutnya membawakan acara musik, sayang masih terlalu Poppies. Ini nih yang jadi pertanyaan saya sejak lama, entah kenapa, kebanyakan MC cenderung Poppies. Kenapa tidak menyesuaikan sama tema acara? Misalkan acara Reggae, you better act with reggae soul. Begitu juga dengan tema lain. Sebagai MC, mestinya sekaligus bisa acting.
Mengambil lokasi di kawasan Yos Sudarso Sumbawa, acara dibuka oleh penampilan Aretha. Rockin Now! Diiringi musik yang disuguhkan Aretha, anak – anak Sumbawa Skateboarding meluncur dengan papan –papan mereka, memainkan trik – trik yahud di depan panggung. Sumbawa Visual Art punya space di lokasi event berlangsung. Mereka memamerkan karya –karya Art Visual yang menarik di lokasi yang disediakan pihak panitia untuk pengunjung yang mau ikutin kuis selfie di sosmed. Tidak ketinggalan space dari Clothingan **** (sensor) yang juga merupakan pendukung acara ini bersama Sponsor *** (sensor), Indie Home PT.Telkom, *** (sensor), Dewan Kesenian Sumbawa, dan lainnya. Lapak mereka cukup laris di acara kemarin. Tidak sedikit pengunjung yang mampir dan memboyong t-shirt dan barang –barang yang mereka jual.
Sore hari belum terlalu ramai, penampilan Say Goodbye to Yourself dan Skating Everyday setelah Aretha, seolah cuma sebagai pengiring para Skater “mencumbui”board-board mereka. Mungkin karena tahu sore hari bakal tidak cukup ramai inilah beberapa band yang berdasarkan urutan List harusnya tampil di awal acara seperti I Still Stand, D’Junkissme, dllmalah absen sore itu, entah hal ini disengaja atau tidak. Say Goodbye to Yourself dan Skating Everyday yang namanya di belakang pun harus main di awal.
Setelah “maghrib break”suasana mulai ramai. Penonton yang sudah memadati lokasi langsung dihajar dengan penampilan Aretha (lagi). I Still Stand yang tampil setelah Aretha menaikkan tempo acara dengan baik, meski belum bisa membuat suasana jadi hiruk-pikuk. Baru setelah Defamation tampillah Penonton jadi riuh, hiruk pikuk-nya luar biasa... mungkin kalau Maia Estianty hadir di sana, dia bakal membaiat penampilan Defamation ini dengan jargon “PECAH!!”nya.
Permainan dengan Distorsi gitar yang apik, gebukan drum yang sangar, total Hardcore! Dan yang paling penting itu si Vokalis Derry berhasil membuat hiruk –pikuk penonton yang sudah pecah, jadi lebih pecah lagi dengan mengobarkan flare di atas panggung.
Sontak penonton semakin riuh. Headbang, slam dance, lompat –lompat, ada juga yang ternganga-nganga, oh semuanya saja. What can I say? Defamation was rock you!
Sontak penonton semakin riuh. Headbang, slam dance, lompat –lompat, ada juga yang ternganga-nganga, oh semuanya saja. What can I say? Defamation was rock you!
Sepultura Reborn in Sumbawa? Pastinya tidak! Hanya saja, malam kemarin Reborn mengcover Sepultura dengan mantap. Setelah Reborn, kerumunan penonton boleh mundur dari depan panggung, tapi yang jelas tidak menyurutkan rasa kenikmatan mereka menikmati suguhan musik blues dari D’junkissme Blues. Well, Permainan gitar dari gitaris Ryan Slash dan Angga Abun malam itu seperti membelai belai tubuh. Entah pada orang lain, tapi bagi saya, musik yang mereka suguhkan benar –benar membelai. Baik itu di lagu pertama ketika mereka membawakan Mars D’Junkissme maupun di lagu kedua ketika mengcover I don’t Need doctor dari John Myer. Terbuai dengan penampilan mereka malam itu sama halnya dengan terbuai kalau mendengar Scorpions, dibelai dan terbuai, tentu dengan cara, dan tempo belaian yang berbeda. Ditambah dengan performa Vocalisnya, Donnie dengan vocal yang khas dan cukup berkelas, serta Aksi Panggung yang Full Entertain, benar –benar menghibur penonton. Whatever, the point is D’Junkissme Was Kiss You Peoples!
| REBORN |
| D'Junkissme |
Setelah terbuai dengan Blues, penonton jadi rada males. Sehingga bunyi –bunyian “New Rock n’ Roll” yang keluar dari alat –alat di atas panggung didengar dengan cara males pula. Padahal Chylzea tampil cukup apik dengan Vokalis baru, Zulziyatul. Format mereka berbeda saat menggarap rekaman hits This Is Rock n’ Roll beberapa bulan lalu. Penampilan cewek yang akrab disapa Dung ini tidak kalah baik dari vokalis lama mereka, hanya saja masih rada canggung.
Bunyi drum yang digebuk Dee-tha pun terdengar menghentak mantap, meskipun tampang drummer ini tergolong manis.Betotan bass Shelly juga tak kalah sexy dari dirinya sendiri. Sekilas, jadi ingat Krist Novoselic, pembetot bass Nirvana. Loh kok bisa? Bass dan Shelly. Krist Novoselic itu main bass, nama cewek yang menemaninya semasa di Nirvana dulu Shelly. Jadi terlintas dah di otak saya. Akibat terbuai blues, penonton jadi ber-headbang dengan cara santai; sembari duduk. Biar sambil duduk, yang penting Keep Rockin!
Pasca Chylzea, kaum adam malam itu disapa lagi oleh cewek cakep. Kalau sekedar cakep mungkin belum membuat anda kepincut, tapi kali ini Novi, vokalis Hello Dicks menyapa dengan gayanya; sing for us. Musik Rock dengan olah vocal yahud yang powerfull dibalut aksi panggung yang santai. Kehadiran Novi, yang merupakan cewek satu-satunya di band ini sekilas mengingatkan akan Cokelat. Hello Dicks malam itu membawakan hits mereka berjudul Kita Bisa dan Let it go dari Demi Lovato.
Two Days Holiday berhasil membangkitkan lagi ‘kegaduhan’ malam itu. Membawakan dua single mereka berjudul SADA & Aku adalah Aku, mereka berhasil membangkitkan penonton yang sebelumnya mulai loyo. Disambut penampilan kembali Say Goodbye to Yourself dengan 2 nomor cadas, membuat suasana penonton semakin menjadi –jadi riuhnya. Tak terkendali dan sempat sedikit ricuh, beruntung pihak keamanan bisa mengamankan beberapa biji pembuat onar. Hal seperti bisa dibilang wajar, mengingat selalu adanya ritual “pogo”para penonton setiap perhelatan musik-musik hard-rock. Begitulah cara mereka mereka menikmati musik, tapi tetap saja tindakan over yang bisa menyulut emosi dan memicu pertikaian dan kerusuhan tidak bisa ditolerir. Sebab kalau ribut bin ricuh, acara bisa dibubarkan kampret! Mestinya jangan over! Untung saja acara masih bisa dilanjutkan malam itu, jadi Return to Despair yang main berikutnya pun bisa menyuguhkan Deathcore mereka. Shinigami yang datang jauh –jauh dari Lombok naik ke atas panggung setelah Return to Despair. Suasana penonton yang masih panas tadi nyaris memicu kericuhan lagi, untungnya tidak, sehingga Shinigami masih bisa melanjutkan permainan mereka malam itu.
Sejak ricuh yang bisa terkendali tadi, saya rasa banyak kecemasan tergambar di wajah –wajah panitia, anggota band yang belum main dan para penonton yang masih ingin menikmati musik. Kecemasan terbukti saat Mr.Thodes yang tampil apik hanya memainkan 1 lagu. Well tak sedikit yang kecewa.
| Shinigami on Stage |
Saat nama Abeman dipanggil MC untuk main, penonton riuh. Sayang kekacauan lain terjadi, alat –alat jadi kacau, soundman kelimpungan, cukup lama mereka mempersiapkan diri. Penonton yang sudah tidak sabar goyang, akhirnya bisa bergoyang diiringi tembang Republik Sulap milik Tony Q. well, 1 lagu ini mungkin sudah cukup buat penikmat reggae malam itu, pasalnya Abeman memanjangkan lagunya 2x lipat. Entah itu ekspresi kekecewaan mereka atau apa, yang jelas selalu ada dua sisi di setiap cerita.
Penampilan Thedemit menjadi penutup malam itu, membawakan tembang Janin, Thedemit menutup SASB dengan pas. Entah berkesinambungan atau tidak, ini seperti mewakili penegesan dari semua musisi bawah tanah Sumbawa yang menolak untuk digugurkan dari skena musik. Apa radio –radio lokal sudah memutar lagu mereka? Atau malah terus mempopulerkan musik mainstream?
Meskipun SASB sudah ditutup Thedemit, saya belum bisa menutup tulisannya, pasalnya beberapa band tidak bisa tampil di event kemarin. KDCD, BRISIK, Broken Heart Without Sin, Drug Stone, dan Boom To Rock tidak bisa tampil terkendala batas waktu. Kenapa ini terjadi? Saya sendiri belum meminta konfirmasi panitia, tapi dalam hemat saya ini terjadi sebagai akibat dari sikap Band-Band pengisi acara. Sebagaimana yang diwanti –wanti panitia di Rundown Performance yang terpampang di lokasi; Jangan SOK NGARTIS dan DISIPLINlah. Masih banyak band yang SOK NGARTIS dan TIDAK DISIPLIN.
Dipanggil sore hari tidak ada, giliran datang sudah malam, minta dimainin sesuai list lagi. Padahal panitia sudah mewanti – wanti kalau tidak ada saat dipanggil MC, bakal dipindah ke akhir. Ini yang buat jadwal jadi kacau.
Panitia mau tegas juga kan masih punya “LENGE RASA”, maklum kita di Sumbawa ini masih kental sama LENGE RASA. Mirisnya, yang diLENGE RASA oleh panitia malah SOK NGARTIS. T**k juga sih. Entahlah, panitia juga kenapa nggak bersikap tegas saja sekalian, biar yang SOK NGARTIS bisa sadar.
Apa mungkin karena di Sumbawa “Budaya Kritik –mengkritik belum cukup populer”, tidak sepopuler “Budaya menggunjing, membicarakan orang di belakang”dan lainnya.
Akibatnya, mind-set kita – kita ini (termasuk saya) jalan di seputar itu –itu saja. Ini jelas sebuah Stereotype, tapi fakta juga membuktikan bahwa ini ada.
Tulisan ini saya dedikasikan untuk semua insane musik di Sumbawa, dari Pemusik, penikmat, sampai ke pihak – pihak seperti sponsor dan Event Organizer, sebagai bahan renungan.
Yang menarik, melihat band – band di skena musik Populer Sumbawa yang mulai menjamur ini mengingatkan saya akan pernyataan Chris Cornell dalam film PJ20 (PEARL JAM TWENTY) mengenai kedekatan band – band seattle di era awal kepopuleran Grunge. Cornell menyebut bahwa Johnny Ramone heran melihat band – band Seattle yang sangat dekat satu sama lain, bagi ia (Johnny) itu sangat berbeda dengan kondisi di New York yang satu sama lain “saling sikut”.
akan condong ke mana musisi – musisi sumbawa? Seattle or New York?
Mau Sopo Ate Saling Beme kayak Seattle, silahkan..
Mau Sopo Ate Saling Peme kayak New York, silahkan..
Intinya, kalau memang masih sulit menyatukan ate yang beda genre, ya blak –blakan saja ngomong, atau kalau bisa saling kritik aja sekalian, jangan lenge rasa tapi malah saling selenge di belakang.
Ntar kalau sudah pada nyadar buat sopo ate saling beme di antara keberagaman baru dah nyatu lagi.
Sudahlah…yang penting SASB tahun ini udah dihelat, mari berharap SASB tahun depan bisa digelar dengan lebih baik lagi, dan event –event lain bisa muncul ke depannya.